Sekar Anindyah Lamase | Fairus Farizki
Seorang pria maskulin memamerkan tato bertuliskan “I Am Strong” di lengannya. (Pexels/Mike Murray)
Fairus Farizki

Beberapa waktu lalu, saya mendengar cerita tentang seorang teman yang sedang berpacaran. Ceritanya sebenarnya sederhana, seperti pacarnya melarang ini, tidak boleh pergi ke sana, harus memberi kabar setiap saat, dan untuk melakukan sesuatu mesti minta izin terlebih dahulu.

Romantis? Katanya sih begitu. “Dia cuma terlalu sayang.” Kalimat semacam itu memang terasa ajaib. Kontrol bisa berubah menjadi perhatian hanya karena dibungkus kata cinta. Padahal kalau seseorang harus meminta izin untuk bertemu teman, menjelaskan keberadaannya setiap saat, dan hidupnya perlahan-lahan diatur oleh pasangan, mungkin yang sedang berlangsung bukan lagi pacaran, melainkan rapat koordinasi dengan satu orang sebagai ketua dan satu orang lagi sebagai bawahan.

Saya kemudian berpikir, mengapa ada laki-laki yang merasa harus menguasai pasangannya untuk membuktikan bahwa dirinya laki-laki? Di sinilah kita sampai pada satu istilah yang semakin sering terdengar: toxic masculinity.

Aliansi Laki-Laki Baru, dalam modul materi “Gender dan Maskulinitas” yang diterbitkan pada 2014, menjelaskan bagaimana laki-laki sejak kecil dibentuk dengan standar tertentu, ia harus tegas, keras, berwibawa, tidak menangis, tidak mengeluh, berani mengambil risiko, bahkan boleh saja berlaku kasar. Dalam relasi dengan pasangan, laki-laki juga dikonstruksikan sebagai pihak yang harus dominan karena dianggap sebagai sesosok pemimpin.

Masalahnya, konstruksi seperti ini tidak berhenti di ruang keluarga atau tongkrongan saja. Ia pun bisa masuk ke dalam hubungan asmara sebagaimana cerita teman saya tadi.

WHO bahkan memasukkan perilaku laki-laki yang mengontrol pasangan dan ketimpangan kuasa dalam relasi intim sebagai faktor yang berkaitan dengan kekerasan terhadap perempuan. WHO juga menjelaskan bahwa norma gender yang mempertahankan privilese laki-laki dan membatasi otonomi perempuan ikut memperbesar persoalan tersebut.

Jadi, ketika seorang laki-laki merasa pasangannya harus selalu menurut karena “saya laki-laki”, persoalannya di samping memang ada sifat-sifat posesif akut, ada juga konstruksi sosial yang membuat dominasi tersebut terlihat seperti kewajaran. Dominasi ini adalah bahan bakar sekaligus dampak dari lingkungan patriarkis. Masalahnya, patriarki ternyata tidak hanya memberi laki-laki kuasa. Ia juga menuntut pembayaran yang sepadan pada kita.

Sebab laki-laki yang sejak kecil diberi tahu bahwa menangis itu cengeng, mengeluh itu lemah, dan meminta bantuan itu memalukan, akhirnya punya ruang yang sangat sempit untuk menjadi manusia biasa. Sedih tidak boleh, takut jangan, bingung apalagi. Kalau sedang hancur, paling aman bilang, “Gue aman.” Padahal belum tentu. 

Data Pusiknas Bareskrim Polri menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga Agustus 2024 terdapat 928 kasus bunuh diri yang tercatat, dengan 714 di antaranya laki-laki dan 171 perempuan. Artinya, laki-laki mencapai 76,94 persen dari kasus yang tercatat dalam data tersebut.

Namun angka itu perlu dibaca hati-hati. Penelitian dalam The Lancet Regional Health Southeast Asia menemukan persoalan besar dalam pencatatan bunuh diri di Indonesia. Studi tersebut memperkirakan tingkat underreporting mencapai 859,10 persen ketika data kepolisian dibandingkan dengan estimasi WHO. Penelitian yang sama menemukan rasio kematian akibat bunuh diri perempuan dan laki-laki sebesar 1:2,11 berdasarkan data registrasi kematian 2020.

Dengan kata lain, angka resmi saja belum tentu mampu menceritakan seluruh persoalan. Tetapi satu pola tetap terlihat, bahwa laki-laki memiliki risiko kematian akibat bunuh diri yang lebih tinggi. Lalu mengapa laki-laki lebih sedikit terlihat meminta pertolongan?

Sebuah meta-analisis yang terbit pada 2025 dan mencakup 35 sampel menemukan bahwa semakin kuat seseorang mengidap toxic maskulinitas, semakin negatif sikapnya terhadap pencarian bantuan psikologis. Maskulinitas ini juga berkorelasi dengan meningkatnya self-stigma ketika seseorang mencari bantuan.

Ini seperti lelucon yang buruk. Kita mengajarkan laki-laki untuk selalu kuat, kemudian heran mengapa mereka kesulitan mengatakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

Tetapi sekali lagi, bukan berarti menjadi laki-laki, menjadi kuat, berani, tegas, atau bertanggung jawab adalah sesuatu yang buruk. Penelitian 2026 tentang maskulinitas dan bunuh diri justru menemukan bahwa hubungan antara “maskulinitas” secara keseluruhan dengan suicidality tidak signifikan. Yang lebih bermasalah adalah aspek tertentu, terutama pembatasan emosi dan tuntutan untuk mengejar status.

Jadi persoalannya adalah ketika masyarakat patriarkis hanya mengizinkan laki-laki menjadi kuat dengan cara menekan emosi, menolak kerentanan, mengontrol orang lain, dan menolak pertolongan. 

Laki-laki boleh tegas tanpa menjadi penguasa, boleh mencintai tanpa mengontrol, boleh marah tanpa menyakiti, dan yang paling sederhana, boleh mengatakan, “Gue lagi enggak baik-baik saja.” Barangkali itu bukan tanda bahwa seorang laki-laki kehilangan keperkasaannya. Justru mungkin, untuk pertama kalinya, ia sedang menjadi manusia.