Pernikahan seharusnya menjadi momen yang penuh kebahagiaan. Hari itu menjadi awal perjalanan dua orang yang berkomitmen membangun rumah tangga bersama. Namun, di tengah masyarakat kita, makna pernikahan sering kali bergeser. Yang menjadi sorotan bukan lagi kesiapan pasangan menjalani kehidupan setelah menikah, melainkan seberapa megah pesta yang berhasil mereka selenggarakan. Gedung harus mewah, dekorasi harus mengikuti tren, katering harus melimpah, dokumentasi harus berkelas, dan jumlah tamu harus mencapai ratusan bahkan ribuan orang. Seolah-olah kemewahan resepsi menjadi ukuran keberhasilan sebuah pernikahan.
Masalahnya, tidak semua orang memiliki kemampuan finansial untuk mewujudkan pesta impian tersebut. Sayangnya, tekanan sosial membuat banyak pasangan tetap memaksakan diri. Demi menjaga gengsi atau memenuhi harapan keluarga besar, mereka rela berutang dalam jumlah yang tidak sedikit. Padahal, kehidupan rumah tangga justru baru dimulai setelah pesta selesai.
Saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana ambisi menggelar pernikahan mewah justru menjadi pemicu retaknya hubungan keluarga. Seorang sepupu ingin mengadakan resepsi dengan anggaran mencapai ratusan juta rupiah. Dana yang dimiliki tidak mencukupi sehingga ia berusaha meminjam uang kepada keluarga. Ketika harapan itu tidak terpenuhi karena memang tidak ada dana yang bisa dipinjamkan, respons yang muncul sungguh di luar dugaan. Bukannya memahami kondisi tersebut, ia justru memusuhi keluarga yang tidak dapat membantunya. Hubungan yang sebelumnya baik berubah menjadi canggung, bahkan komunikasi sempat terputus.
Pengalaman itu membuat saya berpikir, mengapa pesta yang hanya berlangsung satu hari bisa mengorbankan hubungan keluarga yang telah terjalin bertahun-tahun? Bukankah kebersamaan jauh lebih berharga daripada dekorasi mewah atau gedung yang megah?
Ironisnya, kejadian seperti ini bukan sesuatu yang langka. Banyak orang merasa malu jika pesta pernikahannya dianggap terlalu sederhana. Ada ketakutan akan komentar tetangga, omongan kerabat, atau perbandingan dengan pesta saudara yang lebih meriah. Akibatnya, kemampuan finansial sering kali diabaikan. Berutang ke bank, mengajukan pinjaman, bahkan berharap bantuan besar dari saudara dianggap sebagai solusi agar resepsi tetap terlihat sempurna.
Padahal, setelah tamu terakhir pulang dan dekorasi dibongkar, kenyataan yang dihadapi jauh berbeda. Cicilan bank tetap berjalan setiap bulan. Tabungan habis. Bahkan, sebagian pasangan memulai kehidupan rumah tangga dengan beban utang yang seharusnya bisa dihindari. Kondisi ini berpotensi memicu pertengkaran dalam rumah tangga, terutama ketika penghasilan harus lebih banyak dialokasikan untuk membayar utang daripada memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Yang lebih menyedihkan adalah ketika persoalan uang merusak hubungan antarkeluarga. Tidak semua saudara memiliki kemampuan finansial untuk memberikan pinjaman dalam jumlah besar. Menolak permintaan pinjaman bukan berarti tidak peduli, melainkan karena memang tidak mampu. Sayangnya, penolakan sering kali ditafsirkan sebagai kurangnya dukungan. Dari situlah rasa kecewa, sakit hati, hingga permusuhan mulai muncul.
Saya percaya tidak ada yang salah dengan menggelar pesta pernikahan yang mewah jika memang sesuai kemampuan. Namun, kemewahan yang dipaksakan hanya demi gengsi bukanlah keputusan yang bijak. Pernikahan bukan kompetisi untuk mengesankan tamu undangan. Sebagian besar tamu mungkin hanya mengingat makanan atau dekorasi selama beberapa hari, lalu melupakannya. Mereka tidak akan ikut membayar cicilan yang harus ditanggung pasangan selama bertahun-tahun.
Sudah saatnya kita mengubah cara memandang sebuah pernikahan. Keberhasilan rumah tangga tidak ditentukan oleh besarnya anggaran resepsi, melainkan oleh kesiapan pasangan menghadapi kehidupan bersama. Akan jauh lebih membanggakan memulai pernikahan tanpa utang daripada memiliki pesta yang mewah tetapi dibangun di atas beban finansial dan konflik keluarga.
Pada akhirnya, pesta hanyalah satu hari dalam kehidupan. Sementara hubungan keluarga dan perjalanan rumah tangga akan berlangsung selama bertahun-tahun. Jangan sampai keinginan tampil mewah justru meninggalkan luka yang jauh lebih lama daripada kemeriahan pesta itu sendiri.
Baca Juga
-
Habis Rp100 Ribuan, Puas Gak Ya Makan Kimchi Karubi Nikudon di Kimukatsu? Ini Pengalaman Aslinya!
-
Jatuh Cinta Seperti di Film-Film: Ketika Cinta Nyata Tak Selalu Seindah Skenario
-
Ulasan Novel Sang Pemanah: Menemukan Makna Hidup dari Sebuah Anak Panah
-
Ulasan Lalu, Baton Diserahkan: Ketika Keluarga Dibentuk oleh Kasih Sayang
-
Review Film Fiksi.: Ketika Cinta Berubah Menjadi Obsesi Mematikan
Artikel Terkait
Kolom
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?
-
Stop Sikap Overproud: Pejabat Bukan Raja, Kenapa Masih Disambut Berlebihan?
-
Tone Deaf Berkedok Self-Care: Tak Semua Orang Bisa Menjauh dari Bad News
-
Ironis! Guru Dipaksa Jadi "Pencicip Racun" Akibat Amputasi Logika Program MBG
-
Disebut "Jamet" hingga Difatwa Haram, Mengapa Sound Horeg Tetap Digemari?
Terkini
-
Bye-Bye Muka Tomat! Ini 4 Soothing Gel Mugwort Khusus Kulit Berminyak, Cuma 30 Ribuan
-
Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026
-
Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap
-
Manga You Are a Four Leaf Clover Diadaptasi ke Anime
-
Bertabur Bintang! Kim Yeon Koung, Lee Junho, dan Kazuha Resmi Jadi Staf Baru di Kian's Bizarre B&B 2