Adakah Sobat Yoursay di sini yang punya kebiasaan ngomong sendiri?
Kalau ada, berarti kita sama. Haha. Saya kerap melakukan hal itu di berbagai momen tertentu, terutama ketika sedang membayangkan sesuatu di pikiran saya. Saat otak terasa begitu ramai, percakapan antara diri saya sendiri ikut terjadi. Bahkan tak jarang, mulut ikut bergerak sendiri atau mengeluarkan suara kecil. Beberapa kali terjadi saat saya sedang sendiri, tapi pernah pula kejadian ketika ada orang lain di dekat saya.
Sebenarnya nggak ada masalah, tapi jujur, rasanya canggung banget pas kepergok begini. Kaya baru ngelakuin kesalahan, padahal, ya, cuma ada isi kepala yang keluar aja. Apalagi kalau ada yang notice dan tiba-tiba ditanya, "kamu ngomong apa tadi?" Langsung terasa kecanggungannya.
Hal semacam ini ternyata cukup umum dan banyak dialami oleh banyak orang. Ngomong sendiri bukan selalu berarti kesepian. Tidak bisa juga dipastikan bahwa orang yang melakukannya punya gangguan tertentu. Bahkan dalam ilmu kesehatan dikatakan jika self-talk bisa membantu kita meningkatkan fokus, mengelola emosi, hingga menyusun ide-ide yang ada di kepala. Sehingga bisa dikatakan ini bisa terjadi karena imajinasi yang aktif atau terlalu larut dalam pikiran.
Akan tetapi, di beberapa kasus tertentu, ngomong sendiri bisa menjadi hal yang perlu memperoleh penanganan secara medis. Pertama, ketika seseorang sudah merasa sulit membedakan antara imajinasi dan kenyataan. Kemudian saat ia merasa sedang berkomunikasi dengan orang lain yang tidak terlihat wujudnya. Dan jika kebiasaan ini mulai mengganggu aktivitas sosial seseorang.
Lantas, kapan saja hal ini masih bisa dikatakan wajar?
Yang pertama ketika imajinasi terasa terlalu nyata. Contoh sederhananya seperti kita membayangkan percakapan yang belum pernah terjadi. Kemudian bisa pula ketika kita ada adegan tontonan yang terlintas di pikiran. Atau membayangkan sedang melakukan wawancara, presentasi, ataupun berdebat dengan orang lain. Di saat seperti itu, terkadang tanpa kita sadari bibir ikut bergerak atau suara keluar pelan.
Selain itu, hal ini juga bisa terjadi karena pikiran kita yang terlalu penuh hingga meluap dan keluar lewat mulut. Beberapa penulis mungkin pernah mengalaminya. Ketika kita sedang memikirkan banyak ide atau saat mencoba menyusun kalimat dari berbagai gagasan yang muncul di kepala. Hingga ketika seseorang sedang berlatih menjelaskan sesuatu.
Tidak jarang pula terjadi saat mengingat kejadian yang membuat kita malu, kesal, marah, atau bahagia. Saya sendiri pun kadang membayangkan peristiwa yang sudah terjadi, tetapi masih ada sesuatu yang rasanya seperti belum selesai atau belum tersampaikan. Kadang juga karena ada kejadian tak terduga di momen itu.
Seperti yang sempat saya singgung sebelumnya, ngomong sendiri bisa menjadi cara membantu otak kita dalam memproses informasi. Tidak sedikit orang dengan kreativitas tinggi dan sering berimajinasi yang mengalami hal serupa. Selama tidak mengganggu aktivitas sehari-hari dan tidak membuat seseorang kesulitan membedakan imajinasi dan kenyataan, self-talk merupakan sesuatu yang normal.
Meskipun demikian, tidak bisa dipungkiri jika kepergok ngomong sendiri bisa menjadi momen yang paling canggung. Misalnya nih, ketika lagi asyik berimajinasi dan membayangkan sesuatu, tiba-tiba ada yang nyeletuk, "ngomong sama siapa kau?" Kan jadi awkward banget, ya. Untuk mengatasi kecanggungan itu orang meresponsnya dengan cara yang beragam. Ada yang pura-pura batuk, ada yang langsung terdiam dan menanggapinya dengan senyuman, ada pula yang pura-pura lagi teleponan sama teman. Kalau saya kadang, ya, pura-pura nyanyi. Haha. Tapi kadang juga ngaku kalau emang lagi ngomong sendiri. Dan itu sama sekali nggak masalah.
Jika kita tarik satu kesimpulan, ngomong sendiri nggak selalu berarti seseorang sedang kesepian. Terkadang itu bisa terjadi karena dia memang sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Kepergok lagi self-talk mungkin merupakan hal yang cukup membuat kita malu. Namun, mengakuinya juga tidak membuat diri kita terlibat buruk di mata orang lain.
Baca Juga
-
Ulasan Flex x Cop 2: Aksi Detektif Sultan yang Makin Seru dan Menarik
-
Gajian Tiap Bulan, tapi Takut Kehabisan Uang: Inikah Realitas Dunia Kerja?
-
Bukan Oversharing, Tulisan yang Jujur dan Personal Tetap Punya Batasan
-
Dari Romcom hingga Aksi, 5 Drama Korea 2026 Ini Wajib Masuk Watchlist
-
Bahaya Kalimat 'Mumpung Gajian' yang Bisa Bikin Dompet Cepat Menipis
Artikel Terkait
-
Sketch: Kisah Imajinasi Gambar yang Hidup dan Menyembuhkan Luka Keluarga
-
Kisah 13 Anak dan Dunia Penuh Kehangatan di Novel "Angin dari Tebing 1"
-
Saya Menemukan Teman Bicara di Balik Lembaran Kertas 'Self-Talk Journal'
-
Rasa Canggung ke Reuni? Ini Cara Menghadapinya dan Manfaat yang Sering Terlewat
-
Rasa Canggung ke Reuni? Ini Cara Menghadapinya dan Manfaat yang Sering Terlewat
Kolom
-
Stigma Tubuh Perempuan dan Warisan Tabu dalam Bahasa Sehari-hari
-
Ketika Estetika Membuat Barang Kehilangan Umur Pakainya
-
Bisingnya Knalpot RX King: Mempertanyakan Ulang 'Hak Atas Kota' Warga Jogja
-
Demi Korban atau Selamatkan Muka? Menelanjangi Borok Penanganan Kasus di SMAN 1 Sentolo
-
Demo Mahasiswa UINSA: Tuntut Transparansi Rektorat Tanpa Harus Merugikan Rekan Sendiri
Terkini
-
Bye Jerawat Meradang! 4 Hybrid Sunscreen Heartleaf Kontrol Produksi Sebum
-
Heboh Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby: Ketika Selisih Usia Jadi Cermin Standar Ganda Kita
-
FIFA ASEAN Cup: Pertaruhan Hidup-Mati Bagi John Herdman di Timnas Indonesia
-
Review Film Soulmate: Pahami Bahwa Belahan Jiwa Tak Selalu Kekasih Romantis
-
Ulasan Your Lie in April: Tentang Belajar Hidup sebelum Semuanya Terlambat