Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Makan Bergizi Gratis (polkam.go.id)
Oktavia Ningrum

Kelaparan selalu menjadi wajah paling nyata dari kemiskinan. Ketika masih ada warga yang kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, negara memang berkewajiban hadir.

Bantuan pangan, dapur umum, atau pembagian sembako sering kali menjadi solusi tercepat untuk mencegah krisis yang lebih besar. Namun, persoalan muncul ketika bantuan itu berubah menjadi pola permanen.

Rakyat terus diberi makan, tetapi tidak pernah diberi kemampuan untuk menghasilkan makanan. Apakah negara sedang memberdayakan rakyat atau sekadar memeliharanya?

Ada ungkapan yang patut direnungkan: kalau ada rakyat yang perutnya lapar, kasihlah pendidikan dan pekerjaan yang layak agar mampu mencari makan, bahkan bisa berkebun atau beternak sendiri. Rakyat itu manusia yang bisa berdaya, bukan ayam. Kalimat ini mengandung kritik yang tajam terhadap cara pandang pembangunan yang terlalu berorientasi pada bantuan jangka pendek.

Bantuan sosial memang memiliki fungsi penting, terutama ketika masyarakat menghadapi bencana, krisis ekonomi, atau kehilangan mata pencaharian. Tidak ada yang salah dengan negara memberikan perlindungan kepada kelompok rentan. Justru itulah salah satu tugas utama pemerintah. Akan tetapi, bantuan tidak boleh menjadi tujuan akhir. Ia seharusnya menjadi jembatan menuju kemandirian, bukan pintu masuk menuju ketergantungan.

Sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa yang berhasil mengurangi kemiskinan bukanlah negara yang paling banyak membagikan bantuan, melainkan negara yang mampu menciptakan kesempatan kerja, pendidikan berkualitas, dan akses terhadap modal usaha.

Ketika seseorang memperoleh pekerjaan dengan upah yang layak, ia bukan hanya mampu membeli makanan, tetapi juga dapat menyekolahkan anaknya, membangun tabungan, dan merencanakan masa depan. Kemiskinan pun perlahan terputus dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pendidikan memiliki peran yang tidak kalah penting. Orang yang memiliki keterampilan akan lebih mudah beradaptasi dengan perubahan ekonomi. Mereka mampu menciptakan peluang, bukan sekadar menunggu belas kasihan.

Di pedesaan, pendidikan pertanian modern dapat mengubah petani tradisional menjadi pelaku agribisnis yang produktif. Pelatihan peternakan, pengolahan hasil panen, hingga pemasaran digital membuka kesempatan agar masyarakat tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga menghasilkan produk bernilai tambah.

Ironisnya, kebijakan sering kali lebih menonjolkan besarnya anggaran bantuan daripada keberhasilan menciptakan lapangan kerja. Padahal, rakyat tidak membutuhkan belas kasihan sepanjang hidupnya. Mereka membutuhkan kesempatan. Mereka ingin memperoleh penghasilan dari kerja keras sendiri, bukan hidup dari antrean bantuan yang datang sewaktu-waktu.

Di sinilah letak perbedaan antara memelihara dan memberdayakan. Ayam diberi makan setiap hari karena memang tidak dituntut mencari nafkah sendiri. Manusia berbeda. Manusia memiliki akal, kreativitas, dan kemampuan belajar. Ketika negara hanya terus-menerus memberikan bantuan tanpa membuka akses terhadap pendidikan, pekerjaan, lahan produktif, atau permodalan, secara tidak langsung negara sedang merendahkan potensi rakyatnya sendiri.

Tentu tidak semua orang bisa langsung mandiri. Ada kelompok lanjut usia, penyandang disabilitas berat, atau masyarakat yang benar-benar tidak mampu bekerja sehingga tetap membutuhkan perlindungan sosial secara berkelanjutan. Namun, bagi mayoritas masyarakat usia produktif, kebijakan terbaik adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan mereka bekerja, berusaha, dan berkembang.

Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang sangat besar. Lahan pertanian masih luas, sektor peternakan terus berkembang, dan kebutuhan pangan nasional selalu meningkat. Jika pemerintah serius memperkuat pelatihan, menyediakan bibit unggul, memperbaiki irigasi, mempermudah akses kredit usaha, serta menjamin pasar bagi hasil panen petani dan peternak, jutaan keluarga dapat keluar dari kemiskinan melalui usahanya sendiri. Yang dibutuhkan bukan sekadar program yang ramai saat peluncuran, melainkan kebijakan yang konsisten hingga benar-benar menghasilkan perubahan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah negara bukanlah seberapa sering rakyat menerima bantuan, melainkan seberapa sedikit rakyat yang masih membutuhkan bantuan karena telah mampu berdiri di atas kaki sendiri. Masyarakat yang mandiri akan memiliki rasa percaya diri, harga diri, dan kebebasan menentukan masa depannya.

Rakyat bukanlah ayam yang cukup dilempari pakan agar tetap hidup. Mereka adalah manusia yang memiliki martabat, impian, dan kemampuan untuk berkarya. Karena itu, tugas negara bukan hanya memastikan perut rakyat kenyang hari ini, tetapi juga memastikan mereka memiliki ilmu, pekerjaan, dan kesempatan agar dapat mengisi piringnya sendiri, hari ini, esok, dan sepanjang hidupnya.

Itulah makna kesejahteraan yang sesungguhnya.