Bagi yang pernah menghadiri acara resmi, tentu sudah akrab dengan sesi sambutan. Entah itu seminar, pelatihan, peresmian, rapat, wisuda, hingga berbagai acara pemerintahan, sesi ini hampir selalu hadir dan sering kali memakan waktu yang tidak sedikit.
Bahkan tidak jarang peserta harus menunggu cukup lama sebelum masuk ke acara utama karena harus mendengarkan sambutan dari beberapa orang secara bergantian. Biasanya mereka yang diminta memberikan sambutan adalah orang-orang yang mengemban posisi atau jabatan tertentu.
Sebagai peserta, saya sering bertanya-tanya mengapa sesi sambutan di acara resmi selalu mendapat porsi yang begitu besar. Akibatnya, acara utama justru harus menunggu, sedangkan para peserta dipaksa duduk mendengarkan rangkaian pidato yang panjang dan cenderung membosankan.
Sesi sambutan di acara resmi mencerminkan cara pandang yang masih menempatkan jabatan dan hierarki pada posisi yang sangat istimewa. Sulit untuk tidak melihatnya sebagai salah satu warisan feodal yang masih dianggap normal dan terus dipertahankan hingga sekarang.
Sesi Sambutan yang Terlalu Panjang Hanya Buang-Buang Waktu
Jika sebuah sambutan benar-benar berisi informasi penting, tentu peserta akan dengan senang hati mendengarkannya. Masalahnya, selama ini sesi sambutan seringnya memakan waktu lama sehingga acara utama menjadi molor.
Padahal, jika diperhatikan, banyak sesi sambutan di acara resmi yang hanya berfungsi sebagai formalitas belaka. Tidak sedikit sambutan yang isinya mirip, disampaikan secara bergantian hanya karena setiap pemegang jabatan dianggap perlu mendapatkan giliran berbicara.
Dalam hal ini, jelas yang paling dirugikan adalah peserta. Mereka datang untuk mengikuti acara utama, bukannya menghabiskan banyak waktu untuk mendengarkan rangkaian sambutan yang sering kali tidak menambah banyak informasi baru.
Jika sebuah pesan bisa disampaikan secara singkat dan jelas, tidak ada alasan untuk membuat peserta menunggu lebih lama dari yang diperlukan.
Budaya Hierarki yang Masih Sangat Kental
Salah satu alasan saya mengaitkan sesi sambutan di acara resmi dengan budaya feodal adalah karena kuatnya unsur hierarki yang terlihat di dalamnya.
Dalam banyak acara, urutan sambutan biasanya mengikuti struktur jabatan. Mulai dari pejabat dengan posisi lebih rendah hingga yang paling tinggi. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula perhatian yang diberikan kepada sambutannya.
Menurut saya, pola seperti ini menunjukkan bahwa jabatan sering kali lebih dihormati daripada waktu peserta. Ratusan orang bisa diminta duduk dan menunggu hanya agar semua figur penting memperoleh kesempatan berbicara di depan publik.
Akan tetapi, selama ini tidak ada yang berani bersuara mempertanyakan kebiasaan tersebut karena sudah dianggap sebagai bagian dari tata krama dan penghormatan.
Sudah Saatnya Sesi Sambutan Dibuat Lebih Singkat dan Relevan
Perlu digarisbawahi, saya tidak berpendapat bahwa sesi sambutan harus dihapus sepenuhnya. Dalam banyak kesempatan, sambutan tetap memiliki fungsi penting sebagai pembuka acara atau sarana menyampaikan pesan tertentu kepada peserta.
Menurut saya, yang perlu diubah adalah cara kita memandang sesi sambutan itu sendiri. Sambutan seharusnya hadir untuk mendukung acara, bukannya malah mendominasi. Oleh karena itu, sambutan sebaiknya tidak disampaikan lebih dari lima menit.
Bagi saya, penghormatan kepada peserta seharusnya ditunjukkan dengan menghargai waktu mereka, bukan dengan memperpanjang daftar sambutan.
Selama sesi sambutan masih digunakan sebagai sarana untuk mempertahankan hierarki dan formalitas yang berlebihan, saya akan terus melihatnya sebagai salah satu warisan feodal yang masih dianggap normal dalam kehidupan kita sehari-hari.
Baca Juga
-
Ulasan The Winning Try: Kisah Tim Rugby Buangan yang Layak Diperjuangkan
-
Ulasan The Auditors, Kisah Seru Tim Audit yang Bekerja Layaknya Detektif
-
Jika Gaji Rp 8 Juta Masuk Kategori MBR, Apa Kabar Karyawan yang Mentok UMR?
-
Cek Harga Lewat DM: Praktik Janggal yang Bikin Calon Pembeli Kabur
-
Guru Selalu Dibilang Pahlawan, Tapi Tidak Dijadikan Prioritas Anggaran
Artikel Terkait
-
Rayakan 10 Tahun Tayang, Drakor Love in the Moonlight Siapkan Acara Spesial
-
Stop Feodal! Dosen Gaul Tak Akan Kehilangan Harga Diri
-
Acara Siraman Syifa Hadju Berlangsung Khidmat, Kris Dayanti Puji Kecantikan Calon Pengantin
-
Siapa Promotor Hammersonic Festival 2026? Refund Tiket 100 Persen usai Jadi Konser Privat
-
Acara Park Bo Gum "The Village Barber" Konfirmasi Adanya Musim ke-2!
Kolom
-
Di Tiongkok Guru Setara Dokter, di Indonesia Guru Honorer Dijerat Judi Online: Ada Apa?
-
Mengintip Surga Laptop Second Jogja yang Jadi Penyelamat Mahasiswa Rantau
-
Saat Stigma Menjadi Senjata: Mengapa Label "Demo Bayaran" Bisa Mematikan Demokrasi?
-
Ledakan Pengangguran: Membaca Persoalan di Balik Ketergantungan pada MBG
-
Rakyat Bukan Ayam: Mengatasi Lapar dengan Martabat, Bukan Sekadar Bantuan
Terkini
-
DC Studios Umumkan Joker: Laugh Riot, Jadi Serial Anime Pertama
-
Membaca Ulang Sang Mahapatih Gajah Mada di Buku Agus Munandar
-
Ulasan The Winning Try: Kisah Tim Rugby Buangan yang Layak Diperjuangkan
-
Dibintangi Jenna Ortega, Sony Pictures Rilis Trailer Film Klara and the Sun
-
Prediksi Uruguay vs Spanyol: Taktik Bielsa dan De la Fuente Demi Juara Grup