Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Pendidikan Indonesia (Unsplash/Bayu Syaits)
Oktavia Ningrum

Kualitas pendidikan ditentukan oleh kualitas gurunya. Kalimat ini sering diulang dalam berbagai diskusi tentang pendidikan. Guru memang menjadi ujung tombak proses belajar di sekolah. Mereka mengajarkan ilmu, membentuk karakter, sekaligus membimbing peserta didik menghadapi berbagai tantangan.

Namun, jika dikatakan bahwa kualitas pendidikan semata-mata ditentukan oleh guru, rasanya kesimpulan itu terlalu sederhana. Ada faktor yang justru hadir jauh sebelum seorang anak mengenal ruang kelas, yakni keluarga. Tepatnya, pola asuh orang tua.

Anak pertama kali belajar bukan di sekolah, melainkan di rumah. Sebelum mengenal huruf, angka, atau rumus matematika, mereka lebih dulu belajar berbicara, bersikap, menghargai orang lain, mengendalikan emosi, hingga membangun kebiasaan. Semua proses itu berlangsung dalam lingkungan keluarga. Karena itulah, rumah sering disebut sebagai sekolah pertama, sedangkan orang tua adalah guru pertama bagi setiap anak.

Guru yang hebat memang mampu menginspirasi muridnya. Namun, waktu seorang guru bersama siswa sangat terbatas. Dalam sehari, anak mungkin hanya berada di sekolah selama enam hingga delapan jam. Selebihnya mereka kembali ke rumah, tempat kebiasaan dan nilai-nilai kehidupan dibentuk.

Jika lingkungan keluarga mendukung proses belajar, apa yang diajarkan guru akan lebih mudah berkembang. Sebaliknya, jika rumah dipenuhi konflik, minim perhatian, atau tidak menghargai pendidikan, kerja keras guru sering kali menjadi jauh lebih berat.

Tidak sedikit guru yang menceritakan pengalaman menghadapi siswa cerdas, tetapi kehilangan motivasi karena kurang mendapatkan dukungan dari rumah. Ada anak yang tidak pernah didampingi belajar, tidak memiliki jadwal tidur yang teratur, kecanduan gawai tanpa pengawasan, bahkan tumbuh dalam lingkungan yang penuh pertengkaran. Dalam situasi seperti itu, guru tidak hanya mengajarkan pelajaran sekolah, tetapi juga berusaha menutupi kekosongan yang seharusnya diisi oleh keluarga.

Sebaliknya, banyak pula anak yang berasal dari keluarga sederhana, bersekolah di tempat yang biasa saja, tetapi mampu berprestasi karena memperoleh dukungan penuh dari orang tuanya. Orang tua mungkin tidak mampu mengajarkan matematika tingkat lanjut atau bahasa asing, tetapi mereka mampu menanamkan disiplin, rasa ingin tahu, tanggung jawab, dan semangat belajar. Nilai-nilai inilah yang sering menjadi fondasi keberhasilan akademik maupun kehidupan sosial anak.

Tentu, bukan berarti guru menjadi tidak penting. Justru guru memiliki peran yang sangat besar dalam mengembangkan potensi setiap peserta didik. Guru yang kompeten mampu menjelaskan materi dengan baik, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, mengenali kebutuhan siswa, dan menjadi teladan dalam bersikap. Tanpa guru yang berkualitas, sistem pendidikan juga akan kehilangan arah.

Namun, menyandarkan seluruh keberhasilan atau kegagalan pendidikan kepada guru merupakan pandangan yang kurang adil. Pendidikan adalah hasil kerja bersama antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Guru tidak bisa bekerja sendirian. Mereka membutuhkan dukungan orang tua yang mau berkomunikasi, mendampingi anak, dan menghargai proses belajar di rumah.

Sayangnya, masih ada anggapan bahwa begitu anak masuk sekolah, seluruh tanggung jawab pendidikan berpindah kepada guru. Ketika nilai anak menurun, guru yang disalahkan. Ketika perilaku anak bermasalah, sekolah yang dianggap gagal. Padahal, pendidikan karakter tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada institusi pendidikan. Karakter dibangun setiap hari melalui contoh yang diberikan orang tua di rumah.

Di era digital, peran keluarga bahkan menjadi semakin penting. Anak-anak kini tumbuh di tengah banjir informasi yang tidak semuanya membawa dampak positif. Sekolah memang dapat mengajarkan literasi digital, tetapi pengawasan penggunaan gawai, pembatasan waktu layar, hingga penanaman nilai moral tetap sangat bergantung pada keluarga. Tidak ada guru yang dapat mengawasi muridnya selama 24 jam.

Karena itu, memperbaiki kualitas pendidikan tidak cukup hanya dengan meningkatkan kompetensi guru atau memperbaiki kurikulum. Orang tua juga perlu dibekali pemahaman mengenai pola asuh yang positif, pentingnya keterlibatan dalam pendidikan anak, serta komunikasi yang sehat di dalam keluarga. Ketika rumah dan sekolah berjalan searah, peluang anak untuk berkembang akan jauh lebih besar.

Pada akhirnya, kualitas pendidikan bukanlah hasil kerja satu profesi atau satu institusi. Guru memang memiliki peran yang luar biasa, tetapi pondasi pendidikan dibangun di rumah. Sebaik apa pun guru mengajar, hasilnya akan sulit maksimal jika lingkungan keluarga tidak mendukung.

Sebaliknya, pola asuh yang baik akan memperkuat apa yang diajarkan di sekolah. Maka, pertanyaan yang lebih tepat bukanlah siapa yang paling menentukan kualitas pendidikan, melainkan bagaimana guru dan orang tua dapat berjalan berdampingan.

Sebab, anak tidak membutuhkan salah satunya. Mereka membutuhkan keduanya.