Lintang Siltya Utami | Tarassa Q.
Ilustrasi pekerja yang stres (Unsplash/Resume Genius)
Tarassa Q.

Ada satu pertanyaan yang belakangan ini semakin sering terdengar di kalangan pekerja: haruskah saya resign? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya terasa semakin rumit. Di satu sisi, banyak orang bekerja di lingkungan yang tidak sehat. Atasan yang gemar memarahi karyawan di depan umum, beban kerja yang terus bertambah tanpa kompensasi, jam kerja yang melampaui batas, hingga gaji yang bahkan masih berada di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Setiap hari terasa melelahkan, bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental.

Namun, di sisi lain, kondisi ekonomi membuat keputusan untuk mengundurkan diri menjadi sesuatu yang menakutkan. Lapangan pekerjaan terasa semakin sempit. Lowongan memang terlihat banyak di internet, tetapi persaingan juga semakin ketat. Tidak sedikit perusahaan yang membuka satu posisi dan menerima ribuan pelamar. Proses rekrutmen pun bisa berlangsung berbulan-bulan tanpa kepastian. Sering kali pelamar bahkan tidak mendapatkan kabar apa pun setelah wawancara.

Di tengah situasi seperti ini, resign bukan lagi sekadar keputusan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Resign berarti mempertaruhkan stabilitas hidup. Ada banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepala, seperti bagaimana jika tabungan habis sebelum mendapatkan pekerjaan baru? Bagaimana jika sudah melamar ke puluhan perusahaan tetapi belum juga diterima? Bagaimana jika ternyata kondisi pasar kerja memang sedang tidak berpihak?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus menghantui banyak orang. Akibatnya, pilihan yang diambil bukan lagi berdasarkan apa yang diinginkan, melainkan apa yang dianggap paling aman. Akhirnya, bertahan menjadi pilihan yang terasa paling realistis.

Ironisnya, bertahan juga bukan berarti hidup menjadi lebih mudah. Banyak pekerja datang ke kantor hanya untuk menjalani rutinitas tanpa semangat. Mereka menghitung jam pulang, menahan emosi ketika menghadapi lingkungan kerja yang toksik, lalu mengulang siklus yang sama keesokan harinya. Bukan karena mereka mencintai pekerjaannya, tetapi karena mereka takut pada ketidakpastian. Fenomena ini menunjukkan bahwa "bertahan" sering kali bukan tanda seseorang nyaman. Bisa jadi itu adalah bentuk kompromi terhadap keadaan.

Media sosial memang sering dipenuhi narasi yang terdengar optimistis. Ada yang mengatakan, "Kalau tempat kerjamu toxic, tinggal resign saja." Ada pula yang menyarankan untuk mengejar kebahagiaan tanpa ragu. Sayangnya, kehidupan nyata tidak sesederhana unggahan tersebut.

Tidak semua orang memiliki dana darurat yang cukup untuk menganggur selama enam bulan. Tidak semua orang memiliki keluarga yang bisa menjadi tempat bergantung. Banyak yang harus membayar cicilan, membantu orang tua, atau memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam kondisi seperti itu, resign tanpa rencana justru bisa menghadirkan tekanan baru yang tidak kalah berat.

Di sisi lain, terus bertahan di lingkungan kerja yang buruk juga memiliki konsekuensi. Kesehatan mental dapat menurun, motivasi perlahan menghilang, dan rasa percaya diri ikut terkikis. Lama-kelamaan seseorang bisa merasa terjebak, seolah tidak memiliki pilihan lain selain menerima keadaan.

Inilah mengapa banyak pekerja hari ini hidup dalam situasi yang terasa serba salah. Pergi terasa berisiko, tapi tetap tinggal juga terasa menyiksa. Mungkin karena itulah kita mulai melihat semakin banyak orang yang memilih strategi "bertahan sambil mencari jalan keluar". Mereka tetap bekerja demi menjaga pemasukan, tetapi diam-diam memperbarui CV, mengikuti pelatihan daring, membangun portofolio, memperluas jaringan profesional, atau mencari penghasilan tambahan. Bukan karena mereka takut berubah, melainkan karena mereka ingin perubahan itu terjadi dengan risiko yang lebih terukur.

Barangkali inilah wajah dunia kerja saat ini. Kita sering menganggap keberanian hanya dimiliki oleh mereka yang berani meninggalkan pekerjaannya. Padahal, dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian seperti sekarang, bertahan juga membutuhkan keberanian yang tidak sedikit. Keberanian untuk tetap bangun setiap pagi, menjalani pekerjaan yang tidak selalu menyenangkan, sambil terus berusaha membuka peluang baru.

Semoga suatu hari nanti, keputusan untuk resign bukan lagi didasarkan pada rasa takut atau keterpaksaan, melainkan karena benar-benar ada kesempatan yang lebih baik di depan. Sampai saat itu tiba, tidak ada salahnya jika sebagian orang memilih bertahan. Bukan karena mereka menyerah pada keadaan, tetapi karena terkadang bertahan adalah cara paling rasional untuk menjaga masa depan tetap terbuka.