Beberapa waktu lalu ramai perdebatan soal perilaku wisatawan asing di Bali yang disebut enggan berbaur dengan warga Indonesia. Terkait hal tersebut, sebuah desa di Bali Utara justru menunjukkan wajah berbeda.
Desa Les, di Kabupaten Buleleng, berkembang sebagai destinasi wisata tanpa gesekan. Tidak ada sekat mencolok antara wisatawan dan warga, tidak ada cerita turis yang menjaga jarak interaksi sosial.
Apa rahasianya?
Bukan Destinasi Mass Tourism
Berbeda dengan Bali Selatan yang padat dan penuh hiruk-pikuk, Desa Les sejak awal tumbuh dengan karakter yang berbeda. Wilayah Bali Utara dikenal sebagai tempat untuk “retreat” mencari ketenangan, bukan keramaian.
"Tipikal wisatawan yang datang ke sini memang dari dulu mencari ketentraman," ujar penggerak UMKM Desa Les, Nyoman Nadiana, pada Yoursay, Kamis (6/8/2026).
Segmentasi ini menjadi filter alami. Wisatawan yang datang bukan mereka yang mencari eksklusivitas atau gaya hidup komunitas tertutup, melainkan mereka yang ingin terhubung dengan alam dan budaya lokal.
Interaksi Bukan Sekadar Formalitas
Di Desa Les, wisata tidak berhenti pada pemandangan. Pengalaman justru dibangun dari interaksi langsung.
Wisatawan bisa:
- Melihat langsung proses pembuatan garam tradisional
- Berbincang dengan petani dan pelaku UMKM
- Mencicipi kuliner lokal yang dibuat warga.
Model wisata seperti ini menciptakan hubungan yang lebih setara. Wisatawan bukan sekadar penonton, tetapi menjadi bagian dari aktivitas desa.
Dalam konteks ini, sulit bagi wisatawan untuk bersikap eksklusif, karena pengalaman yang ditawarkan justru menuntut keterlibatan.
Produksi Garam Tradisional yang Mengundang Interaksi
Berbeda dengan produksi garam modern, proses di Desa Les masih mempertahankan metode tradisional yang panjang dan sarat nilai budaya.
Air laut tidak langsung dijemur, melainkan terlebih dahulu dituangkan ke tanah untuk meningkatkan kandungan mineralnya. Tanah kemudian dikerik, dimasukkan ke dalam wadah kerucut berlapis daun dan pasir untuk menghasilkan “nyah” atau air garam pekat.
Proses inilah yang justru menjadi pengalaman wisata.
Wisatawan yang datang tidak hanya melihat hasil akhir berupa garam, tetapi diajak memahami prosesnya secara langsung. Bahkan dalam beberapa kesempatan, mereka dapat ikut terlibat mulai dari menyiram air laut hingga menyaksikan penjemuran di palungan atau membran.
Di titik ini, interaksi terjadi secara natural.
Dukungan Korporasi
Menariknya perkembangan Desa Les juga didukung oleh kolaborasi dengan pihak luar, termasuk perusahaan melalui program pemberdayaan.
Salah satu yang paling menonjol adalah program Desa Sejahtera Astra (DSA), yang mulai masuk ke Desa Les sejak 2024. Program ini tidak hanya berfokus pada bantuan ekonomi, tetapi menggunakan pendekatan holistik berbasis empat pilar yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.
Di sektor kewirausahaan, Astra mendorong penguatan UMKM berbasis potensi lokal, contohnya produksi garam tradisional, dengan peningkatan kualitas produk hingga akses pasar.
Sementara di sektor pendidikan, generasi muda dilatih kemampuan bahasa Inggris dan pemahaman pariwisata agar siap menjadi pemandu lokal yang mampu berinteraksi dengan wisatawan mancanegara.
Pendekatan ini penting, karena konflik wisata tidak hanya dipicu oleh interaksi turis semata, tetapi juga oleh ketimpangan sosial dan ekonomi di tingkat lokal.
Hasilnya mulai terlihat. Sejak bergabung dalam program DSA:
- Lebih dari 800 warga terlibat dalam program pemberdayaan
- Pendapatan masyarakat meningkat sekitar 25%
- Produk lokal terserap pasar secara maksimal
- Lapangan kerja baru mulai tercipta.
Ketika ekonomi lokal kuat, hubungan antara wisatawan dan warga menjadi lebih setara. Warga tidak berada dalam posisi melayani turis, tetapi menjadi mitra dalam pengalaman wisata.
Promosi yang Menguatkan Identitas, Bukan Menghapus
Selain pemberdayaan masyarakat desa, Astra juga membantu memperluas eksposur Desa Les melalui produksi konten promosi yang menampilkan kekuatan utama desa yaitu garam tradisional, alam, dan kehidupan masyarakat.
Pendekatan ini berbeda dengan promosi wisata massal yang seringkali menonjolkan fasilitas atau gaya hidup modern.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Lewat Sentuhan Korporasi, UMKM Desa Les Naik Kelas
-
Desa Les: Fondasi Kolaboratif bagi Ketahanan Desa Berkelanjutan
-
Desa Sejahtera Astra Les Bali: Garam, Laut, dan Masa Depan Berkelanjutan
-
Kewirausahaan Menjadi Napas Kemiren: Desa Budaya Menjadi Inspirasi Dunia
-
Garam Palungan Desa Les: Menjaga Warisan Leluhur di Bawah Matahari Bali Utara
Kolom
-
Ijazah atau Skill? Memaknai Ulang Kemerdekaan Pendidikan bagi Gen Z
-
Niat Curhat ke Sahabat untuk Cari Ketenangan, Ujungnya Malah Jadi Adu Nasib
-
BPJS Tak Hanya untuk Orang Miskin: Mengapa Miskonsepsi Ini Masih Bertahan?
-
Lewat Sentuhan Korporasi, UMKM Desa Les Naik Kelas
-
Bahagia di Usia 48 dan Masih Lajang: Rahasia di Balik Berdamai dengan Diri Sendiri
Terkini
-
Sinopsis Your Mother Your Mother Your Mother, Angkat Kisah Pembunuh Bayaran
-
Auto Cheerful Seharian! Berikut 4 Parfum Aroma Floral Harga 50 Ribuan
-
Chill Abis! Stray Kids Bawa Ambisi Tanpa Batas di Lagu Terbaru, This & That
-
Gak Nyangka! 5 HP Samsung Harga 3 Jutaan Ini Sudah Dapat RAM 8GB dan Memori 256GB
-
Just Like Mona Lisa Rilis PV Perdana, Chika Anzai Isi Suara Karakter Utama