Memilih jurusan kuliah seharusnya menjadi salah satu keputusan paling menyenangkan dalam hidup. Momen ini idealnya menjadi kesempatan bagi seseorang untuk mendalami bidang yang disukai, mengembangkan bakat, lalu menjadikannya sebagai bekal untuk membangun karier.
Namun, bagi banyak calon mahasiswa di Indonesia, pilihan tersebut sering kali harus melewati pertimbangan yang lebih realistis, yaitu peluang kerja dan masa depan setelah lulus.
Pertanyaan seperti “Kalau lulus nanti kerja apa?” seakan menjadi hal wajib sebelum seseorang menentukan jurusan. Akibatnya, banyak orang lebih memilih jurusan yang dianggap menjanjikan meski tidak sepenuhnya sesuai dengan minat mereka.
Lantas, sampai sejauh mana seseorang harus mengorbankan minat demi mengejar peluang kerja?
Jurusan "Aman" Menjadi Pilihan Rasional
Saya semakin sering menemukan cerita dari calon mahasiswa yang mengaku memilih jurusan bukan karena minat, tetapi karena dianggap memiliki prospek kerja yang lebih jelas.
Jurusan seperti manajemen, akuntansi, teknik, atau kesehatan menjadi pilihan utama karena dinilai relatif "aman".
Sebaliknya, jurusan seni, sastra, hingga ilmu-ilmu sosial tertentu kerap dipandang sebelah mata dengan alasan sulit mendapatkan pekerjaan. Seolah-olah, value sebuah jurusan hanya ditentukan oleh peluang kerja setelah lulus.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dilema memilih jurusan kuliah di Indonesia bukan sekadar persoalan mengikuti passion atau tidak. Di baliknya ada kekhawatiran yang jauh lebih besar, yaitu ketatnya persaingan kerja, tingginya biaya pendidikan, dan ketidakpastian masa depan.
Saya tidak sepenuhnya setuju jika generasi muda dianggap terlalu materialistis hanya karena memilih jurusan dengan prospek kerja yang baik.
Menurut saya, keputusan itu justru lahir dari kondisi yang mereka hadapi. Kuliah membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Banyak keluarga menganggap pendidikan tinggi sebagai investasi yang harus memberikan hasil nyata setelah lulus.
Tidak heran jika pertimbangan utama saat memilih jurusan adalah peluang mendapatkan pekerjaan. Akibatnya, banyak calon mahasiswa mengesampingkan minat pribadi demi memilih jurusan yang dianggap lebih menjanjikan.
Pasar Kerja yang Sempit Membentuk Cara Berpikir
Menurut saya, akar persoalannya bukan terletak pada anak muda yang dianggap kurang berani mengikuti minat. Masalahnya justru ada pada kondisi pasar kerja di Indonesia yang belum mampu menyediakan peluang yang cukup beragam.
Kita sering melihat jurusan-jurusan unik berkembang di berbagai negara. Ada program studi yang sangat spesifik sesuai kebutuhan industri kreatif, teknologi, olahraga, hingga budaya. Lulusan dari bidang-bidang tersebut memiliki ruang untuk berkembang karena industrinya memang tersedia.
Sementara itu, di Indonesia, banyak orang merasa harus memilih jurusan yang "aman" karena pilihan pekerjaan masih terkonsentrasi pada sektor tertentu.
Ketika lapangan kerja yang tersedia tidak terlalu beragam, wajar jika calon mahasiswa berbondong-bondong memilih jurusan yang dianggap memiliki peluang lebih besar. Akhirnya, kampus pun ikut menyesuaikan diri dengan permintaan pasar.
Fenomena ini juga menjelaskan mengapa banyak mahasiswa yang akhirnya membangun keterampilan tambahan di luar perkuliahan.
Mereka belajar desain, membuat konten digital, menjadi pekerja lepas, hingga merintis usaha kecil karena gelar sarjana saja dirasa belum cukup untuk bersaing di dunia kerja.
Membangun Masa Depan Tanpa Mengubur Minat
Saya percaya semua jurusan itu punya value masing-masing dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Hanya saja, negara seharusnya mampu menciptakan ekosistem kerja yang menghargai beragam keahlian.
Selama lapangan kerja masih terbatas dan persaingan semakin ketat, jurusan dengan prospek kerja tinggi akan terus menjadi primadona, sementara jurusan lain akan terus dipandang sebagai pilihan yang berisiko.
Jadi, proses pengambilan keputusan soal jurusan bukan semata-mata soal keberanian mengejar minat atau tidak. Tidak semua mahasiswa memiliki privilese untuk mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan kondisi ekonomi keluarga, biaya pendidikan, hingga peluang mendapatkan pekerjaan setelah lulus.
Lucunya, kita ingin anak muda punya mimpi besar, tetapi ketika mereka memilih mimpi yang tidak dianggap menghasilkan, mereka harus berhadapan dengan stigma bahwa pilihannya tidak punya masa depan.
Baca Juga
-
Nasib Karier Working Mom: Mengapa Dunia Kerja Belum Beri Ruang yang Setara?
-
Ulasan Nice to Not Meet You: Krisis Identitas di Balik Pekerjaan Impian
-
Rekening Donasi Dibekukan: Penegakan Hukum atau Pembatasan Demokrasi?
-
Nasib Satwa di Tengah Karhutla: Tanpa Hak Suara, Hidup Ditentukan Manusia
-
Miraculous Brothers: Thriller Fantasi dengan Jejak Misteri Lintas Waktu
Artikel Terkait
-
Polemik KIP Kuliah Gara-Gara Desil Berubah, Gus Ipul Pastikan Masih Ada Jalan bagi Mahasiswa
-
Kuliah di Persimpangan Zaman: Masihkah Menjadi Investasi Terbaik?
-
Kabar 60.000 Calon Mahasiswa Mundur, Imbas Biaya Kuliah Mahal?
-
Mau Kuliah di Kampus Top Luar Negeri? 4 Strategi Susun Portofolio untuk Raih Beasiswa Impian
-
Singa di Media Sosial, Anak Kucing di Ruang Kuliah: Mengapa Kita Gagap Menulis Ilmiah?
Kolom
-
Karhutla Membara, Saham Sawit Melonjak: Kebetulan atau Pertanda?
-
Tubuh Perempuan di Balik Energi Bersih dan Ketidakadilan Geografis
-
15 Jam Jalan Membuka Mata: Potret Ketimpangan Layanan Kesehatan Indonesia
-
Seberapa Merdeka Gen Z di Era Medsos: Lebih Bebas atau Justru Tertekan?
-
Andai Satwa bisa Bicara: Rumah Kami Berapi Bukan karena Takdir Tuhan
Terkini
-
Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2, Keberanian Para Penyihir Muda
-
Ulasan The Book You Wish Your Parents Had Read: Belajar Menjadi Orang Tua dari Kesalahan Masa Lalu
-
Ketika Kecantikan Menjadi Komoditas: Membaca Belantik karya Ahmad Tohari
-
5 HP Murah dengan Performa Flagship, Nomor 1 Paling Ganas
-
Demi Meninggalkan Jalanan, Ia Menukar Namanya dengan Sebuah Petualangan