M. Reza Sulaiman | Oktavia Ningrum
Pertunjukan Budaya Desa Wisata Kemiren (instagram/@alifdzaki__)
Oktavia Ningrum

Tidak semua perubahan lahir dari kota besar. Ada kalanya, perubahan justru tumbuh dari desa yang luasnya hanya sekitar seratus hektare. Desa Adat Osing Kemiren di Kabupaten Banyuwangi menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah desa dengan sumber daya terbatas mampu menembus panggung internasional melalui kolaborasi yang tepat.

Di balik berbagai capaian tersebut, ada sosok Muhammad Edy Saputro atau yang akrab disapa Kang Edai. Sebagai Ketua Desa Wisata Kemiren sekaligus local hero dalam program Desa Sejahtera Astra (DSA), ia menyaksikan sendiri bagaimana sebuah program pendampingan tidak sekadar menghadirkan bantuan, melainkan mengubah cara masyarakat memandang pembangunan desa.

Sebelum bergabung dengan DSA pada 2024, perhatian utama Kang Edai tertuju pada pengembangan kewirausahaan dan desa wisata. Fokus tersebut memang wajar. Desa Kemiren dikenal sebagai pusat kebudayaan Suku Osing yang memiliki daya tarik kuat, mulai dari tradisi, kuliner, hingga kesenian. Pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat sekaligus ruang pelestarian budaya.

Namun, setelah menjadi bagian dari DSA, perspektif pembangunan desa menjadi lebih luas. Program yang mengusung empat bidang pengembangan itu membuka ruang kolaborasi lintas sektor. Desa tidak lagi hanya berbicara tentang kunjungan wisatawan, tetapi juga tentang lingkungan, pendidikan, dan kesehatan masyarakat.

Ketika Kolaborasi Mengangkat Desa Wisata Berbasis Budaya

Pertunjukan Budaya Desa Wisata Kemiren (instagram/@alifdzaki__)

Salah satu inisiatif yang lahir adalah pengolahan pupuk organik dan gerakan pemilahan sampah. Langkah ini menunjukkan bahwa desa wisata yang berkelanjutan tidak cukup hanya menjual keindahan budaya. Kelestarian lingkungan menjadi fondasi yang menentukan apakah sebuah destinasi mampu bertahan dalam jangka panjang.

Kolaborasi juga merambah dunia pendidikan. DSA menggandeng PAUD dan SD di Desa Kemiren untuk memperkuat berbagai program pembelajaran. Di sisi lain, Posyandu Kemiren turut memperoleh dukungan berupa sarana dan prasarana yang menunjang pelayanan kesehatan masyarakat. Pendekatan seperti ini memperlihatkan bahwa pembangunan desa bukanlah kumpulan proyek yang berdiri sendiri, melainkan ekosistem yang saling menguatkan.

Meski demikian, bagi Kang Edai, sektor yang paling terasa dampaknya tetaplah pengembangan desa wisata berbasis budaya. Selama ini, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kemiren memiliki semangat besar, tetapi sering kali terbentur keterbatasan fasilitas dan pembiayaan. Di sinilah peran DSA menjadi sangat nyata.

Local Hero dan Mimpi Besar Desa Kemiren Menembus Dunia

Salah 1 penggerak Desa Wisata Kemiren, Moh. Edi Saputro (Dok.Pribadi/Kang Eday)

Salah satu bentuk dukungan yang paling membanggakan adalah kesempatan mengikuti ajang penghargaan pariwisata di Tiongkok dan Kuala Lumpur. DSA membantu pembiayaan sehingga Desa Kemiren dapat mengirimkan satu orang perwakilan untuk mengikuti agenda internasional tersebut. Kesempatan seperti ini bukan sesuatu yang lazim dimiliki desa wisata. Bahkan, hanya delapan desa wisata dari Indonesia yang mendapat kesempatan mewakili bangsa dalam ajang penghargaan pariwisata di Tiongkok.

Keikutsertaan tersebut bukan semata mengejar penghargaan. Lebih dari itu, forum internasional menjadi ruang belajar, memperluas jejaring, sekaligus memperkenalkan budaya Osing kepada dunia. Desa yang sebelumnya hanya dikenal di tingkat lokal kini mulai diperhitungkan dalam percakapan pariwisata global.

Kang Edai mengaku bangga karena meskipun Desa Kemiren tidak luas, potensinya sangat besar. Pernyataan itu terasa sederhana, tetapi menyimpan makna penting. Selama ini, ukuran kemajuan sering kali diidentikkan dengan besarnya wilayah atau melimpahnya anggaran. Padahal, yang jauh lebih menentukan adalah kemampuan mengelola potensi dan membangun kolaborasi.

Dari Seratus Hektare Menuju Dunia, Kemiren Tak Lagi Sekadar Destinasi

Pertunjukan Budaya Desa Wisata Kemiren (instagram/@alifdzaki__)

Status Kemiren sebagai Desa Sejahtera Astra juga berawal dari capaian desa yang masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia. Saat kunjungan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat itu, Sandiaga Salahuddin Uno, tim Astra melihat potensi besar yang dimiliki Kemiren. Sejak saat itulah pendampingan DSA dimulai dan Kang Edai dipercaya menjadi local hero yang menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan berbagai program pengembangan.

Manfaat kolaborasi tersebut kini semakin terasa. Desa Kemiren tidak lagi terlalu khawatir ketika menerima agenda besar secara mendadak, baik kunjungan pejabat negara maupun tamu internasional. Kesiapan infrastruktur, kapasitas sumber daya manusia, hingga koordinasi antarpemangku kepentingan semakin matang. Bahkan pada 5 Agustus mendatang, Desa Kemiren dijadwalkan kembali bertemu dengan perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebuah momentum yang menunjukkan bahwa desa ini terus menarik perhatian dunia.

Kisah Kemiren membuktikan bahwa pembangunan desa tidak cukup hanya mengandalkan bantuan atau mengejar status destinasi wisata. Yang jauh lebih penting adalah membangun kolaborasi yang mampu memperkuat budaya, menjaga lingkungan, meningkatkan kualitas pendidikan, serta menyehatkan masyarakat secara bersamaan.

Ketika semua unsur itu berjalan beriringan, desa kecil pun mampu berbicara di panggung internasional tanpa kehilangan akar budayanya.