Di Jawa Timur, terdapat sebuah desa yang memiliki budaya Osing. Desa ini telah berhasil menggaet hingga 3.000 wisatawan di tahun 2025. Penasaran dengan rahasianya?
Sesekali, jika Anda pergi berlibur, pergilah ke pedesaan. Lebih tepatnya, datanglah ke Desa Kemiren yang berlokasi di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Di sana, pemandangan sawah sangatlah sejuk menyegarkan. Rumput dan pohon hijau dapat membantu Anda kembali ‘menapak tanah’ dalam hidup.
Mungkin, apa yang saya katakan barusan terdengar seperti iklan sederhana dan bahkan klise. Namun, ada alasan lain mengapa saya menyarankan Anda untuk coba pergi ke Desa Kemiren. Di sana, masyarakatnya memiliki budaya tersendiri yang disebut Budaya Osing. Menurut laporan DAAI TV, nama Osing berarti ‘Bukan’ dan menunjukkan bahwa mereka bukan orang Jawa ataupun Bali mengingat tradisi mereka berbeda dengan orang Jawa atau Bali.
Masyarakat Osing sendiri memiliki beberapa tradisi, ada tradisi Tumpeng Sewu alias ‘seribu tumpeng’ di mana setiap keluarga membuat tumpeng, ada rumah-rumah Osing yang uniknya bisa dibuat dari kayu selain kayu jati karena tradisi. Uniknya, dikutip dari Kompas, Desa Kemiren pada tahun 2025 dikunjungi oleh 3683 wisatawan dalam negeri dan sekitar 114 wisatawan luar negeri.
Seandainya Anda tahu luas dan jumlah penduduk Desa Kemiren, Anda mungkin akan terkejut dengan angka-angka yang saya sebutkan sebelumnya. Pasalnya, dikutip dari buku Merawat Tradisi: Merekam Jejak Budaya Osing Kemiren yang diterbitkan Perpusnas Press pada tahun 2022, Luas Desa Kemiren adalah sekitar 177,052 hektar dan jumlah penduduknya sekitar 2.562 jiwa.
Pertanyaannya sekarang adalah: Bagaimana bisa sebuah desa dengan jumlah penduduk 2.562 jiwa melayani 3.000 wisatawan lokal ditambah 100 wisatawan luar negeri? Ternyata, jawabannya adalah seseorang bernama Mohammad Edy Saputro atau Kang Edai.
Identitas dan Jasa Kang Edai
Mohammad Edy Saputro atau Kang Edai adalah seorang pemimpin Desa Wisata Kemiren. Beliaulah yang saat ini bertanggung jawab atas berkembangnya Desa Kemiren, terutama di bidang wirausaha. Dalam bidangnya, Kang Edai ini berfokus pada budaya Osing Desa Kemiren.
Jadi, jika Anda berkunjung ke sana dan menemukan beragam gerak budaya Osing seperti Tumpeng Sewu, Mepe Kasur (Merapikan kasur berwarna merah-hitam di teras rumah), dan rumah-rumah Osing, ingatlah adanya usaha konsisten dari beliau memperkenalkannya pada pengunjung Desa Kemiren.
Perkembangan Desa Kemiren tidak hanya di bidang wirausaha. Desa Kemiren yang sekarang juga sudah berkembang di bidang kesehatan, pendidikan, dan lingkungan.
Di bidang kesehatan sendiri, Posyandu Desa Kemiren sudah diperkuat. Dalam bidang pendidikan, PAUD desa pun sudah diperkuat dengan beragam cara seperti penyediaan sarana belajar dan alat permainan edukatif dan program pengenalan serta edukasi budaya lokal pada generasi muda. Dalam bidang lingkungan, Desa Kemiren bahkan sudah punya sistem pengolahan sampah dan biogas, lho!
Namun, saya percaya bahwa tidak mungkin orang bernama Kang Edai melakukannya sendiri. Jadilah saya mencari rahasia di balik jasa Kang Edai. Rupanya, setelah beragam pencarian, saya melihat ada satu nama perusahaan yang menyokong usaha Kang Edai memopulerkan desanya: PT. Astra International.
Ketika Kang Edai Bertemu Program Desa Sejahtera Astra
Rupanya, Kang Edai ini dulunya hanyalah seorang ketua desa wisata yang hanya berfokus pada pengembangan wirausaha Desa Kemiren. Namun, perannya berubah dan bertambah pada tahun 2024, lebih tepatnya pada acara Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) Kementerian Pariwisata.
Pada acara tersebut, desa yang dikelola Kang Edai ditunjuk Tim Astra untuk menjadi penerima program Desa Sejahtera Astra atau DSA. Program ini bertujuan untuk membantu desa-desa Indonesia dalam empat bidang yang terdiri dari wirausaha, kesehatan, lingkungan, dan pendidikan.
Begitu Kang Edai dan Desa Kemiren ditunjuk sebagai bagian dari Desa Sejahtera Astra, Kang Edai segera beradaptasi. Nah, Desa Kemiren ini memiliki beberapa keuntungan di tangan Kang Edai.
Pertama, lingkungannya yang agraris. Lingkungan sekitar Desa Kemiren berisikan sawah-sawah sehingga tampil alami dan segar. Kedua, keaslian budaya Osing yang dijaga betul-betul di Desa Kemiren. Dengan kekuatan orisinalitas budaya Osing, banyak pengunjung dalam dan luar negeri yang penasaran dengan Desa Kemiren.
Tanpa buang waktu, Kang Edai segera menyesuaikan laporan yang harus dibuat kepada tim PT. Astra International selaku pelaksana Desa Sejahtera Astra, beradaptasi dengan beragam anggota dalam program DSA dan belajar terhubung dengan mereka, serta negosiasi dengan keberadaan lahan pribadi di dalam desanya.
Semua adaptasi ini bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, Desa Sejahtera Astra ternyata telah banyak berurusan dengan banyak sekali desa di Jawa Timur. Jadilah Kang Edai juga mempelajari sistem DSA dari mereka.
Berkat kerja keras nan gigih Kang Edai, lama-lama Desa Kemiren terbiasa dengan beragam acara tingkat lokal dan internasional. Bahkan, mereka pun juga bisa menangani acaranya walau waktu yang diberikan terbatas. Tanyakan saja Desa Kemiren mengenai kunjungan ASEAN dan menteri-menteri negeri ini.
Oh, ya. Jangan lupa pula Anda tanyakan keterlibatan Desa Kemiren dengan PBB. Kang Edai menyatakan bahwa pada 5 Agustus 2026 silam, Desa Kemiren bertemu kembali dengan PBB. Sebelumnya, sekitar tahun 2025, perwakilan Desa Kemiren sempat pergi ke Tiongkok guna menerima program pengembangan desa wisata dari PBB. Siapa yang memungkinkan mereka pergi ke Tiongkok? Ya, Astra lewat Desa Sejahtera Astra. Siapa yang membuat Desa Kemiren pantas menerima program pengembangan desa wisata dari PBB? Kang Edai jawabannya.
Buah manis perjuangan Kang Edai sebagai ketua Desa Wisata Kemiren sekaligus Local Hero atau penggerak desa pilihan Astra juga tampak dari penampakan Desa Kemiren zaman sekarang.
Desa Kemiren Masa Kini
Sekarang, berdasarkan data yang diberikan tim Astra dan Kang Edai sendiri, Desa Kemiren memiliki 40 pelaku usaha lokal di bidang kuliner, kerajinan, dan kopi, 50 homestay atau tempat penginapan yang dikelola masyarakat dengan jumlah total kamar 92 kamar, dan 40 anggota Kelompok Sadar Wisata atau POKDARWIS yang mengelola kegiatan wisata dan pelestarian budaya.
Semenjak kehadiran Desa Wisata Astra pula, pendapatan POKDARWIS meningkat dari yang awalnya mendapat 1.5 juta rupiah menjadi 2 juta rupiah. Oh, ya. Desa Kemiren sekarang juga memiliki usaha Kopi Kemiren Jaran Goyang. Dikutip dari situs resminya, Kopi Jaran Goyang dibanderol mulai dari Rp40.000.
Atas jasa Kang Edai pulalah, Desa Kemiren diliput oleh media sekelas Kompas. Desa Kemiren juga mendapat beragam penghargaan selain dari Kementerian Pariwisata dan PBB seperti Wonderful Indonesia Impact dan ASEAN Tourism Award 2025.
Kang Edai sendiri senang dengan pekerjaannya sebagai Local Hero Desa Kemiren. Walau desa tempat beliau tinggal hanya seluas seratus hektar, beliau bangga dengan potensinya yang luar biasa. Bagi beliau, ada dua potensi yang dimiliki Desa Kemiren: Lingkungannya dan budaya Osing di dalamnya.
Banyak pengunjung Desa Kemiren ingin melihat masyarakatnya dan budayanya. Ada pula yang ingin melihat pemandangan tropis dan sawahnya yang luar biasa asri serta menarik.
Baca Juga
-
Mengenal Desa Kemiren: Menjaga Budaya Osing Bersama Desa Sejahtera Astra
-
Dari Angkot hingga MRT: Bagaimana Transportasi Publik Jakarta Menemani Perjalanan Hidupku
-
Bukan Cuma Kartu Pokemon, Fenomena Scalper Kini Mengancam Pernak-pernik Piala Dunia
-
Di Balik Pesona Jaguar Meksiko: Mengapa Maskot Piala Dunia 2026 Membawa Pesan Konservasi?
-
3 Rekomendasi Resto Sushi Halal di Mall Kelapa Gading, Patut Dicoba!
Artikel Terkait
-
Pupuk Kompos Desa Les dan Peran Nyoman Nadiana dalam Menjaga Lingkungan
-
Dari Kepedulian Warga Menuju Kemandirian Desa: Jejak Kang Edai Membangun Kemiren
-
Menolak Lupa di Tanah Adat: Asa Kang Edai dan Astra Merawat Suku Osing
-
Dari Tradisi Jadi Prestasi: Cerita di Balik Bangkitnya Desa Wisata Kemiren
-
Resiliensi Pesisir Tejakula: Restorasi Ekologi Bawah Laut Desa Les
Kolom
-
Pupuk Kompos Desa Les dan Peran Nyoman Nadiana dalam Menjaga Lingkungan
-
Dari Kepedulian Warga Menuju Kemandirian Desa: Jejak Kang Edai Membangun Kemiren
-
Revisi Buku Ajar atau Nasib Guru, Mana Prioritas Pendidikan Nasional?
-
Menolak Lupa di Tanah Adat: Asa Kang Edai dan Astra Merawat Suku Osing
-
Dari Tradisi Jadi Prestasi: Cerita di Balik Bangkitnya Desa Wisata Kemiren
Terkini
-
Fenomena Doom Spending: Saat Nabung Terasa Percuma, Gen Z Pilih Belanja
-
Sepucuk Surat dalam Film Dear You Mengajarkan Arti Rindu yang Hilang
-
The First Responders Season 2 dan Pertarungan Otak Melawan Dalang Kejahatan
-
Ulasan Wedding Impossible: Mengkritisi Norma di Balik Tuntutan Menikah
-
Lawan Patriarki! 5 Novel Populer Ini Berisi tentang Kritik Feminisme