Lintang Siltya Utami | Ukhro Wiyah
Teach You a Lesson (IMDb)
Ukhro Wiyah

"Saya melakukan ini untuk kebaikan kalian."

Kalimat di atas beberapa kali muncul dalam drama Teach You a Lesson. Setelah menggagas terbentuknya Biro Perlindungan Hak Pendidikan, menteri pendidikan Korea Selatan memperoleh banyak protes dari masyarakat. Banyak orang menilai penggunaan kekerasan sebagai tindak pendisiplinan murid telah melanggar hak asasi manusia. Masyarakat menilai cara yang digunakan oleh tim biro tersebut terlalu ekstrem.

Kalimat serupa juga diucapkan oleh Menteri Pendidikan Choi Gang-seok, tokoh yang diperankan oleh Lee Sung-min. Ia menyatakan bahwa biro tersebut ia bentuk demi kebaikan para murid. Meski banyak pihak menganggap langkah tersebut diambil untuk membalas dendam atas kematian putrinya, Choi Gang-seok menegaskan bahwa biro itu dibentuk untuk melindungi hak murid dan guru agar proses belajar dapat berlangsung dengan nyaman.

Di salah satu episodenya, seorang guru menyampaikan klaim serupa. Hukuman fisik yang ia lakukan mungkin tidak seekstrem tim biro bentukan Choi Gang-seok. Namun, tindakannya juga menunjukkan respons terhadap perilaku tidak hormat yang dilakukan siswi tersebut kepadanya. Ia mengakui bahwa memang tidak seharusnya ia melakukan hal seperti itu.

Namun, karena merasa nasihat lisan tidak lagi efektif, sang guru akhirnya memilih tindakan lebih tegas yang ia klaim sebagai bentuk kepedulian. Hal itu ia lakukan karena ingin semua murid dapat belajar dengan tenang dan nyaman agar dirinya juga dapat menjalankan perannya sebagai pendidik dengan baik.

Jika kita pikirkan lebih jauh, klaim tersebut sebenarnya cukup masuk akal. Bagaimanapun seorang guru memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk membimbing muridnya menjadi pribadi yang lebih baik. Di sisi lain, guru juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan perhatian, perlindungan, serta menunjukkan kepedulian kepada anak didik—yang dalam artikel ini saya sebut sebagai "bahasa cinta".

Namun, apakah tindak kekerasan dapat dibenarkan untuk menunjukkan "bahasa cinta" guru kepada muridnya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu mengingat kembali perbedaan antara tindakan yang mendidik dan menghukum. Dalam mendidik, seorang guru memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki perilaku dan mengajarkan konsekuensi. Jika murid melakukan kesalahan, konsekuensi yang diberikan harus relevan dengan perilaku yang dilakukan. Untuk menerapkan konsekuensi yang mendidik, guru perlu menjaga kondisi emosional agar tetap tenang, terkontrol, dan objektif. Dengan demikian, murid diharapkan mampu bertanggung jawab atas pilihannya.

Sementara itu, tindakan menghukum mempunyai titik fokus yang berbeda. Tindakan ini lebih cenderung memberikan efek jera melalui rasa sakit atau malu. Guru memberikan hukuman kepada siswa atas dasar amarah atau frustrasi. Sanksi yang diberikan pun sering kali tidak proporsional dan tidak berkaitan dengan kesalahan murid. Akibatnya, murid dapat merasa terintimidasi.

Sebagai penonton Teach You a Lesson, saya mengakui bahwa metode yang diterapkan Na Hwa-jin dan timnya cukup efektif dalam memberikan efek jera melalui konsep "pendidikan tanpa batasan". Namun, mengingat metodenya yang cukup ekstrem, wajar jika langkah tersebut menuai protes dari berbagai pihak. Sebenarnya, sebelum menjatuhkan "hukuman", Biro Perlindungan Hak Pendidikan telah mencoba memberikan peringatan secara lisan kepada para "pelaku". Tetapi ironisnya, sebagian pelaku justru meremehkan peringatan tersebut sehingga biro memilih langkah lain yang dinilai melanggar hak anak di bawah umur.

Saya pribadi tidak membenarkan adanya kekerasan dalam dunia pendidikan, baik yang dilakukan oleh guru maupun murid. Namun, seperti yang kita tahu, nasihat lisan saja terkadang tidak cukup untuk membuat seseorang menyadari dan bertanggung jawab atas kesalahannya. Dalam situasi seperti ini, guru tetap perlu menunjukkan ketegasan melalui konsekuensi yang mendidik, proporsional, dan relevan dengan perilaku murid. Dengan begitu, wibawa guru dapat tetap terjaga tanpa mengabaikan hak seluruh murid untuk belajar dengan aman dan nyaman.

Lebih jauh, kita perlu mengingat bahwa "bahasa cinta" seorang guru kepada muridnya tidak selalu berbentuk hukuman fisik. Ketegasan dalam mengajar juga bisa menjadi bentuk kepedulian guru dalam menjalankan perannya sebagai pendidik. Memang, dalam beberapa kasus, ketegasan guru masih kerap disalahartikan sebagai bentuk kebencian. Namun, ketegasan diperlukan agar guru dapat menjalankan perannya secara profesional tanpa kehilangan wibawa di hadapan murid.

Di sisi lain, ini pun menjadi dilema bagi guru. Ketika guru menegakkan disiplin secara tegas, tak jarang tindakannya disalahpahami sebagai bentuk kebencian atau perlakuan yang terlalu keras. Sebaliknya, ketika guru memilih untuk tidak menegur perilaku yang keliru demi menghindari konflik, mereka justru dianggap melakukan pembiaran.

Oleh karena itu, guru dan orang tua perlu membangun komunikasi yang baik. Sebab meskipun guru berkewajiban mendidik anak di sekolah, orang tua juga mempunyai tanggung jawab yang sama ketika anak berada di rumah. Sementara itu, untuk melindungi hak seluruh warga sekolah, dunia pendidikan memerlukan sinergi dan dukungan yang kuat antara guru, orang tua, dan pemerintah.

Dalam dunia pendidikan, "bahasa cinta" seorang guru tidak selalu hadir dalam bentuk pujian atau kelembutan. Terkadang, kepedulian hadir dalam bentuk aturan, batasan, dan konsekuensi yang mendidik. Sebab tujuan akhir pendidikan adalah membantu murid bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, bertanggung jawab, serta memahami konsekuensi dari setiap tindakan yang mereka lakukan, baik selama masa belajar maupun di masa depan.