Kita sering mendengar nasihat untuk melupakan masa lalu. Sayangnya, bagi banyak penyintas trauma, melupakan bukanlah perkara memilih. Pikiran mungkin berusaha mengubur pengalaman menyakitkan, tetapi tubuh memiliki cara sendiri untuk mengingatnya.
Jantung berdebar tanpa sebab yang jelas, tidur terganggu, mudah panik, sulit mempercayai orang lain, atau selalu merasa waspada meski berada di tempat yang aman. Inilah gagasan utama yang diangkat Dr. Bessel van der Kolk dalam buku The Body Keeps the Score: Otak, Pikiran, dan Tubuh dalam Pemulihan Trauma.
Pertama kali terbit pada 2014, buku setebal sekitar 504 halaman ini menjadi salah satu karya paling berpengaruh dalam bidang psikologi trauma. Van der Kolk bukan sekadar akademisi, melainkan psikiater yang telah menghabiskan puluhan tahun mendampingi para penyintas trauma.
Mulai dari veteran perang, korban kekerasan dalam rumah tangga, penyintas pelecehan seksual, hingga anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan.
Isi Buku
Trauma tidak hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi juga terekam di dalam tubuh. Selama bertahun-tahun, trauma sering dipahami sebagai masalah pikiran. Jika seseorang sudah bisa menceritakan pengalaman pahitnya, dianggap proses penyembuhan telah berjalan. Namun Van der Kolk menunjukkan bahwa kenyataannya jauh lebih kompleks.
Ketika seseorang mengalami peristiwa yang sangat mengancam, otak memasuki mode bertahan hidup. Sistem saraf bekerja keras melindungi diri sehingga sebagian ingatan bisa menjadi kabur atau bahkan hilang. Meski demikian, tubuh tetap menyimpan sensasi takut, tegang, dan rasa tidak berdaya yang muncul saat kejadian itu berlangsung.
Akibatnya, seseorang bisa bereaksi seolah bahaya masih ada, padahal ancaman telah lama berlalu. Suara keras, aroma tertentu, atau situasi yang mengingatkan pada masa lalu dapat memicu respons panik. Tubuh bereaksi lebih cepat daripada pikiran.
Van der Kolk juga menjelaskan bahwa trauma tidak hanya memengaruhi emosi, tetapi dapat berdampak pada kesehatan fisik. Stres berkepanjangan memengaruhi hormon, sistem imun, hingga fungsi organ.
Sejumlah penelitian menunjukkan hubungan antara trauma yang tidak terselesaikan dengan berbagai masalah kesehatan, seperti gangguan tidur, nyeri kronis, penyakit jantung, gangguan pencernaan, bahkan meningkatnya risiko depresi dan kecemasan. Bukan berarti semua penyakit berasal dari trauma, tetapi pengalaman traumatis memang dapat memengaruhi cara tubuh bekerja dalam jangka panjang.
Kelebihan dan Kekurangan
Salah satu bagian paling menarik dari buku ini adalah pembahasan mengenai proses penyembuhan. Van der Kolk berpendapat bahwa pemulihan trauma tidak cukup hanya melalui pendekatan top-down, yaitu berbicara atau mengubah cara berpikir melalui psikoterapi. Pendekatan itu tetap penting, tetapi perlu dilengkapi dengan pendekatan bottom-up, yakni membantu tubuh merasa aman kembali.
Karena itulah buku ini membahas berbagai metode yang kini banyak digunakan dalam terapi trauma. Salah satunya adalah EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing), terapi yang membantu otak memproses kembali pengalaman traumatis sehingga tidak lagi memicu respons emosional yang sama kuatnya.
Selain itu, Van der Kolk juga mengulas manfaat latihan pernapasan, yoga, meditasi, neurofeedback, hingga seni pertunjukan dan bermain peran sebagai sarana mengekspresikan emosi yang selama ini terpendam.
Yang menarik, penulis tidak mengklaim bahwa satu metode cocok untuk semua orang. Setiap penyintas memiliki pengalaman dan kebutuhan yang berbeda. Pendekatan terapi harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu serta dilakukan bersama tenaga profesional yang kompeten.
Rekomendasi Pembaca
Van der Kolk menyertakan banyak hasil penelitian ilmiah, penjelasan tentang cara kerja otak, serta kisah nyata pasien yang cukup emosional. Beberapa bagian terasa padat dan membutuhkan konsentrasi tinggi. Namun justru kombinasi antara data ilmiah dan pengalaman klinis membuat isi buku terasa kuat dan meyakinkan.
Hal lain yang patut diapresiasi adalah cara penulis menghapus stigma terhadap penyintas trauma. Ia mengajak pembaca memahami bahwa respons seperti mudah marah, sulit percaya, atau selalu cemas bukanlah tanda kelemahan karakter. Dalam banyak kasus, respons tersebut merupakan mekanisme bertahan hidup yang dahulu membantu seseorang melewati situasi berbahaya. Masalah muncul ketika mekanisme itu terus aktif meski ancaman sudah tidak ada.
The Body Keeps the Score bukan hanya buku tentang trauma, melainkan tentang harapan. Van der Kolk menunjukkan bahwa luka psikologis memang dapat meninggalkan jejak yang dalam, tetapi bukan berarti tidak bisa dipulihkan. Dengan memahami bagaimana otak, pikiran, dan tubuh saling terhubung, proses penyembuhan dapat dilakukan secara lebih utuh.
Buku ini mengingatkan kita bahwa manusia bukan sekadar kumpulan pikiran atau emosi, melainkan kesatuan tubuh dan jiwa. Dan ketika tubuh akhirnya merasa aman kembali, di situlah harapan untuk benar-benar pulih mulai tumbuh.
Identitas Buku
- Judul Asli: The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of TraumaJudul
- Penulis: Dr. Bessel van der Kolk
- Penerbit: Elex Media Komputindo
- Tahun Terbit: Maret 2025
- Tebal: 508 halaman
- Genre: Non-fiksi, Psikologi, Kesehatan Mental, Pengembangan Diri
Baca Juga
-
Memeluk Diri di Seri Chicken Soup for the Soul, Saat Hidup Terasa Berat
-
A Painted House: Kisah si Kecil Luke dan Takdir yang Tak Selalu Memihak
-
Review Buku 'Pertama, Sayangi Dirimu Lebih Dahulu': Kecil Langkahnya, Besar Dampaknya
-
Ketika Negara Lebih Sibuk Memberi Makan daripada Pastikan Anak Bisa Belajar
-
Stop Romantisasi Orde Baru: Membaca Ulang Krisis 1998
Artikel Terkait
-
Bukan Sekadar Buku Anak, 'Dad' Menggambarkan Sisi Kompleks Seorang Ayah
-
Dari Lelucon Erotis hingga Arisan Valas: Sisi Lain Kaum Borjuis Tempo Dulu
-
Memeluk Diri di Seri Chicken Soup for the Soul, Saat Hidup Terasa Berat
-
Review Buku 'Pertama, Sayangi Dirimu Lebih Dahulu': Kecil Langkahnya, Besar Dampaknya
-
A Painted House: Kisah si Kecil Luke dan Takdir yang Tak Selalu Memihak
Ulasan
-
Review The Legend of Kitchen Soldier: Ketika Memasak Menjadi Senjata Terbaik
-
Ulasan The Good Bad Mother: Menggugat Warisan Luka dalam Relasi Ibu dan Anak
-
Belajar Jadi Anak Besar dengan Cara yang Lucu dalam Buku Loops
-
Bukan Sekadar Buku Anak, 'Dad' Menggambarkan Sisi Kompleks Seorang Ayah
-
Memeluk Diri di Seri Chicken Soup for the Soul, Saat Hidup Terasa Berat
Terkini
-
Rilis 24 Agustus! NCT 127 Siap Comeback dengan Full Album Terbaru, BLINGY
-
Menyelimuti 55 Juta Ton Sampah dengan Geomembrane: Solusi Darurat atau Bom Waktu Berbahaya?
-
Dua Sisi Kebijakan Prabowo: Antara Ambisi Ekonomi dan Matinya Perhatian pada Pendidikan
-
Kulit Auto Cerah dan Glowing, Cek 5 Wash-Off Mask Andalan untuk Kulit Kusam
-
'Less Than A Lover' Puncaki Chart Musik Dunia, Jennie Perkokoh Karier Solo