Hayuning Ratri Hapsari | Sukatman Sukatman
Ilustrasi kain tenun tradisional Indonesia. (Pexels/Hera hendrayana)
Sukatman Sukatman

Langkah KBRI untuk Takhta Suci (Vatikan) menggelar acara promosi budaya Indonesia baru-baru ini menuai banyak pujian. Di tengah megahnya arsitektur Eropa, lembaran kain tenun Nusantara dipamerkan dengan anggun.

Banyak media sibuk memuji keharmonisan hubungan diplomatik atau keindahan estetika motifnya. Namun, jujur saja, jika kita hanya melihat acara ini sebagai pameran visual demi kepuasan estetika penonton global, kita sedang melewatkan pesan yang jauh lebih radikal.

Pameran tenun di Vatikan ini sesungguhnya bukan sekadar urusan panggung fesyen atau diplomasi jabat tangan. Ini adalah sebuah pernyataan ideologis yang berani mengenai masa depan bumi kita.

Ketika Tenun Menjawab Jeritan Bumi

Mengapa Vatikan menjadi panggung yang sangat krusial untuk isu ini? Jawabannya ada pada Laudato Si, sebuah ensiklik (surat edaran suci) monumental yang dirilis oleh Paus Fransiskus.

Lewat dokumen tersebut, pemimpin tertinggi Gereja Katolik ini menyerukan pesan yang sangat benderang. Bumi, rumah kita bersama, sedang menjerit akibat eksploitasi dan budaya konsumtif yang ugal-ugalan.

Uniknya, selembar kain tenun tradisional Indonesia yang dibawa oleh KBRI seolah menjadi jawaban hidup atas kecemasan Paus. Coba kita bedah prosesnya.

Tenun tradisional kita tidak lahir dari mesin pabrik yang mengepulkan asap polusi. Ia dibuat secara manual (padat karya), menggunakan benang katun pilihan, dan diwarnai dengan bahan-bahan organik yang disediakan oleh alam—seperti akar pohon, kulit kayu, hingga dedaunan.

Proses ini sepenuhnya selaras dengan spirit Laudato Si yang menuntut manusia untuk kembali hidup selaras dan menghormati alam, bukan memperkosanya demi keuntungan sesaat.

Tamparan Halus untuk Budaya Serba Instan

Mari kita gunakan momen ini untuk berkaca pada realitas sosial kita hari ini. Kita hidup di era di mana fast fashion (tren fesyen cepat saji) merajai gaya hidup. Kita membeli baju murah, memakainya beberapa kali, lalu membuangnya begitu saja ketika tren berubah.

Industri ini telah menjelma menjadi salah satu penyumbang limbah dan polusi air terbesar di planet ini. Kita mendewakan kecepatan, kepraktisan, dan modernitas, tanpa peduli pada kehancuran lingkungan yang ditinggalkannya.

Di titik inilah filosofi menenun datang memberikan tamparan halus namun menohok. Menenun adalah sebuah manifesto tentang kesabaran.

Seorang perajin tenun di pelosok Nusantara membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, hanya untuk menyelesaikan selembar kain. Ada ritual menghargai waktu, ketelitian, dan alam di setiap ketukan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Kain tenun dibuat untuk bertahan lama dan diwariskan dari generasi ke generasi. Ini menjadi antitesis total dari kegilaan industri modern yang serba instan dan merusak.

Diplomasi yang Menjawab Kecemasan Global

Diplomasi budaya terbaik bukan lagi tentang pamer keunikan lokal agar dianggap eksotis oleh bangsa lain. Diplomasi tercerdas adalah ketika identitas budaya kita mampu menawarkan solusi atau jawaban atas kecemasan yang sedang dihadapi oleh masyarakat global.

Melalui langkah KBRI di Vatikan, Indonesia tidak sekadar membawa komoditas kain untuk dipamerkan kepada kaum elite. Kita sedang mengirimkan pesan ekologis yang mendalam langsung ke pusat spiritual dunia.

Kita menunjukkan bahwa di balik benang-benang yang terjalin, ada kearifan lokal masyarakat adat Indonesia yang sudah berabad-abad mempraktikkan hidup berkelanjutan (sustainability).

Kini, bola panasnya ada di tangan kita sendiri. Ketika dunia luar mulai mengagumi filosofi ekologis di balik tenun kita, akankah kita justru tetap nyaman menjadi budak dari industri fast fashion yang merusak bumi? Ataukah kita siap ikut "menenun" gaya hidup baru yang lebih ramah bagi rumah bersama kita ini?