Memasuki tahun ajaran baru, banyak orang tua dihadapkan pada kenyataan bahwa anak mereka belum berhasil mendapatkan kursi di sekolah dasar negeri. Kondisi ini membuat sebagian keluarga mulai melirik Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) sebagai alternatif pendidikan bagi buah hati.
Tak sedikit orang tua yang awalnya menganggap SDIT hanya unggul dari sisi pendidikan agama. Padahal, sekolah berbasis Islam terpadu juga menawarkan berbagai pembiasaan positif yang dinilai mampu mendukung perkembangan karakter sekaligus akademik anak.
Berikut beberapa keuntungan menyekolahkan anak di SDIT yang saya sudah rasakan langsung sebagai orang tua.
Pembiasaan Hafalan Surah
Salah satu keunggulan SDIT adalah adanya mata pelajaran agama yang lebih banyak dibanding sekolah dasar pada umumnya. Salah satunya ialah program tahfiz Al-Qur'an yang menjadi bagian dari kegiatan belajar mengajar.
Melalui program ini, siswa memiliki target hafalan yang disesuaikan dengan jenjang kelas. Di banyak SDIT, peserta didik ditargetkan mampu menghafal Juz 30 secara bertahap dengan menyetorkan hafalan kepada guru setiap pekan.
Sebagai orang tua, kita tak perlu pusing-pusing mengajarkan hafalan di rumah, sebab anak sudah mendapat bimbingan langsung dari guru sehingga proses menghafal menjadi lebih terarah dan konsisten.
Selain membantu meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an, pembiasaan ini juga melatih kedisiplinan serta tanggung jawab anak sejak usia dini.
Pembiasaan Salat Dhuha
SDIT juga dikenal dengan kebiasaan menjalankan salat dhuha secara berjamaah sebagai bagian dari aktivitas harian siswa.
Selain melaksanakan salat dhuha, siswa juga diajarkan membaca doa setelah salat. Kebiasaan sederhana ini diharapkan dapat membentuk karakter disiplin sekaligus menanamkan nilai spiritual sejak dini.
Semarak Peringatan Hari Besar Islam
Kegiatan di SDIT tidak hanya berfokus pada pembelajaran di dalam kelas. Sekolah juga rutin mengadakan berbagai aktivitas untuk memperingati hari-hari besar Islam.
Misalnya saat Tahun Baru Islam, siswa diajak mengikuti pawai atau kegiatan edukatif lainnya yang melibatkan masyarakat sekitar. Sementara pada bulan Ramadan, sekolah biasanya mengadakan pesantren kilat, tadarus Al-Qur'an bersama, berbagi takjil, hingga santunan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Kegiatan tersebut memberikan pengalaman langsung kepada anak mengenai pentingnya berbagi, bekerja sama, dan mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan begitu, pembelajaran agama tidak berhenti pada teori, tetapi juga dipraktikkan melalui berbagai aktivitas sosial yang membentuk karakter anak.
Sistem Full Day School
Orang tua juga merasa tenang karena SDIT menerapkan sistem full day school alias belajar seharian penuh yang membuat siswa menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah dengan berbagai kegiatan yang terjadwal.
Selain belajar di kelas, anak mengikuti ibadah bersama, makan siang, permainan edukatif, hingga kegiatan ekstrakurikuler. Jadwal yang padat membuat waktu luang mereka lebih banyak diisi aktivitas positif.
Ketika pulang ke rumah, anak umumnya sudah merasa lelah setelah menjalani berbagai kegiatan di sekolah. Kondisi tersebut secara tidak langsung membantu mengurangi waktu bermain gadget maupun menonton televisi secara berlebihan.
Bagi banyak orang tua, hal ini menjadi salah satu keuntungan karena anak lebih aktif berinteraksi dengan teman-temannya dibanding menghabiskan waktu di depan layar.
Meski demikian, setiap orang tua memiliki pertimbangan yang berbeda dalam memilih sekolah untuk anak. Jika belum berhasil masuk SD negeri, SDIT dapat menjadi salah satu alternatif yang layak dipertimbangkan karena tidak hanya memberikan pendidikan akademik, tetapi juga membangun kebiasaan positif dan pembentukan karakter sejak usia dini.
Baik sekolah negeri maupun SDIT sama-sama memiliki tujuan mendidik anak menjadi pribadi yang berilmu dan berakhlak baik, sehingga pilihan terbaik tetap disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan masing-masing keluarga.
Baca Juga
-
Dicibir karena Animasi Jelek, Niu Lai Jadi Box Office Saingi The Odyssey
-
6 Rekomendasi Horor Psikologis di Netflix, Siap Mengguncang Kewarasan
-
Sinopsis Monster: The Lizzie Borden Story, Ungkap Kisah Pembunuhan Sadis
-
Agnez Mo Raih Posisi 6 IMDb STARmeter Berkat Perankan Lila Hoth
-
Gosho Aoyama Ungkap Draft Bab Terakhir Detective Conan, Benarkah Segera Tamat?
Artikel Terkait
-
BRI Peduli Peringati Hari Anak Nasional Lewat Kegiatan Edukatif di Enam Sekolah
-
Hadapi Suhu yang Kian Panas, Anak SD Diajak Merancang Sekolah yang Lebih Sejuk
-
Khawatir Masa Depan Anak di Era AI? Ini Rahasia Menyiapkannya Menjadi Lifelong Learner
-
Perjuangan Orang Tua di Balik Antrean PPDB: Antara Pendidikan Anak dan Dompet yang Menipis
-
Guru Hebat Tak Cukup, Pendidikan Anak Dimulai dari Rumah
Kolom
-
Paradoks Jajanan SD versus MBG: Mengapa Proyek Besar Justru Rawan Keracunan?
-
Modern Dad dan Warisan Patriarki: Mengubah Cara Ayah Hadir dalam Pengasuhan
-
Aging Population dan Gen Z yang Terjepit Generasi Sandwich
-
Tren Personal Branding oleh Gen Z: Sesulit Itukah Menjadi Diri Sendiri?
-
Be Wise: Bagaimana Membaca Menjadi Aplikator Sosial untuk Membaca Karakter Manusia
Terkini
-
Jangan Bolak-balik Servis, Ini 5 Tanda Sudah Waktunya Kamu Ganti Laptop Baru
-
Yel-yel Regu Tulip di Jamnas 2026 Viral, Ghea Indrawari Nyanyikan Live!
-
Serbaguna! 5 Pelembap Wajah dan Tubuh Ampuh Mengunci Kelembapan Kulit
-
The Magician's Nephew: Menelusuri Penciptaan dan Asal Mula Dunia Narnia
-
Review Serial Reacher Season 2: Drama Kriminal Penuh Adrenalin dan Taktik!