Dulu, seseorang dikatakan memiliki karier yang bagus jika mendapatkan kenaikan jabatan. Semakin tinggi posisi seseorang, ia akan semakin dianggap sukses di masyarakat. Namun, di dunia kerja modern, pandangan itu perlahan berubah.
Kini, sebagian pekerja tidak lagi menjadikan jabatan dan kenaikan karier sebagai satu-satunya tujuan. Ruang untuk beristirahat dan menjalani kehidupan di luar pekerjaan juga mulai dianggap penting.
Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran orientasi karier. Tidak semua orang ingin mengejar posisi tinggi jika konsekuensinya adalah tekanan kerja yang terus terbawa sampai rumah.
Lantas, apakah keinginan untuk tetap berada di posisi biasa berarti seseorang pemalas dan tidak ambisius?
Pergeseran Makna Kesuksesan dalam Karier
Kenaikan jabatan dianggap sebagai bukti bahwa seseorang kompeten, ambisius, dan punya masa depan yang cerah. Tidak heran jika promosi selalu dipandang sebagai kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.
Namun, belakangan muncul pandangan yang berbeda di media sosial. Semakin banyak orang mulai mencari sesuatu yang sederhana, tetapi ternyata sulit didapatkan di dunia kerja, yaitu ketenangan.
Pergeseran orientasi karier ini terlihat dari banyaknya pekerja yang merasa tidak masalah tetap berada di posisi biasa-biasa saja selama gajinya cukup layak dan kehidupan pribadinya tidak ikut berantakan.
Bagi mereka, bekerja, mendapatkan penghasilan, lalu pulang tanpa harus memikirkan pekerjaan sampai larut malam sudah merupakan bentuk work life balance yang berharga.
Sabtu dan Minggu bisa benar-benar digunakan untuk beristirahat, cuti tidak dipenuhi rasa bersalah, dan pesan dari atasan tidak terus-menerus masuk di luar jam kerja.
Dibandingkan memiliki jabatan mentereng tetapi harus selalu standby setiap saat, sebagian orang kini lebih memilih karier yang mungkin terlihat biasa saja, tetapi masih menyisakan ruang untuk hidup.
Tidak Mengejar Jabatan Bukan Berarti Tidak Ambisius
Orang yang memilih tidak mengejar promosi juga sering mendapatkan label tertentu. Mereka dianggap kurang ambisius, tidak punya target, takut keluar dari zona nyaman, atau bahkan tidak memiliki keinginan untuk berkembang.
Menurut saya, perubahan cara pandang ini bukan berarti semakin banyak orang menjadi malas atau kehilangan ambisi. Justru, kita sedang melihat perubahan dalam cara seseorang mendefinisikan kesuksesan profesional.
Tidak semua orang ingin hidupnya terus mengikuti tangga karier yang sama. Ada juga orang yang memang ingin mengejar posisi tinggi, dan itu sah-sah saja.
Selain itu, banyak orang menyadari bahwa kenaikan jabatan tidak hanya membawa kenaikan status dan gaji, tapi juga ada tanggung jawab dan tuntutanyang ikut bertambah.
Dengan kata lain, ada "harga" yang harus dibayar untuk sebuah kenaikan karier. Tambahan gaji dan status bisa saja sepadan bagi sebagian orang, tetapi belum tentu bagi orang lain.
Karier Seharusnya Menjadi Bagian dari Hidup
Pergeseran orientasi karier ini juga mengingatkan kita bahwa bekerja seharusnya memungkinkan seseorang untuk hidup, bukan justru membuat pekerja kehilangan kehidupan.
Tentu saja, tidak realistis mengharapkan pekerjaan selalu menyenangkan dan bebas tekanan. Setiap pekerjaan pasti memiliki target, masalah, konflik, dan masa-masa sibuk. Bahkan tempat kerja yang sehat pun tidak mungkin memberikan lingkungan yang sempurna.
Hanya saja, yang dicari adalah pekerjaan yang masih memahami boundaries, terutama batas antara jam kerja dan waktu pribadi.
Lagipula, Jika ukuran kesuksesan hanya berdasarkan seberapa jauh seseorang menaiki tangga karier, rasanya tidak akan pernah ada titik yang benar-benar cukup.
Kesuksesan tidak semestinya diukur dari seberapa tinggi posisi seseorang dalam struktur perusahaan, tetapi juga dari seberapa utuh hidupnya setelah meninggalkan kantor.
Baca Juga
-
Tumbuh Tanpa Kehilangan Akar: Desa Kemiren dan Jalan Panjang Merawat Budaya Osing
-
Ironi Ruang Kota: Ketika Mal Harus Terbuka, tapi "Rumah Rakyat" Dipagari Kawat Berduri
-
Ketika "Bersyukur" Jadi Tameng Eksploitasi: Membedah Crab Mentality di Dunia Kerja
-
Ulasan A Model Family: Menimbang Moralitas di Tengah Desakan Kehidupan
-
BGN Rilis Aplikasi Reviu MBG: Apakah Digitalisasi Menjawab Akar Masalah?
Artikel Terkait
Kolom
-
Pariwisata Kuatkan Ekonomi, Pendidikan Menjaga Jiwa Budaya Suku Osing
-
Bukan Sekadar Angka di Layar: Menagih Kedaulatan Rupiah dan Jurus BI Lepas dari Kecanduan Dolar
-
Saat Korban Pencurian Harus Mengingatkan Polisi Akan Tugasnya
-
Kisah Kang Edai: Local Hero yang Mengubah Desa Kemiren Menjadi Inspirasi
-
17 Agustus dan Dilema Mengibarkan Bendera: Apakah Kita Benar-benar Merdeka?
Terkini
-
Mengenal Komunitas Parkour Jakarta: Mengubah Stigma Olahraga Ekstrem Jadi Seni Disiplin Tubuh
-
Berlatar London Abad ke-19, Film ke-46 Doraemon Tayang Musim Semi 2027
-
Menuju Akreditasi Unggul 2027, Universitas Muhammadiyah Jambi Gelar Baitul Arqam Dosen & Tendik
-
Ternyata Fanatisme Film Samakdo Lebih Horor dari Teror Setan, Ngeri Banget!
-
Kisah Desa Kemiren Banyuwangi Mendunia Berkat Komitmen Jaga Budaya Lokal