Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Demo (Unsplash/@fajargrinanda)
Oktavia Ningrum

Kabar mengenai sejumlah pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang mengaku menerima uang setelah menghadiri undangan ke Istana memicu perdebatan di ruang publik. Bagi sebagian orang, nominal yang disebut tidak terlalu besar sehingga dianggap sekadar uang transportasi atau pengganti biaya kegiatan. Namun bagi yang lain, persoalannya bukan terletak pada besar kecilnya uang, melainkan pada makna di balik penerimaannya.

Dalam kehidupan publik, ada nilai yang jauh lebih mahal daripada uang, yaitu integritas.

Sejak kecil, banyak dari kita tumbuh dengan nasihat yang sederhana tetapi kuat: boleh hidup sederhana, tetapi jangan menjual kejujuran. Boleh tidak kaya, tetapi jangan mengambil sesuatu yang bukan hak. Nilai-nilai seperti kehormatan, amanah, dan harga diri diajarkan bukan karena mudah dijalankan, melainkan karena justru akan diuji ketika seseorang dihadapkan pada godaan.

Godaan itu sering kali tidak datang dalam bentuk miliaran rupiah. Justru ia hadir dalam nominal yang tampak sepele.

Satu juta rupiah.

Dua juta rupiah.

Fasilitas perjalanan.

Jamuan makan.

Atau sekadar perlakuan istimewa.

Di titik itulah karakter seseorang mulai terlihat.

Masalah etika tidak selalu diukur dari besar kecilnya nilai materi. Dalam dunia antikorupsi dikenal konsep conflict of interest atau benturan kepentingan. Sebuah pemberian mungkin tidak langsung mengubah sikap seseorang, tetapi ia berpotensi memengaruhi independensi, atau setidaknya menimbulkan kesan bahwa independensi tersebut telah terganggu.

Karena itu, banyak institusi menetapkan aturan ketat mengenai penerimaan hadiah, fasilitas, maupun bentuk pemberian lain, sekalipun nilainya relatif kecil.

Mahasiswa, terutama mereka yang menjadi pengurus organisasi seperti BEM, memegang posisi yang unik. Mereka bukan sekadar peserta didik, melainkan representasi moral kampus. Ketika berbicara di depan publik, mereka membawa nama mahasiswa, bukan hanya nama pribadi. Oleh sebab itu, standar etik yang melekat pada mereka juga semestinya lebih tinggi.

Bukan berarti setiap mahasiswa yang menerima uang otomatis kehilangan integritas. Setiap kasus tentu memiliki konteks yang harus dijelaskan secara terbuka.

Apakah uang tersebut merupakan penggantian biaya transportasi yang sesuai aturan? Apakah ada kesepakatan sebelumnya? Apakah penerimaannya transparan dan dipertanggungjawabkan? Semua itu perlu dijelaskan agar tidak menimbulkan prasangka.

Namun, apabila penerimaan tersebut menimbulkan kesan bahwa kritik dapat dilunakkan atau sikap dapat berubah karena sejumlah uang atau fasilitas, maka persoalannya sudah melampaui nominal yang diterima. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan publik.

Kepercayaan adalah modal terbesar seorang aktivis.

Sekali publik meragukan independensinya, suara kritis yang disampaikan sesudahnya akan selalu dipandang dengan kecurigaan. Bukan karena argumennya salah, tetapi karena integritas pembicaranya telah dipertanyakan.

Di sinilah pendidikan keluarga dan lingkungan memiliki peran penting. Banyak orang tua tidak mewariskan harta berlimpah kepada anak-anaknya. Yang mereka tinggalkan justru prinsip hidup. Mereka mengajarkan bahwa kehormatan tidak memiliki harga. Bahwa ada hal-hal yang tidak boleh ditukar dengan uang sebanyak apa pun.

Nilai-nilai seperti itu mungkin terdengar kuno di tengah budaya yang semakin materialistis. Namun justru karena langka, nilainya menjadi semakin tinggi.

Sejarah menunjukkan bahwa keruntuhan integritas hampir selalu dimulai dari kompromi-kompromi kecil. Seseorang tidak tiba-tiba menjadi koruptor besar dalam semalam. Ia biasanya memulai dengan membenarkan hadiah kecil, fasilitas kecil, atau keuntungan kecil. Lama-kelamaan, batas antara yang pantas dan yang tidak pantas menjadi kabur.

Karena itu, jangan pernah meremehkan nominal. Yang menentukan bukan angka pada uangnya, melainkan nilai yang dikorbankan untuk mendapatkannya.

Pada akhirnya, hidup manusia memang singkat. Harta, jabatan, maupun fasilitas tidak akan ikut dibawa ketika kehidupan berakhir. Yang tersisa hanyalah jejak yang pernah ditinggalkan: apakah seseorang dikenal sebagai pribadi yang teguh memegang prinsip, atau justru mudah menggadaikan integritas ketika dihadapkan pada kenyamanan sesaat.

Bagi siapa pun yang memilih berada di ruang publik. Mahasiswa, aktivis, pejabat, maupun tokoh masyarakat. Kehormatan adalah aset yang jauh lebih mahal daripada uang. Sekali rusak, ia sulit dipulihkan. Karena itulah, menjaga integritas bukan sekadar soal mematuhi aturan, melainkan tentang menghargai diri sendiri.

Sebab harga diri yang dipertahankan akan dikenang lebih lama daripada uang yang habis dibelanjakan dalam hitungan hari.