Lintang Siltya Utami | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Melihat Unggahan Teman (magnific)
Ukhro Wiyah

Sobat Yoursay, pernah nggak sih kalian memperhatikan kebiasaan anak muda zaman sekarang di media sosial?

Sebagai bagian dari Gen Z, saya sering melihat teman-teman sebaya mengunggah kegiatan mereka di story media sosial. Unggahannya beragam, kadang ada foto kopi pagi, perjalanan ke tempat kerja, pemandangan langit, hingga sekadar tangkapan layar lagu yang sedang diputar. Di akhir bulan, tidak sedikit pula yang membagikan recap hal-hal yang mereka lakukan dalam sebulan.

Kebiasaan semacam itu kedengarannya sangat sederhana. Namun, hal itu sering kali secara tidak langsung menjadi cara mereka memberi tahu bahwa mereka baik-baik saja atau sekadar membagikan hal yang sedang dilakukan. Tanpa harus bertemu atau berkirim pesan panjang lebar, kita bisa mengetahui kabar mereka hanya dengan sesekali melihat life update teman-teman kita di media sosial.

Story Life Update Mengubah Cara Gen Z Saling Berkabar

Sejujurnya, ketika sudah cukup lama tidak melakukan komunikasi dengan seseorang, saya sendiri merasakan ada kecanggungan untuk sekadar bertanya kabar. Mengirim pesan pribadi lebih sering dilakukan hanya ketika ada keperluan. Meskipun begitu, biasanya saya tetap bisa tahu kabar mereka dari unggahan di media sosial. Story menjadi salah satu “jendela kecil” yang memperlihatkan sebagian aktivitas keseharian orang di sekitar kita. Sehingga hubungan tetap terasa dekat meski komunikasi tidak lagi intens.

Selain itu, semakin dewasa, kita semakin sulit meluangkan waktu untuk mengobrol panjang dengan teman. Kesibukan kerja, kuliah, atau berbagai urusan pribadi lainnya membuat frekuensi bertemu atau saling berkirim pesan jadi berkurang. Meski begitu, hubungan dengan teman tidak lantas harus menjauh begitu saja. Story bisa menjadi media bagi kita untuk tetap saling berkabar dengan banyak orang sekaligus di tengah kesibukan. 

Bahkan, tak jarang, berawal dari satu unggahan, kecanggungan akibat lama tak berkomunikasi bisa mencair. Kita tak perlu lagi repot mencari topik obrolan karena story life update bisa menjadi bahan untuk membuka percakapan. Entah itu sekadar mengucapkan selamat atas pencapaian, menanyakan tempat yang dikunjungi, minta spill outfit, atau memberi respons pada unggahan mereka. Itulah kenapa, story bisa dikatakan sebagai jembatan agar komunikasi terasa lebih natural.

Saling berkabar melalui story media sosial seperti ini juga bisa menjadi bentuk kepedulian yang tidak mengganggu. Kita tidak memiliki tuntutan untuk langsung membalas. Tidak pula mengganggu waktu orang lain dengan pesan atau telepon. Dan bisa dilihat kapan saja selama masih dalam waktu 24 jam. Akhirnya, meskipun tidak berkomunikasi secara intens, mengetahui bahwa seseorang sedang baik-baik saja sudah cukup menjadi kabar yang menenangkan.

Unggahan Life Update Bukan Pengganti Komunikasi

Kita memang bisa saling memberi tahu kabar dengan unggahan di media sosial. Namun, tentunya hal itu tidak lantas bisa menggantikan komunikasi kita sepenuhnya. Dalam hal ini kita perlu mengingat bahwa bagaimanapun konten yang dibagikan sering kali hanya menunjukkan sebagian kecil kehidupan seseorang.

Tak semua perasaan atau kondisi selalu terwakili oleh unggahan di media sosial. Untuk menjaga hubungan dekat dengan seseorang tetap diperlukan komunikasi berupa percakapan secara langsung, entah sekadar saling berkirim pesan atau menyempatkan diri untuk bertemu sebentar. Terutama jika ada hal penting yang terjadi atau saat teman kita sedang membutuhkan dukungan.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan gaya hidup, cara seseorang menjaga hubungan juga turut mengalami perubahan. Dan terkadang, bagi sebagian orang, story life update menjadi cara sederhana mereka untuk tetap hadir di kehidupan orang lain tanpa harus mengganggu di tengah kesibukan masing-masing.