Ada yang bilang “diam itu emas”. Namun, diam saat melihat ketidakadilan terjadi di depan mata tidak akan membuat seseorang menjadi lebih baik dari pelakunya sendiri.
Kalimat tersebut menurut saya tepat untuk menggambarkan kondisi kelas 2-5 SMA Baekyeon di drama Pyramid Game. Di sana kita melihat dengan jelas anak-anak yang memilih diam dan tidak ikut campur ketika siswi di tingkat F dirundung oleh tingkat A. Bungkamnya para penonton membuat kekerasan seolah menjadi hal yang sudah dinormalisasi di kelas itu. Meskipun mungkin bagi korban, sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar terasa seperti neraka.
Akan tetapi, saya merasa ini juga bukan persoalan yang sederhana bagi semua siswi kelas 2-5. Beberapa dari mereka diam bukan karena ingin, melainkan ada rasa takut yang membuat anak-anak tersebut memilih mengambil jalan aman. Walaupun akhirnya mereka sendiri menjadi kaki tangan karena turut membiarkan bahkan melanggengkan sistem yang membuat perundungan itu bisa terjadi.
Pyramid Game. Permainan penentu kasta para siswa melalui sistem voting di sebuah aplikasi. Murid di kelas 2-5 dibagi menjadi lima tingkatan. Tingkat A berisi anak-anak yang memperoleh suara terbanyak dan tidak boleh dilawan oleh tingkat di bawahnya. Kemudian tingkat B-D isinya para siswi yang berada dalam posisi aman. Mereka harus menuruti perintah tingkat A dan tidak diizinkan berinteraksi dengan tingkat F.
Sementara tingkat F adalah yang paling rendah. Isinya adalah orang yang tidak mendapatkan suara sama sekali pada saat voting. Murid yang berada di tingkat F juga dianggap sah untuk dirundung, khususnya oleh tingkat A. Sedangkan tingkat B-D baru boleh menyentuh tingkat F jika A mengizinkan mereka.
Mengapa anak-anak tersebut tidak berani melawan tingkat A?
Saya akan membahas beberapa siswa yang ada di tingkat A. Pertama, tentu saja Baek Ha-rin, dia adalah cucu kesayangan dari pemilik sekolah yang apapun keinginannya selalu dipenuhi oleh sang nenek. Dari luar, ia tampak seperti remaja pada umumnya dengan wajah cantik dan senyum malaikat. Beberapa orang bahkan menganggapnya sebagai anak yang baik, tetapi sebenarnya dialah sosok psikopat kasar yang ada di balik permainan Pyramid Game.
Selain Ha-rin, ada Kim Da-yeon. Atlet bela diri sekaligus “eksekutor” dalam permainan yang diciptakan oleh Baek Ha-rin. Kepribadiannya yang kasar dan kejam membuat anak lain takut kepadanya. Selain itu, keluarganya juga termasuk kaya raya dan memiliki koneksi dengan keluarga Ha-rin.
Lebih dari itu, para pelaku perundungan di sini pun bisa dikatakan sangat hati-hati saat melakukan kekerasan. Mereka memiliki aturan agar tidak meninggalkan bekas pada tubuh korban. Akibatnya, korban kesulitan mencari bukti ketika ingin melapor. Salah satu siswi bahkan terpaksa keluar dari sekolah dan mengalami trauma yang cukup berat setelah mendapat hukuman dari tingkat A karena membocorkan keberadaan Pyramid Game kepada wali kelas yang ternyata tidak bisa dipercaya.
Mungkin banyak dari kalian bertanya, jika perundungan tersebut terjadi di sekolah, lantas ke mana peran para guru atau orang dewasa lainnya?
Ironisnya, sebagian besar orang dewasa di Pyramid Game justru gagal menghentikan sistem tersebut. Ada guru yang memilih bungkam karena tidak ada laporan resmi dari murid. Ada pula guru yang berani menentang, tetapi justru diberhentikan dari sekolah.
Wali kelas mereka bahkan menjadi bagian dari masalah. Demi uang dan kepentingan pribadi, ia membiarkan perundungan terus berlangsung. Sementara itu, orang tua para siswi tingkat A lebih sibuk menjaga hubungan dengan keluarga Baek Ha-rin daripada mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi di sekolah. Akibatnya, anak-anak yang menjadi korban kehilangan sosok dewasa yang seharusnya melindungi mereka.
Melihat kondisi tersebut, saya menyadari bahwa hal semacam ini juga sangat mungkin terjadi di dunia nyata. Ketika semua orang tetap diam meskipun menyadari ada yang tidak beres, maka sistem yang salah akan terus bertahan karena tidak pernah ada yang berani mempertanyakannya. Pyramid Game mengingatkan bahwa perubahan memang tidak selalu dimulai oleh orang yang paling kuat atau paling berkuasa. Terkadang, perubahan cukup dimulai dari satu orang yang berani berkata, "Ini tidak benar." Keberanian itulah yang perlahan mendorong orang lain untuk ikut bersuara dan menghentikan ketidakadilan.
Baca Juga
-
Ulasan Pyramid Game: Ketika Perundungan Menjadi Hal yang Dianggap Wajar
-
Life Update di Media Sosial: Cara Gen Z Saling Berkabar di Era Digital
-
Review Home School: Saat Belajar di Sekolah Tak Harus Lewat Buku Pelajaran
-
Ketika Perjuangan Terasa Disederhanakan dalam Kalimat "Enak, ya, Jadi Kamu"
-
Ulasan Film Unlocked: Ketika Kehilangan Ponsel Jadi Awal Teror Paling Nyata
Artikel Terkait
Kolom
-
Pajak Dibayar, BBM Mahal, Jalan Masih Rusak: Rakyat Wajar Bertanya
-
Di Depan Penyakit, Tak Ada Nasionalisme yang Lebih Penting dari Kesembuhan
-
Yurizal, BPJS, dan Harga Sebuah Empati
-
War Tiket Upacara HUT RI di Istana: Menonton Pesta di Tengah Jeritan Rakyat
-
Krisis Empati Nakes pada Pasien BPJS: Akibat 'Burnout' atau Bobroknya Sistem Kesehatan?
Terkini
-
Ulasan Film Kado untuk Ibu: Renungan Indah Mengenai Kasih Sayang Orang Tua
-
Kirsten Dunst Gabung Sekuel The Housemaid, Intip Sinopsis dan Jadwal Tayang
-
Mau Tampil Gentle? Intip 4 OOTD Dandy Smart Casual ala Kang Hoon
-
5 Coffee Shop 24 jam untuk Kamu yang Bosan Nugas di Kos
-
Buku Sibling Rivalry, Mengurai Trauma Masa Kecil dan Persaingan Antarsaudara