M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
Ilustrasi gambar Generasi Z cemas akan Politik Global (Gemini AI/Nano Banana)
Ryan Farizzal

Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Di tengah hiruk-pikuk linimasa media sosial yang dipenuhi hiburan instan, terselip arus bawah kecemasan yang mendalam di kalangan Generasi Z. Ketegangan geopolitik yang terus memanas, konflik antarnegara yang tak berkesudahan, pergeseran konstelasi politik domestik maupun internasional, serta retorika para pemimpin dunia yang sering kali memecah belah, menciptakan sebuah atmosfer global yang penuh dengan ketidakpastian. Bagi Gen Z—generasi yang tumbuh besar di era keterbukaan informasi digital—berita mengenai krisis global tidak lagi menjadi konsumsi eksklusif para pengamat politik, melainkan realitas harian yang langsung mendarat di layar ponsel mereka setiap detik.

Kondisi ini memicu fenomena psikologis yang semakin nyata: kecemasan politik global (global political anxiety). Berbeda dengan generasi pendahulu yang mungkin memandang politik sebagai urusan musiman para elit, Gen Z merasakan dampak langsung dari ketidakpastian tersebut terhadap masa depan eksistensial mereka.

Ketika Panggung Politik Global Terasa Begitu Dekat dan Menakutkan

Generasi Z hidup pada masa di mana jarak geografis runtuh oleh teknologi. Ketika perang pecah di Eropa Timur atau Timur Tengah, dampaknya langsung terasa pada lonjakan harga energi dan pangan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Ketika hubungan antara adikuasa global memanas, ancaman perang dingin baru atau bahkan konflik nuklir bukan lagi sekadar teori sejarah di buku pelajaran, melainkan tajuk utama berita yang dibahas secara masif di TikTok, X (Twitter), dan Instagram.

Ketidakpastian ini menciptakan perasaan rapuh yang kronis. Gen Z melihat bagaimana sistem internasional yang seharusnya menjaga perdamaian tampak kewalahan menghadapi berbagai krisis. Krisis iklim yang beririsan dengan kebijakan politik, ancaman disinformasi masif yang disponsori oleh kepentingan politik tertentu, hingga instabilitas ekonomi global yang dipicu oleh kebijakan proteksionisme negara-negara besar, semuanya melebur menjadi satu beban psikologis yang berat. Mereka merasa sedang menavigasi masa depan di atas lantai kaca yang sewaktu-waktu bisa retak.

Krisis Iklim dan Politisasi Masa Depan Bumi

Salah satu titik temu paling nyata antara ketidakpastian politik dan kecemasan Gen Z adalah isu lingkungan hidup. Gen Z adalah generasi yang paling vokal menyuarakan kepedulian terhadap krisis iklim. Namun, mereka juga melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana komitmen iklim global sering kali dikorbankan demi kepentingan pragmatis para politisi dan oligarki energi.

Janji-janji manis tentang transisi energi hijau di panggung KTT internasional sering kali berujung pada kompromi politik yang mandul di tingkat nasional. Kesenjangan antara retorika politik dan tindakan nyata ini memicu kemarahan sekaligus rasa putus asa yang mendalam. Muncul istilah eco-grief atau duka ekologis—sebuah perasaan sedih dan cemas yang kronis akibat kerusakan lingkungan yang tidak kunjung mendapatkan solusi politik yang serius. Bagi Gen Z, ketidakpastian politik bukan hanya soal siapa yang menang pemilu, melainkan tentang apakah bumi ini masih layak huni bagi mereka di masa tua nanti.

Polarisasi Politik Domestik dan "Doomscrolling"

Tidak hanya di kancah internasional, dinamika politik domestik di berbagai negara juga turut menyumbang porsi besar pada kecemasan Gen Z. Polarisasi tajam, kampanye hitam, dan menguatnya politik identitas yang sering kali disebarkan melalui algoritma media sosial membuat ruang publik terasa toksik.

Kebiasaan mengonsumsi berita buruk secara terus-menerus (doomscrolling) menjadi jebakan harian yang sulit dihindari. Algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna melalui konten yang memicu emosi tinggi—kemarahan, ketakutan, dan kecemasan. Akibatnya, Gen Z terjebak dalam lingkaran informasi negatif yang membuat mereka merasa bahwa dunia sedang menuju kehancuran total. Kelelahan mental ini berujung pada sinisme politik: sikap apatis di mana sebagian anak muda memilih untuk menutup mata sama sekali dari politik karena merasa suara mereka tidak akan pernah bisa mengubah keadaan.

Mengubah Kecemasan Menjadi Aksi dan Ketahanan Mental

Kendati situasi ini tampak suram, menyerah pada kecemasan bukanlah satu-satunya pilihan yang dimiliki oleh Gen Z. Sejarah telah membuktikan berkali-kali bahwa generasi mudalah yang sering kali menjadi motor penggerak perubahan di saat-saat paling kritis. Tantangannya adalah bagaimana mengelola kecemasan politik tersebut agar tidak berujung pada kelumpuhan mental, melainkan menjadi bahan bakar untuk ketahanan diri dan aksi kolektif.

Langkah pertama yang esensial adalah melakukan detoksifikasi digital secara berkala. Menjaga kewarasan mental di tengah banjir informasi bukan berarti mengabaikan realitas dunia, melainkan membatasi paparan terhadap konten-konten provokatif yang tidak memberikan nilai tambah bagi kehidupan sehari-hari.

Kedua, alih-alih merasa tidak berdaya menghadapi konstelasi global yang besar, Gen Z dapat memulai perubahan dari lingkup terkecil. Keterlibatan dalam komunitas lokal, diskusi kritis yang sehat, pendidikan literasi politik untuk menangkal hoaks, serta menyalurkan aspirasi melalui jalur-jalur konstruktif adalah cara-cara untuk merebut kembali kendali atas masa depan mereka sendiri.

"Masa depan mungkin tidak pasti, tetapi ketidakpastian itu bukanlah alasan untuk berhenti berharap; ia adalah ruang kosong yang menunggu untuk dibentuk oleh keberanian generasi muda."

Menurut kamu, sejauh mana media sosial berperan dalam memperparah kecemasan politik di kalangan anak muda saat ini?