"Mumpung masih di sini, beli sekalian aja."
Apakah kalian merasa familiar dengan kalimat di atas? Ya, itu adalah kata-kata yang sering kali keluar saat kita sedang belanja di supermarket.
Beberapa waktu lalu, saya sebenarnya tidak ada rencana belanja. Tapi tiba-tiba kakak saya bilang, "Mampir beli tissue, ya. Yang di rumah sudah habis." Kebetulan saat itu, kami sedang berada di depan salah satu supermarket yang cukup populer di Kota Kediri. Saya mengiyakan. Mampirlah kami ke sana. Saya masuk ke dalam, sementara kakak saya menunggu di luar—menjaga motor agar tak perlu bayar parkir. Dia mengirim pesan berisi beberapa barang titipan yang ingin dibeli.
Saya pikir, "Oke. Kita beli tissue, sama yang ada di daftar titipan aja." Tapi begitu keranjang sudah berada di tangan, tangan saya malah mengambil beberapa snack yang tidak masuk dalam daftar. Beralih ke rak mie instan, saya ambil beberapa bungkus. Pindah lagi ke rak tissue dan sabun cuci, saya masukkan beberapa di antaranya ke keranjang. Dan yang ada di pikiran saya saat itu: "Sekalian aja deh, bisa bayar pakai QRIS kok."
Apakah Sobat Yoursay pernah punya pengalaman serupa?
Jika dipikir-pikir, hal seperti ini sangat mungkin terjadi pada siapa saja yang sedang berbelanja. Banyak orang datang dengan membawa daftar belanja yang dirasa sudah sesuai dengan kebutuhan. Namun, begitu sampai di toko, daftar itu sering bertambah tanpa terencanakan sebelumnya. Pemikiran-pemikiran seperti: "mumpung lagi di sini", "nanti juga kepakai", "sekalian buat stok di rumah", atau "daripada besok balik lagi" kerap kali muncul tanpa bisa kita hindari. Dan keputusan membeli sesuatu yang tidak termasuk dalam daftar belanja awal biasanya terasa kecil dan tidak berbahaya.
Dari sisi psikologi, manusia memang cenderung memilih cara yang terasa lebih praktis. Kita suka dengan segala sesuatu yang terasa lebih efisien dan menghemat waktu juga tenaga. Karena itu, membeli barang tambahan menjadi sering terasa sebagai keputusan yang logis.
Padahal jika kita pikirkan kembali, barang yang kita beli dengan dalih "sekalian saja" itu belum tentu benar-benar kita butuhkan. Mungkin kita pernah membeli camilan karena sedang lewat rak makanan, beli minuman karena terlihat enak dan menarik, hingga membeli stok berlebihan hanya karena takut kehabisan.
Tanpa kita sadari, sebenarnya supermarket dan minimarket memang dirancang untuk itu. Mereka sengaja menempatkan produk-produk menarik di dekat kasir, memberikan promo bundling, diskon jika beli lebih banyak, hingga susunan rak yang ditata sedemikian rupa agar pelanggan membeli lebih banyak dan bisa meningkatkan keuntungan. Dan akhirnya, keputusan impulsif muncul begitu kita masuk ke dalam toko.
Selain itu, teknologi saat ini seolah turut mendukung kebiasaan konsumtif. Banyak orang sudah mengantisipasi belanja impulsif dengan membawa uang tunai yang terbatas. Tetapi di zaman sekarang, ini terasa sulit. Karena kita tidak harus menghitung jumlah uang tunai dulu saat berbelanja. Selama saldo dan aplikasi m-banking tersedia, kita hanya perlu scan QR untuk menyelesaikan transaksi dalam hitungan detik.
Ketiadaan wujud uang tunai di tangan kita, membuat rasa "kehilangan uang" menjadi lebih samar. Akibatnya, setiap kali belanja, kita merasa lebih ringan membeli segala sesuatu yang tidak direncanakan sebelumnya. Ada pikiran yang sulit untuk kita hindari: "nggak apa-apa, bisa pakai QRIS, tinggal scan aja." Padahal faktanya, ya, sama saja. Pengeluaran tetap terjadi.
Di titik ini, yang mungkin perlu kita sadari adalah bahwa pengeluaran besar sering kali tidak datang sekaligus, tetapi berasal dari banyak pengeluaran kecil yang dianggap sepele. Dari yang awalnya hanya Rp10.000, lalu bertambah Rp20.000, Rp30.000, hingga akhirnya jumlahnya jauh lebih besar daripada yang kita rencanakan.
Keputusan belanja impulsif tidak selalu lahir dari keinginan membeli barang mahal. Kadang, ia muncul dari kalimat sederhana yang terdengar masuk akal: "sekalian aja". Kalimat tersebut memang tidak selalu salah. Namun, jika terlalu sering diikuti tanpa pertimbangan, mungkin yang bertambah bukan hanya isi keranjang belanja, melainkan juga pengeluaran yang sebenarnya tidak pernah kita rencanakan. Sebab dalam banyak kasus, musuh terbesar saat berbelanja sebenarnya bukanlah harga barang yang mahal, melainkan keputusan-keputusan kecil yang terasa terlalu mudah untuk dibenarkan.
Baca Juga
-
Sedotan Kertas Makin Banyak Digunakan, Benarkah Lebih Ramah Lingkungan?
-
Gen Z Tak Lagi Mengejar Jabatan Tinggi: Kurang Ambisi atau Lebih Realistis?
-
Review Teach You a Lesson: Drama yang Menampar Realitas Dunia Pendidikan
-
Sampah Plastik Dibakar untuk Memasak: Solusi Murah atau Ancaman Diam-Diam?
-
Menyoal Budaya Flexing di Media Sosial: Takut Miskin atau Takut Tak Terlihat Sukses?
Artikel Terkait
-
Dompet Hitam Benarkah Paling Mendatangkan Rezeki? Ini Maknanya Menurut Feng Shui
-
Kelola Transaksi, Begini Caranya Agar UMKM Bisa Pisahkan Dana Bisnis dan Pribadi
-
Kue Ketan Politik dan Jeritan Dompet Rakyat di Tengah Badai Inflasi 2026
-
BRI Hadirkan QRIS Cross Border BRImo di China, Permudah Transaksi Nasabah di Luar Negeri
-
4 Cara Mengelola Pengeluaran Bulanan agar Saldo Dompet Digital Lebih Hemat dengan ShopeePay
Kolom
-
Harga Pertamax Naik, Rakyat Kecil Kini 'Dipaksa' Olahraga Gratis di SPBU
-
Detoks Digital: Cara Jitu Menghilangkan Kecemasan Akibat Godaan Promo Online
-
Ketika Kampus Negeri Tak Lagi Ramah bagi Kelas Menengah
-
Ironi Subsidi Silang: Saat Stabilitas Negara Dibayar dengan Air Mata Rakyat Kecil
-
Fenomena Pernikahan Artis di TV dan Prioritas yang Patut Dipertanyakan
Terkini
-
5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik 2026, Hasil Foto Sosmed Makin Estetik
-
Motorola Edge 2026, Smartphone Compact Premium dengan Sentuhan Elegan dan Kamera Sony
-
Sinopsis Two Faces of Thatri, Drama Thailand Terbaru Pon Nawasch di Netflix
-
Bye-Bye Mata Panda! 4 Eye Cream Korea Ini Bikin Area Mata Makin Cerah
-
Ulasan Gintama: Yoshiwara in Flames, Aksi Spektakuler Tsukuyo dan Gintoki