Sekar Anindyah Lamase | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Belanja (magnific/aleksandarlittlewolf)
Ukhro Wiyah

Sobat Yoursay, apakah kalian pernah membeli barang secara ecer karena merasa uang yang dikeluarkan jadi lebih sedikit?

Sebagai seseorang yang hidup dengan keterbatasan ekonomi, hal seperti itu terasa sangat normal dilakukan di keluarga kami. Misalnya, membeli sampo sachet, sabun cuci, pewangi yang semuanya dalam kemasan kecil dan dibeli satuan. Tidak jarang, kami juga membeli barang yang harganya murah tanpa memperhatikan kualitasnya. Yang terpenting adalah bisa digunakan pada saat itu.

Apakah itu karena kami tidak membutuhkan lebih untuk hari esok? Tentu tidak, untuk besok kami akan membeli lagi dengan pola yang sama. Sedikit demi sedikit. Bukan karena masalah gaya hidup, tetapi sebab keterbatasan anggaran yang ada pada saat itu.

Hal semacam ini sepertinya juga banyak dialami oleh keluarga dengan kondisi ekonomi yang serupa. Keterbatasan membuat mereka kesulitan membeli sesuatu dalam jumlah besar dan mereka pun tidak memiliki dana cadangan yang cukup untuk membeli barang berkualitas tinggi. Contohnya, memilih membeli beras per kilogram daripada per karung, membeli sesuatu dalam kemasan kecil daripada sekalian kemasan besar untuk stok, dan lain sebagainya.

Padahal jika kita hitung dan pikirkan kembali, pola seperti itu justru membuat seseorang mengeluarkan uang dengan akumulasi jumlah yang lebih banyak dibandingkan orang yang langsung membeli dalam jumlah besar di satu waktu. Contoh sederhananya, beli beras satu kilogram seharga Rp15.000. Jika membeli dengan jumlah yang sama lima kali dalam seminggu, maka uang yang dikeluarkan sebanyak Rp75.000. Sementara jika kita membeli beras kemasan lima kilogram, kita bisa mendapatkan harga Rp70.000. Ada selisih nyata di sana. Meskipun kelihatannya tidak terlalu banyak, tetapi jika terjadi berulang dan di banyak pembelian, selisih itu bisa terakumulasi menjadi jumlah yang tidak sedikit.

Fenomena di atas menunjukkan bahwa pengeluaran yang dianggap kecil dalam kehidupan sehari-hari, nyatanya belum tentu bisa membuat seseorang lebih berhemat dalam jangka panjang. Barang yang tampaknya lebih murah tersebut juga memiliki efek lebih cepat habis, cepat rusak, tidak tahan lama, hingga pada akhirnya harus sering diganti dan membuat kita mengeluarkan uang lagi.

Namun, jika cara tersebut justru lebih mahal dalam jangka panjang, mengapa banyak orang masih melakukannya? Jawabannya sederhana: karena tidak semua orang memiliki keleluasaan untuk memikirkan penghematan jangka panjang ketika kebutuhan hari ini saja belum tentu terpenuhi.

Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi yang terbatas, keputusan belanja sering kali bukan tentang memilih mana yang paling hemat, melainkan mana yang paling mungkin dibeli saat itu juga. Seperti yang sempat saya contohkan sebelumnya, membeli beras lima kilogram memang lebih murah dibandingkan membeli satu kilogram berkali-kali. Akan tetapi, tidak semua orang memiliki uang Rp70.000 sekaligus di satu waktu. Ketika yang tersedia hanya Rp15.000 di dompet, maka pilihan yang paling masuk akal adalah membeli satu kilogram terlebih dahulu agar dapur tetap bisa mengepul hari itu.

Dilema serupa juga terjadi pada banyak kebutuhan lain. Membeli sepatu yang lebih mahal dan berkualitas mungkin lebih awet untuk digunakan bertahun-tahun. Namun, bagi sebagian orang, mengeluarkan ratusan ribu rupiah sekaligus jauh lebih berat daripada membeli sepatu murah yang bisa dipakai sekarang meski harus diganti beberapa bulan kemudian.

Kondisi seperti itulah yang akhirnya membuat sebagian kelompok masyarakat terjebak dalam lingkaran pengeluaran yang sulit diputus. Mereka sebenarnya cukup paham jika membeli dalam jumlah besar atau memilih barang yang lebih berkualitas akan lebih menguntungkan dalam jangka panjang. Namun sayangnya, kondisi setiap orang berbeda dan terkadang keterbatasan ekonomi membuat pilihan tersebut tidak selalu tersedia.

Jika kita ulik lebih jauh lagi, fenomena ini memiliki dampak psikologis dan sosial yang cukup mengkhawatirkan. Orang dengan kondisi di atas rentan merasakan tekanan karena harus tetap memenuhi kebutuhan yang sama setiap hari dan merasa lelah karena harus terus-menerus menghitung pengeluaran. Dampaknya lagi bisa membuat seseorang sulit untuk merencanakan keuangan jangka panjang.

Ironisnya, kondisi ini sering membuat masyarakat berpenghasilan rendah dianggap tidak pandai mengelola uang. Padahal, dalam banyak kasus, persoalannya bukan terletak pada kemampuan mengatur keuangan, melainkan pada terbatasnya pilihan yang mereka miliki.

Dalam hal ini, kita pun tak bisa menutup mata bahwa di luar sana masih banyak orang yang harus berjuang untuk bertahan hidup hari ini. Bagi sebagian orang, membeli barang murah bukan berarti tidak memahami cara berhemat. Terkadang, itu adalah satu-satunya pilihan yang tersedia. Di titik ini, mungkin kita perlu memahami bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan dan pilihan yang sama. Karena dalam kondisi tertentu, murah memang belum tentu hemat. Namun, itulah keputusan paling masuk akal yang bisa diambil hari ini.