Lintang Siltya Utami | Miranda Nurislami Badarudin
Ilustrasi Sekolah Rakyat (ChatGPT)
Miranda Nurislami Badarudin

Kemiskinan selalu menjadi persoalan yang sulit diberantas karena akar masalahnya tidak pernah berdiri sendiri. Ia terkait dengan akses pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, kualitas lingkungan, hingga kebijakan ekonomi yang berlaku. Selama puluhan tahun, berbagai program bantuan sosial diluncurkan oleh pemerintah dengan tujuan mengurangi angka kemiskinan. Namun, sebagian besar program tersebut lebih banyak berfungsi sebagai penyangga agar masyarakat miskin dapat bertahan hidup daripada benar-benar keluar dari lingkaran kemiskinan.

Dalam konteks inilah gagasan Sekolah Rakyat muncul sebagai salah satu program yang menarik perhatian publik. Pemerintah berupaya menyediakan pendidikan gratis yang menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Program ini tidak hanya menawarkan fasilitas belajar, tetapi juga asrama, konsumsi, pembinaan karakter, hingga pengembangan keterampilan hidup. Tujuannya jelas yaitu, memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan.

Pertanyaannya, apakah Sekolah Rakyat benar-benar mampu menjadi solusi jangka panjang bagi kemiskinan? ataukah ia hanya akan menjadi program yang baik di atas kertas tetapi sulit menghasilkan perubahan struktural yang nyata?

Mengapa Kemiskinan Sulit Diputus?

Salah satu teori yang sering digunakan untuk memahami kemiskinan adalah teori cycle of poverty atau lingkaran kemiskinan. Teori ini menjelaskan bahwa keluarga miskin cenderung melahirkan generasi yang juga miskin karena keterbatasan akses terhadap sumber daya penting, terutama pendidikan.

Anak yang lahir dari keluarga miskin umumnya menghadapi berbagai hambatan sejak dini. Mereka berisiko mengalami gizi buruk, akses pendidikan yang terbatas, kualitas sekolah yang rendah, hingga tekanan ekonomi yang membuat mereka harus bekerja lebih cepat dibandingkan melanjutkan pendidikan. Akibatnya, mereka tumbuh dengan keterampilan yang terbatas dan hanya memiliki peluang memasuki pekerjaan berupah rendah. Kondisi tersebut kemudian diwariskan kembali kepada generasi berikutnya.

Dalam perspektif ini, pendidikan sering disebut sebagai "lift sosial" yang memungkinkan seseorang naik dari kelompok ekonomi bawah menuju kelompok ekonomi yang lebih baik. Namun lift tersebut tidak selalu tersedia bagi semua orang. Banyak anak miskin bahkan tidak pernah mencapai pintu lift tersebut.

Karena itulah Sekolah Rakyat hadir dengan logika yang cukup sederhana: jika hambatan ekonomi menjadi penghalang utama pendidikan, maka negara harus menghilangkan hambatan tersebut sepenuhnya.

Sekolah Rakyat dan Gagasan Negara Kesejahteraan

Konsep Sekolah Rakyat sebenarnya tidak lahir dari ruang kosong. Program semacam ini memiliki akar kuat dalam gagasan negara kesejahteraan (welfare state), yakni negara yang bertanggung jawab memastikan setiap warga negara memperoleh hak-hak dasar, termasuk pendidikan.

Dalam teori pembangunan manusia yang dikemukakan oleh ekonom India, kemiskinan bukan sekadar kekurangan uang. Kemiskinan adalah keterbatasan kemampuan seseorang untuk memilih dan menjalani kehidupan yang ia nilai berharga.

Dengan kata lain, seorang anak miskin tidak hanya kekurangan pendapatan, tetapi juga kehilangan kesempatan untuk berkembang. Pendidikan berkualitas menjadi salah satu sarana utama untuk memperluas kesempatan tersebut.

Sekolah Rakyat tampaknya dibangun berdasarkan semangat ini. Negara tidak hanya memberikan bantuan uang, melainkan menyediakan lingkungan pendidikan yang lebih komprehensif. Anak-anak tidak perlu memikirkan biaya sekolah, seragam, makanan, tempat tinggal, atau kebutuhan dasar lainnya.

Secara teoritis, pendekatan ini jauh lebih progresif dibandingkan bantuan tunai semata karena berusaha membangun kapasitas manusia (human capital).

Kekuatan Besar yang Dimiliki Sekolah Rakyat

Jika dikelola secara serius, Sekolah Rakyat memiliki beberapa potensi yang cukup menjanjikan.

Pertama, program ini dapat mengurangi ketimpangan akses pendidikan. Selama ini kualitas pendidikan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi keluarga. Anak dari keluarga mampu memiliki peluang lebih besar mengakses sekolah berkualitas, bimbingan belajar, teknologi, dan lingkungan yang mendukung. Sekolah Rakyat berusaha mempersempit kesenjangan tersebut dengan menyediakan fasilitas yang relatif setara bagi anak-anak miskin.

Kedua, lingkungan asrama memungkinkan proses pendidikan berlangsung lebih intensif. Pendidikan tidak hanya terjadi di dalam kelas, tetapi juga melalui pembiasaan sehari-hari, pembentukan karakter, disiplin, dan pengembangan keterampilan sosial.

Ketiga, program ini berpotensi mencegah anak putus sekolah. Banyak anak dari keluarga miskin yang berhenti sekolah bukan karena tidak ingin belajar, melainkan karena tuntutan ekonomi keluarga. Dengan seluruh kebutuhan ditanggung negara, risiko putus sekolah dapat berkurang secara signifikan.

Keempat, Sekolah Rakyat dapat menjadi investasi jangka panjang. Hasil pendidikan memang tidak terlihat dalam satu atau dua tahun. Namun dalam jangka waktu 10 hingga 20 tahun, lulusan yang memiliki keterampilan lebih baik berpotensi memperoleh pekerjaan yang lebih layak dan meningkatkan taraf hidup keluarganya.

Namun, Pendidikan Bukan Obat Ajaib

Meskipun memiliki banyak kelebihan, melihat Sekolah Rakyat sebagai solusi tunggal kemiskinan adalah pandangan yang terlalu sederhana. Kemiskinan merupakan masalah multidimensional. Pendidikan hanyalah salah satu bagian dari persoalan yang jauh lebih besar.

Seorang anak yang lulus dari sekolah berkualitas tetap membutuhkan lapangan kerja yang memadai. Ia membutuhkan ekonomi yang tumbuh, investasi yang menciptakan pekerjaan, dan sistem pasar kerja yang sehat. Jika lapangan pekerjaan berkualitas tetap terbatas, maka lulusan Sekolah Rakyat bisa saja mengalami nasib yang sama seperti banyak lulusan perguruan tinggi yang kesulitan memperoleh pekerjaan sesuai kompetensinya.

Di sinilah pentingnya melihat hubungan antara pendidikan dan pembangunan ekonomi. Pendidikan memang meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tetapi kualitas sumber daya manusia hanya dapat berkembang optimal jika tersedia ruang ekonomi yang mampu menyerapnya.

Pelajaran dari Berbagai Negara

Banyak negara membuktikan bahwa pendidikan mampu menjadi alat yang efektif untuk mengurangi kemiskinan. Namun, keberhasilan tersebut hampir tidak pernah lahir hanya karena sekolah yang baik. Pendidikan selalu berjalan berdampingan dengan kebijakan ekonomi yang membuka kesempatan kerja dan meningkatkan produktivitas masyarakat.

Setelah berakhirnya perang, Korea Selatan melakukan investasi besar-besaran di bidang pendidikan sambil mendorong industrialisasi. Pemerintah membangun sektor manufaktur, teknologi, dan ekspor sehingga jutaan tenaga kerja terdidik dapat terserap ke dalam dunia industri. Pendidikan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, sementara pertumbuhan ekonomi menyediakan ruang bagi mereka untuk bekerja dan meningkatkan taraf hidup.

Pengalaman Singapura menunjukkan pola yang serupa. Sejak awal pembangunan, pemerintah menempatkan pendidikan sebagai fondasi pengembangan sumber daya manusia. Namun, di saat yang sama, negara tersebut juga menciptakan iklim investasi yang kondusif, menarik perusahaan-perusahaan global, serta menyesuaikan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja. Hasilnya, lulusan sekolah tidak hanya memiliki keterampilan, tetapi juga peluang yang nyata untuk memperoleh pekerjaan dengan pendapatan yang lebih baik.

Pengalaman kedua negara tersebut menunjukkan bahwa pendidikan bukanlah solusi yang berdiri sendiri. Pendidikan akan memberikan dampak maksimal apabila didukung oleh pertumbuhan ekonomi, investasi, lapangan kerja yang memadai, serta kebijakan pembangunan yang berkelanjutan. Tanpa faktor-faktor tersebut, peningkatan kualitas pendidikan belum tentu mampu mengangkat masyarakat keluar dari kemiskinan.

Karena itu, keberhasilan Sekolah Rakyat tidak hanya bergantung pada kualitas proses belajar mengajar atau kelengkapan fasilitas yang disediakan. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan Indonesia menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan lapangan kerja yang mampu menyerap lulusan-lulusan tersebut. Jika keduanya berjalan beriringan, Sekolah Rakyat berpeluang menjadi instrumen mobilitas sosial yang nyata, bukan sekadar program bantuan pendidikan.

Risiko Menjadi Program Seremonial

Setiap program besar pemerintah selalu menghadapi risiko yang sama: menjadi proyek jangka pendek yang bergantung pada pergantian kepemimpinan. Banyak kebijakan di Indonesia dimulai dengan semangat tinggi, tetapi melemah ketika perhatian politik bergeser. Pergantian pejabat, perubahan prioritas anggaran, atau pergantian pemerintahan sering kali membuat program kehilangan arah.

Sekolah Rakyat membutuhkan komitmen jangka panjang karena hasilnya baru akan terlihat setelah bertahun-tahun. Jika program ini hanya dijadikan proyek populis untuk menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat miskin, maka dampaknya akan sangat terbatas.

Pendidikan bukan proyek lima tahunan. Pendidikan adalah investasi antargenerasi. Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya pembangunan gedung sekolah atau perekrutan tenaga pendidik, tetapi juga jaminan keberlanjutan kebijakan.

Mengukur Keberhasilan dengan Cara yang Benar

Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam evaluasi kebijakan publik adalah terlalu fokus pada angka jangka pendek. Keberhasilan Sekolah Rakyat tidak seharusnya diukur hanya dari jumlah gedung yang dibangun atau jumlah siswa yang diterima. Indikator yang lebih penting adalah apakah para lulusan mampu meningkatkan kualitas hidup mereka setelah meninggalkan sekolah.

Apakah mereka melanjutkan pendidikan tinggi?

Apakah mereka memperoleh pekerjaan yang layak?

Apakah pendapatan keluarga mereka meningkat?

Apakah mereka berhasil keluar dari kategori miskin?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih relevan dibandingkan sekadar statistik administratif.

Jika dalam satu atau dua dekade mendatang lulusan Sekolah Rakyat menunjukkan mobilitas sosial yang signifikan, maka program ini dapat disebut berhasil.

Harapan yang Tidak Boleh Dibiarkan Padam

Pada akhirnya, Sekolah Rakyat merupakan gagasan yang patut diapresiasi karena berangkat dari keyakinan bahwa anak-anak miskin berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Namun kita juga perlu bersikap realistis. Pendidikan memang dapat menjadi jalan keluar dari kemiskinan, tetapi ia bukan satu-satunya jalan. Kemiskinan adalah persoalan yang melibatkan struktur ekonomi, distribusi kesempatan, kualitas kebijakan publik, hingga kemampuan negara menciptakan pembangunan yang inklusif.

Sekolah Rakyat memiliki potensi menjadi salah satu terobosan sosial paling penting dalam beberapa tahun terakhir apabila dijalankan secara konsisten, profesional, dan berkelanjutan. Sebaliknya, jika hanya berhenti pada pembangunan fisik dan pencitraan politik, program ini berisiko menjadi catatan panjang dalam daftar kebijakan yang pernah menjanjikan banyak hal tetapi gagal mengubah kenyataan.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, pertanyaan tentang Sekolah Rakyat sesungguhnya bukan hanya soal pendidikan. Pertanyaan yang lebih besar adalah sejauh mana negara bersedia berinvestasi pada masa depan anak-anak yang selama ini hidup di pinggiran kesempatan.

Karena kemiskinan tidak akan hilang hanya dengan memberi bantuan. Kemiskinan baru benar-benar berkurang ketika setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi keluarganya, memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi, belajar, dan mewujudkan masa depannya.