Sebagai anak rantau yang terbiasa menaiki motor sebagai alat transportasi sehari-hari, beralih menggunakan transportasi umum seperti KRL, MRT, TransJakarta, dan lain sebagainya merupakan hal yang sangat baru bagi saya. Tidak memiliki kendaraan pribadi di sini dan ingin menghemat uang bulanan membuat saya mau tidak mau mencoba untuk menaiki transportasi umum untuk mobilisasi.
Pada awalnya, saya enggan menaiki transportasi umum di Jakarta karena terlihat begitu rumit dengan banyaknya jalur dan perhentian yang ada. Namun, setelah saya mencoba menaiki KRL dan TransJakarta beberapa kali, tidak serumit yang saya bayangkan. Petugas di setiap stasiun maupun halte siap siaga membantu saya dan memberikan penjelasan yang mudah dimengerti. Tarif yang cukup terjangkau dan kemudahan akses transportasi umum ke berbagai tempat membuat saya nyaman tinggal di sini walaupun tidak memiliki kendaraan pribadi.
Manfaat yang Saya Rasakan Selama Menaiki Transportasi Umum
Tarif yang sangat terjangkau merupakan salah satu alasan kuat saya dalam memutuskan untuk menaiki transportasi umum. Bayangkan saja, dengan tarif Rp3.500 rupiah saya bisa menempuh jarak sejauh lebih dari 40 km (KRL Depok-Priok). Jika dibandingkan menaiki taksi online tarifnya bisa 40 kali lipat lebih mahal. Hal ini tentu saja sangat menguntungkan teman-teman perantau. Walaupun waktu yang ditempuh lebih lama, tetapi di saat inilah terdapat hal-hal yang tidak bisa kita dapatkan jika menaiki transportasi pribadi.
Contohnya saja kita secara tidak langsung belajar memanajemen waktu, mempertajam analisis kita dalam mencari alternatif rute yang efisien, meningkatkan empati atau kepekaan sosial kita dari memberikan tempat duduk kepada kelompok prioritas, serta tanpa kita sadari, langkah kecil yang kita lakukan dengan beralih menaiki transportasi umum dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca sebagai langkah nyata menjaga Bumi. Siapa sangka, hanya dengan satu keputusan kecil dan satu kartu kecil yang kita gunakan untuk mengakses sarana transportasi umum dapat melestarikan Bumi kita yang kian memburuk.
Mengapa Kita Harus Menaiki Transportasi Umum?
Tanpa kita sadari, mobilitas harian yang kita lakukan ternyata memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan jejak karbon. Berdasarkan Laporan IGRK MPV 2024, sektor transportasi merupakan salah satu penyumbang emisi terbesar di Indonesia dengan kontribusi 8,18% terhadap total emisi gas rumah kaca nasional. Angka ini bahkan mencapai 22% jika dihitung terhadap sektor energi secara keseluruhan.
Melihat kondisi tersebut, transisi menuju transportasi yang lebih efisien dan berkelanjutan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Fakta tersebut menunjukkan bahwa setiap pilihan moda transportasi kita sehari-hari secara langsung memengaruhi kondisi lingkungan. Menaiki transportasi umum adalah langkah kecil, tetapi manfaatnya sangat besar. Manfaatnya pun tidak hanya dirasakan oleh kita sebagai manusia saja, tetapi juga bagi lingkungan dan Bumi kita.
Pertama, transisi ini mendukung swasembada energi nasional dengan memperkuat kemandirian energi melalui sistem transportasi yang lebih hemat. Kedua, hal ini membuka akses pembiayaan hijau yang mendorong investasi pada proyek rendah karbon dan infrastruktur berkelanjutan. Ketiga, munculnya ekosistem transportasi berkelanjutan juga menciptakan lapangan kerja hijau baru. Keempat, efisiensi energi pada akhirnya menekan biaya operasional transportasi dalam jangka panjang. Terakhir, komitmen ini turut meningkatkan citra Indonesia di mata dunia sebagai negara yang serius dalam upaya pengendalian perubahan iklim nasional.
Oleh karena itu, beralih menggunakan transportasi yang ramah lingkungan bukanlah opsi, melainkan langkah krusial untuk mewujudkan masa depan yang berkelanjutan. Di sinilah pentingnya kita bijak memilih transportasi umum. Tindakan sederhana ini tidak hanya menekan emisi, tetapi juga mendukung swasembada energi, membuka akses pembiayaan hijau, menciptakan lapangan kerja baru, menekan biaya operasional, hingga meningkatkan citra Indonesia dalam pengendalian perubahan iklim.
Tag
Baca Juga
Artikel Terkait
Kolom
-
Menikmati Perjalanan: Alasan Aku Berhenti Mengarungi Kemacetan Sendirian
-
Dari Takut ke Terbiasa: Perjalananku Mengenal TransJakarta
-
Pekerja Commute: Dari "Pepes" ke Pelaku Net Zero Emission yang Sukses
-
Dari Penumpang Biasa Jadi Bagian Perubahan: Cerita Kecil Selamatkan Bumi Lewat KRL
-
Proyek 10 Kampus URI: Solusi Cetak Birokrat atau Pemborosan Dana APBN?
Terkini
-
Pecah Telur! Toy Story 5 Jadi Film Terlaris 2026 usai Raup Rp18,3 Triliun
-
Menolak Punah: Komunitas Menjadi Benteng Utama Karya Musik dan Buku Indie
-
Hasil Piala AFF 2026: Tiga Gol Mitchell Baker Bawa Indonesia Hajar Kamboja
-
Review Buku Navigating Night, Kisah Hangat Keluarga Imigran
-
Review Voicemails for Isabelle: Sebuah Arti Ketulusan Cinta yang Sejati