"Enak, ya, jadi kamu."
Familiar dengan kalimat itu, Sobat Yoursay?
Banyak orang mengucapkan kalimat itu tanpa bermaksud menyakiti. Saya sendiri juga kerap mengatakannya tanpa sadar. Enak, ya, dia bisa liburan terus ke luar negeri. Enak, ya, dia tiap hari bisa jalan-jalan. Enak, ya, dia punya orang tua yang selalu ada untuknya. Enak, ya, dia punya keluarga yang kompak. Dan masih banyak lagi "enak, ya" lainnya.
Kalimat sederhana itu sekilas terdengar seperti pujian. Seolah orang yang mengucapkannya memang sedang memuji hidup orang yang terlihat baik-baik saja dari luar. Padahal yang sebenarnya terjadi tidak sesederhana itu. Di balik kehidupan "enak" yang diperlihatkan seseorang setiap hari, ada proses panjang yang sering kali tak pernah terlihat orang lain.
Kalimat "enak, ya" sering kali muncul karena yang kita lihat hanya hasil akhirnya saja. Kita tak pernah benar-benar tahu seperti apa perjuangan yang telah mereka lalui. Tantangan yang mereka hadapi pun tentu sama tidak mudahnya dengan kita atau bahkan lebih berat. Hanya saja, bagian itulah yang sering kali tidak tampak di hadapan orang lain.
Bisa saja orang yang kita lihat sering liburan ke luar negeri, dulu bekerja sangat keras demi bisa melakukan itu. Orang yang kita lihat jalan-jalan di luar setiap hari, mungkin punya keluarga yang membuat mereka tidak betah di rumah. Keluarga yang kita lihat selalu kompak dan saling mendukung, bisa saja diuji dengan hal yang tak pernah orang lain tahu.
Bukan hanya itu. Mereka pun memiliki perjuangan dan tantangan yang mungkin tidak kalah berat. Terkadang ada yang harus lembur demi memperoleh lebih banyak tabungan untuk traveling. Beberapa orang lainnya ada yang harus berkali-kali gagal sebelum memperoleh pekerjaannya sekarang. Ada yang merasakan penolakan seperti makanan sehari-hari. Ada pula yang diam-diam belajar skill baru agar bisa mengambil lebih banyak pekerjaan. Tidak jarang pula yang mengorbankan waktu, keinginan, dan gaya hidupnya untuk menabung selama bertahun-tahun.
Setiap perjuangan dan kesulitan itu tak pernah terpublikasi. Apalagi di era media sosial saat ini, kita lebih sering melihat momen-momen terbaik yang dibagikan seseorang daripada proses panjang yang mengantarkannya ke sana. Kita jarang menyaksikan proses seseorang secara utuh, sehingga otak lebih mudah mengaitkan setiap keberhasilan yang mereka dapat dengan "keberuntungan" atau keadaan yang tampak menyenangkan. Ini terjadi karena kita sebagai manusia cenderung membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang terlihat. Akibatnya, satu kalimat sederhana itu tadi bisa terdengar seolah menghapus semua perjuangan yang pernah dilalui.
Namun, inilah masalahnya. Kita sering kali lupa bahwa setiap orang hanya menunjukkan bagian hidup yang ingin mereka tunjukkan. Tidak semua perjuangan diceritakan, tidak semua air mata diunggah ke media sosial, dan tidak semua kegagalan dibagikan kepada orang lain. Karena itulah, apa yang tampak di depan mata belum tentu menggambarkan keseluruhan cerita. Kita hanya melihat satu potongan kecil dari kehidupan seseorang, lalu tanpa sadar menyimpulkan bahwa hidupnya selalu berjalan dengan mudah.
Tidak berhenti di sana. Kita pun tanpa sadar kerap membandingkan bagian kehidupan kita yang paling sulit dengan bagian kehidupan orang lain yang paling menyenangkan. Di Jawa, kita mengenal sebuah ungkapan "wong urip iku sawang sinawang", yang kurang lebih menggambarkan bahwa manusia sering kali hanya saling memandang kehidupan orang lain dari apa yang tampak di permukaan.
Perbandingan semacam ini membuat kita mudah merasa hidup orang lain selalu lebih baik. Padahal, setiap orang memiliki ujian yang berbeda-beda dan tidak semuanya terlihat dari luar. Dan orang-orang yang selama ini terlihat "keenakan hidupnya", belum tentu sanggup kita gantikan. Sebab, jika benar-benar bertukar peran dengan mereka, belum tentu kita mampu melalui semua ujian yang telah mereka hadapi.
Memang nggak ada yang salah dari kalimat itu. Kita pun mungkin pernah mengatakannya pada orang lain. Namun, agar tak terlihat menyederhanakan perjuangan, mungkin kini kita bisa mengubahnya dengan kalimat lain, seperti: "Aku ikut senang melihat pencapaianmu sekarang," atau "Kamu pasti sudah melalui banyak hal untuk sampai di titik ini." Bisa pula dengan pilihan kata lainnya yang tetap menunjukkan apresiasi, tapi sekaligus mengakui bahwa di balik setiap keberhasilan, ada proses yang tidak sederhana.
Baca Juga
-
Ulasan Film Unlocked: Ketika Kehilangan Ponsel Jadi Awal Teror Paling Nyata
-
Review Welcome to Samdal-ri: Saat Kegagalan Bukan Akhir dari Segalanya
-
A Shop for Killers Season 1: Ketika Didikan Keras Jadi Bekal Bertahan Hidup
-
Seoul Busters: Ketika Tim yang Dianggap Gagal Mengajarkan Arti Kerja Sama
-
Belanja Digital Gen Z: Saat Kebutuhan dan Keinginan Semakin Sulit Dibedakan
Artikel Terkait
-
Rilis Final Trailer Film "Dan Bandung", Kisah Perjuangan Cinta Yang Siap Mengaduk Emosi Penonton
-
Hasto Wanti-wanti Demokrasi Bisa Mati Tanpa Kudeta Militer, Tanda-tanda Mulai Terlihat
-
Antusiasme Anak Muda Malang Tinggi, PDIP Jatim Siapkan RedTalks sebagai Ruang Aspirasi
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Hasto Kritik TNI-Polri Ikut Awasi Pajak: Penyalahgunaan Kekuasaan
Kolom
-
Fenomena 'Ghosting' Rekrutmen: Ketika Perusahaan Menuntut Profesionalisme tapi Lupa Etika Dasar
-
Kepala BGN Bantah MBG Habiskan APBN: Strawman Fallacy dalam Membaca Kritik
-
Punya Karier, Urus Keluarga, dan Tetap Waras? Mitos "Harus Bisa Semuanya" yang Menghantui Perempuan
-
Pergeseran Orientasi Karier: Tidak Semua Orang Ingin Naik Jabatan
-
Pariwisata Kuatkan Ekonomi, Pendidikan Menjaga Jiwa Budaya Suku Osing
Terkini
-
Cerita dari Taman Puring: Begini Serunya Mengikuti Latihan Komunitas Parkour Jakarta
-
Menemukan Cinta di Jalur Pendakian
-
Mengenal Kimpul, Umbi Lokal Pengganti Nasi yang Sedang Viral Jadi Seblak hingga Tteokbokki
-
Awas Boncos! Ini 8 Biaya Tersembunyi Pesta Pernikahan yang Sering Luput dari Anggaran
-
4 Inspirasi Daily OOTD ala Minnie i-dle, Youthful dan Modis!