M. Reza Sulaiman | Dini Sukmaningtyas
Ritual Adat Barong Ider Bumi Kemiren (Instagram/desa_kemiren)
Dini Sukmaningtyas

Bagi warga Kemiren, sawah adalah pemandangan yang mereka lihat setiap hari. Begitu pula suara gendang, rumah-rumah adat, dan berbagai kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Semua itu bukan sesuatu yang sengaja dipertontonkan untuk wisatawan, melainkan memang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Osing di desa tersebut. Namun, bagi orang yang datang dari jauh, hal-hal sederhana tersebut bisa menjadi alasan untuk tinggal lebih lama.

Kemiren sendiri bukan desa dengan wilayah yang besar. Desa yang berada di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, ini luasnya sekitar 100 hektare.

Meski wilayahnya tidak luas, daya tarik Kemiren justru menjangkau banyak mata. Kehidupan masyarakat dan budaya Osing yang masih terjaga justru membuat Kemiren menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah, bahkan hingga mancanegara.

Awal Perjalanan Bersama Desa Sejahtera Astra

Moh. Edy Saputro atau Kang Edai, salah satu pengelola Desa Kemiren (Dokpri/Kang Edai)

Di tengah perjalanan Kemiren mengembangkan potensi desa, ada sosok Moh. Edy Saputro atau yang akrab disapa Kang Edai. Sebagai pengelola Desa Wisata Kemiren, ia telah terlibat dalam pengembangan pariwisata dan kewirausahaan desa sebelum Kemiren bergabung dengan Desa Sejahtera Astra.

Desa Kemiren semakin mendapat perhatian luas ketika masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat itu, Sandiaga Salahuddin Uno, berkunjung ke Kemiren. Kunjungan tersebut menjadi salah satu momentum yang kemudian mempertemukan Kemiren dengan Astra.

Pada 2024, Astra hadir dan menjadikan Kemiren sebagai salah satu desa binaannya. Bersama Desa Sejahtera Astra, arah pengembangan Kemiren kemudian meluas dan mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat yang menopang keberlangsungan desa.

Satu Desa dengan Berbagai Aspek yang Saling Menopang

Kegiatan warga Desa Kemiren di sawah (Instagram/desa_kemiren)

Sebelum bergabung dengan Desa Sejahtera Astra, pengembangan Kemiren lebih banyak berfokus pada desa wisata dan kewirausahaan.

Kang Edai mengakui, setelah masuk dalam program Desa Sejahtera Astra, ia perlu menyesuaikan pengembangan desa dengan empat bidang yang menjadi perhatian program, yakni kewirausahaan, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.

Penyesuaian itu kemudian melahirkan berbagai inisiatif yang sebelumnya belum menjadi bagian utama dari kegiatan desa wisata. Di bidang lingkungan, misalnya, muncul kegiatan pemilahan sampah plastik dan pengolahan sampah organik menjadi pupuk.

Kemudian di bidang pendidikan, Desa Sejahtera Astra menggandeng TK dan PAUD serta menjajaki penguatan di tingkat SD. Sementara di bidang kesehatan, perhatian diberikan melalui keterlibatan kader Posyandu dan penguatan sarana prasarana.

Kang Edai melihat bidang-bidang tersebut bukan sebagai program yang berdiri sendiri. Setelah dijalankan, ia justru menyadari bahwa satu bidang dapat mendukung bidang lainnya.

“Sebelum kami gabung di Desa Sejahtera Astra, kami hanya menjalankan satu bidang. Setelah ada Desa Sejahtera Astra, kami menjalankan tiga program lainnya yang ternyata saling berkaitan,” tutur Kang Edai saat diwawancarai melalui Google Meet, Sabtu (1/8/2026).

Ketika Kemiren Mulai Diperhitungkan di Panggung Dunia

Kang Edai bersama Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana saat menerima penghargaan Asean Tourism Award 2025 yang digelar di Persada Johor Convention Centre, Johor, Malaysia (banyuwangikab.go.id)

Perlahan, Desa Kemiren mulai menorehkan prestasi dalam berbagai ajang pariwisata di tingkat internasional. Desa Sejahtera Astra turut membantu pembiayaan sehingga Kemiren dapat mengirimkan delegasi untuk mengikuti agenda tersebut.

Kesempatan ini sangat penting karena keterbatasan biaya sering kali membuat desa harus berpikir ulang ketika ingin membawa potensi lokalnya ke panggung yang lebih luas.

Hasilnya, Kemiren sukses meraih ASEAN Tourism Award 2025 untuk kategori homestay. Tidak berhenti di sana, desa ini juga terpilih dalam The Best Tourism Village Upgrade Program 2025.

Bagi Kang Edai, melangkahnya Kemiren ke panggung internasional menjadi pencapaian yang membanggakan. Dengan wilayah yang relatif kecil, Kemiren justru mampu menunjukkan bahwa desa tidak harus besar untuk memiliki sesuatu yang layak dikenal dunia.

Warisan Budaya yang Menjadi Kekuatan Ekonomi

Potret wisatawan mancanegara yang mempelajari budaya Desa Kemiren (Instagram/desa_kemiren)

Bagi Kang Edai, salah satu perubahan yang paling terasa sejak Desa Kemiren bergabung dengan Desa Sejahtera Astra adalah semakin kuatnya pengembangan kewirausahaan melalui desa wisata.

Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) menjadi salah satu penggeraknya. Warga juga terlibat melalui pengelolaan homestay, kuliner, kerajinan, kopi, hingga berbagai aktivitas yang menawarkan pengalaman langsung kepada wisatawan.

Menariknya, wisatawan tidak hanya datang dari dalam negeri. Teknologi ikut memperluas jalan bagi orang-orang dari berbagai tempat untuk menemukan Kemiren.

Kang Edai pernah menerima tamu seorang guru musik asal Amerika Serikat yang datang untuk mempelajari musik Banyuwangi. Selama berada di Kemiren, ia bahkan belajar memainkan gendang bersama Kang Edai. Ada pula wisatawan asal Chile yang menghabiskan waktu selama empat hari untuk mengenal kehidupan masyarakat Kemiren.

Cerita yang tak kalah menarik datang dari seorang wisatawan asal Prancis. Ia mengetahui Kemiren setelah mencari informasi melalui ChatGPT. Dari informasi yang tersedia di internet, wisatawan tersebut menemukan kontak Kang Edai dan kemudian menghubunginya secara langsung.

“Pengaruh teknologi saat ini juga cukup tinggi. Saya ada tamu dari Prancis yang dari Bali mampir ke Banyuwangi karena dekat. Dia langsung menghubungi saya. Pas saya tanya dapat nomor saya dari mana, ternyata dari ChatGPT,” ujar Kang Edai.

Menurut Kang Edai, informasi mengenai Kemiren yang tersebar di internet ikut membuat desa tersebut lebih mudah ditemukan wisatawan. Media sosial, Google Maps, hingga berbagai informasi yang tersedia secara daring akhirnya menjadi pintu masuk baru bagi orang-orang yang sebelumnya mungkin tidak pernah mengetahui keberadaan Kemiren.

Cerita tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu membuat masyarakat semakin jauh dari akar budayanya. Jika dimanfaatkan dengan tepat, teknologi justru bisa menjadi jembatan yang membawa budaya lokal jadi mendunia.

Tumbuh Tanpa Mencabut Akar

Salah satu penduduk Desa Kemiren di rumah adat Osing (banyuwangikab.go.id)

Perjalanan Kemiren masih panjang. Bersamaan dengan berkembangnya desa, muncul pula tantangan untuk memastikan berbagai rencana pengembangan tetap sesuai dengan kondisi masyarakat dan lingkungan setempat.

Kang Edai mengakui, penyesuaian dengan program Desa Sejahtera Astra menjadi salah satu proses yang perlu dilalui.

Tidak semua rencana juga bisa langsung dijalankan karena sebagian lahan yang dibutuhkan merupakan milik pribadi. Bahkan, rencana pembangunan tempat pertunjukan budaya masih terus dibahas agar tidak mengubah ruang dan karakter Kemiren.

Di sinilah peran Kang Edai sangat krusial. Ia berada di antara masyarakat, pelaku usaha, dan berbagai pihak yang datang untuk mengenal Kemiren. Ia membantu membawa potensi Kemiren ke arah yang lebih luas, tanpa membuat desa kehilangan jati dirinya.

Barangkali, itulah arti sebenarnya dari tumbuh tanpa kehilangan akar, yaitu terus berkembang tanpa membiarkan kemajuan menghapus identitas yang telah dibangun sejak lama.