Desa Kemiren, Banyuwangi, ramai dibicarakan lewat pertunjukan Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, hingga Tari Gandrung yang memikat wisatawan dari dalam dan luar negeri. Tapi di balik atraksi budaya yang jadi sorotan itu, ada dua instalasi biogas dan sistem pengelolaan sampah warga yang jarang masuk dalam cerita—padahal dari sanalah sebagian keberlanjutan Desa Sejahtera Astra Kemiren sebenarnya bermula.
Kemiren dikenal luas sebagai "living museum" masyarakat Osing—rumah bagi Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, Tari Gandrung, hingga arsitektur tradisional yang masih dihuni, bukan sekadar dipajang. Setiap tahun, lebih dari 3.000 wisatawan domestik dan mancanegara datang untuk menyaksikannya. Namun di balik derap kunjungan itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan: siapa yang menjaga agar desa wisata ini tidak lantas kewalahan oleh dampaknya sendiri?
Jawabannya ada pada sosok Kang Edai, penggerak lokal yang sejak Astra mulai mendampingi Kemiren pada 2024, tidak hanya sibuk merawat budaya, tapi juga membangun kesadaran bahwa desa wisata yang bertahan lama butuh fondasi lingkungan yang kuat.
Sampah yang Tidak Dibiarkan Jadi Masalah
Desa wisata biasanya identik dengan konsekuensi lingkungan: sampah wisatawan menumpuk, air limbah homestay tak terkelola, dan lahan yang makin sesak oleh pembangunan. Kemiren memilih jalan berbeda. Bersama warga, Kang Edai menginisiasi pembentukan kelompok sadar lingkungan yang berfokus pada dua hal sekaligus: pengelolaan sampah organik-nonorganik dan pemanfaatan limbah ternak.
Limbah dari kandang-kandang warga, yang dulunya hanya menjadi persoalan kebersihan, kini diolah menjadi pupuk organik. Dua unit biogas yang telah dibangun menjadi bukti bahwa pengelolaan limbah bisa berjalan beriringan dengan kebutuhan energi rumah tangga. Warga juga didorong memilah residu sampah nonorganik agar tidak menumpuk sia-sia. Semua ini dilakukan bukan sebagai proyek satu kali jadi, melainkan sebagai kebiasaan yang dijaga bersama Pokdarwis—kelompok sadar wisata yang kini beranggotakan 40 orang.
Di sinilah letak keunikan Kemiren: pelestarian budaya dan kesadaran lingkungan tidak berjalan sebagai dua agenda terpisah. Keduanya justru saling menopang. Wisatawan datang untuk budaya Osing yang otentik, tapi keotentikan itu hanya bisa dijaga jika lingkungan tempat budaya itu hidup juga dirawat.
Tiga Bidang Lain yang Menopang
Tentu, pekerjaan Kang Edai dan Desa Sejahtera Astra Kemiren tidak berhenti di isu lingkungan. Di bidang kesehatan, pendampingan diarahkan pada penguatan Posyandu, penyediaan sarana kesehatan dasar, serta dukungan kesehatan ibu dan anak—fondasi yang memastikan warga tetap sehat di tengah aktivitas wisata yang makin padat.
Di bidang pendidikan, PAUD Desa Kemiren diperkuat dengan sarana belajar dan pengenalan budaya Osing sejak usia dini, agar generasi muda tidak hanya mewarisi tradisi, tapi juga memahami nilai di baliknya.
Sementara di bidang kewirausahaan, semangat menjaga lingkungan berpadu dengan pemberdayaan ekonomi: 50 homestay dengan 92 kamar dan 40 pelaku usaha kuliner, kerajinan, serta kopi kini digerakkan warga sendiri. Pendapatan rata-rata anggota Pokdarwis tercatat naik sekitar 33 persen, dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan.
Keberlanjutan yang Tidak Selalu Terlihat
Penghargaan demi penghargaan dari Wonderful Indonesia Impact, Anugerah Desa Wisata Indonesia, ASEAN Tourism Award 2025, hingga The Best Tourism Village Upgrade Program 2025, memang layak disematkan pada Kemiren. Tapi penghargaan-penghargaan itu sering membuat orang lupa bahwa keberlanjutan sebuah desa wisata jarang lahir dari hal-hal besar yang tampak di panggung.
Ia lahir dari kelompok sadar lingkungan yang rutin memilah sampah, dari dua instalasi biogas yang jarang jadi bahan cerita dibanding atraksi budaya, dari kebiasaan kecil yang dijaga konsisten oleh warga dan digerakkan sosok seperti Kang Edai. Justru karena tidak mencolok, upaya-upaya inilah yang paling mudah luput dari sorotan—padahal di situlah keberlanjutan sesungguhnya diuji: bukan pada seberapa ramai desa dikunjungi, tapi pada seberapa lama desa itu mampu menampung keramaian tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Kemiren, dengan caranya sendiri, sedang membuktikan bahwa jawabannya bisa jadi ada di balik hal-hal kecil yang jarang diceritakan itu.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Kang Edai, Sosok di Balik Warisan Budaya Desa Kemiren
-
Genjer, Stigma, dan Kang Edai, Sang Penggerak Desa Sejahtera Astra Kemiren
-
Menjaga Laut, Garam, dan Tradisi Desa Les di Tengah Modernitas
-
Kisah Kang Edai Jadikan Budaya Osing Sebagai Motor Ekonomi Desa Kemiren Banyuwangi
-
Kisah Desa Les Buleleng: Merawat Tradisi Nyegara Gunung dan Konservasi Alam Bersama Astra
Kolom
-
Cara Sederhana Ibu Rayakan Kemerdekaan, Lomba Hias Tumpeng di Sekolah Anak
-
Satu Porsi Sehari Bukan Solusi: Logika MBG di Tengah Beban Makan Keluarga
-
Telat Sehari, Ulang dari Nol: Menggugat Logika Aturan Perpanjangan SIM
-
Genjer, Stigma, dan Kang Edai, Sang Penggerak Desa Sejahtera Astra Kemiren
-
Menjaga Laut, Garam, dan Tradisi Desa Les di Tengah Modernitas
Terkini
-
Cegah Penuaan! 4 Serum Anti-Aging Korea Kunci Wajah Awet Muda dan Kenyal
-
Semarak HUT RI, Ini 5 Lomba Tradisional dari Berbagai Daerah di Indonesia
-
Ikhlas Tinggalkan MotoGP, Jack Miller Siap Buktikan Diri di WorldSBK 2027
-
Kang Edai, Sosok di Balik Warisan Budaya Desa Kemiren
-
Film Na Willa dan Masa Ketika Masalah Terbesar Hanya Tak Bisa Bermain