Kita bisa menyebut kepala, tangan, kaki, hidung, bahkan bagian tubuh lain tanpa perlu berpikir panjang. Namun, ada beberapa bagian yang mendadak membuat percakapan terasa kikuk, terutama untuk bagian tubuh perempuan
Misalnya, cukup tabu di masyarakat kalau kita menyebut vagina dan payudara secara gamblang. Nama anatominya sebenarnya biasa saja, tetapi mengucapkannya secara langsung sering dianggap terlalu vulgar atau kurang sopan.
Akhirnya, muncullah berbagai istilah pengganti yang terdengar lebih aman. Vagina menjadi “Miss V”, payudara disebut “gunung kembar”, dan pembalut pun tak luput dari istilah samaran seperti "roti jepang".
Padahal, kalau dipikir-pikir, tidak ada yang aneh dari menyebut bagian tubuh dengan nama sebenarnya. Namun, kebiasaan menyamarkannya membuat istilah-istilah tersebut seolah menjadi sesuatu yang memalukan untuk diucapkan secara terang-terangan.
Lantas, mengapa menyebut nama anatomi tubuh perempuan secara langsung masih dianggap kurang pantas?
Tubuh Perempuan Terlalu Sering Dianggap sebagai Rahasia
Kalau dipikir-pikir, rasa canggung itu tidak muncul dari kata vagina atau payudara itu sendiri. Kita yang memberinya beban tertentu.
Ada anggapan bahwa menyebut bagian tubuh perempuan secara gamblang berarti sedang membicarakan sesuatu yang berbau seksual, vulgar, atau tidak pantas. Padahal, dalam banyak konteks, kata-kata tersebut sebenarnya hanya digunakan untuk menyebut sesuatu secara langsung sesuai namanya.
Masalahnya, anggapan seperti ini sudah lama melekat dalam percakapan sehari-hari hingga terasa seperti aturan tak tertulis. Aturan ini tidak pernah benar-benar diajarkan secara resmi. Kita justru mempelajarinya dari reaksi orang sekitar. Ada yang tertawa, merasa risih, atau langsung menegur ketika mendengar bagian tubuh perempuan disebut terang-terangan.
Atas Nama Kesopanan, Tubuh Perempuan Terus Disamarkan
Menurut saya, menjaga kesopanan tidak seharusnya membuat tubuh perempuan terasa seperti sesuatu yang memalukan. Kita memang perlu menyesuaikan cara bicara dengan situasi dan siapa lawan bicaranya.
Di masyarakat kita, kata “sopan” sering menjadi jawaban paling mudah untuk menjelaskan kenapa bagian tubuh tertentu tidak boleh disebut secara gamblang. Seolah-olah ada standar kesopanan yang otomatis membuat kata vagina terdengar lebih kasar daripada “Miss V”, atau membuat payudara terasa lebih pantas disebut dengan istilah lain.
Oleh karena itu, menarik untuk melihat bagaimana bahasa bekerja. Eufemisme memang bisa membantu seseorang membicarakan hal yang dianggap sensitif. Namun, kalau istilah aslinya terus-menerus dihindari, kita juga bisa tanpa sadar mengukuhkan anggapan bahwa istilah tersebut memang tidak pantas.
Kata yang sebenarnya netral akhirnya mendapatkan reputasi sebagai sesuatu yang vulgar hanya karena terlalu sering dihindari dari percakapan sehari-hari.
Hal ini menunjukkan betapa kreatifnya masyarakat mencari jalan memutar hanya untuk menyebut sesuatu yang sebenarnya sudah punya nama. Seolah-olah menyebut nama aslinya terasa lebih sulit daripada menciptakan istilah penggantinya.
Kalau Tubuh Sendiri Saja Tak Boleh Disebut, Lalu Harus Bagaimana?
Bahasa ternyata bisa ikut menentukan seberapa nyaman seseorang dengan tubuhnya sendiri. Kalau sejak kecil perempuan terus mendengar bahwa bagian tubuh tertentu tidak pantas disebut, lama-lama menyebutnya pun bisa terasa canggung.
Bukan karena ada yang salah dengan tubuhnya, tetapi karena sejak awal sudah ada kesan bahwa bagian tubuh itu sebaiknya tidak banyak dibicarakan. Padahal, mengenal tubuh ya termasuk tahu nama bagian-bagiannya.
Hal ini juga membuat pembicaraan tentang tubuh perempuan sering terasa serba tanggung. Mau bertanya tentang menstruasi, kesehatan reproduksi, atau perubahan tubuh saja kadang masih dibungkus dengan istilah yang samar. Padahal, semakin jelas bahasa yang digunakan, semakin mudah pula seseorang menjelaskan apa yang sebenarnya ia alami atau rasakan.
Dari sini, kita bisa melihat ada perbedaan antara menjaga privasi dan menganggap tubuh sebagai sesuatu yang memalukan. Kalau sejak kecil bahasa sudah mengajarkan perempuan untuk merasa sungkan dengan tubuhnya sendiri, wajar kalau tabu itu terus terbawa dan diwariskan lewat percakapan sehari-hari.
Baca Juga
-
Miskonsepsi Frugal Living: Romantisasi Kemiskinan di Balik Nasihat Hemat
-
Ria Ricis Sebut Karhutla Wahana Kidzania: Etika Menguap Demi Konten?
-
Ulasan Dear Hyeri: Saat Kepribadian Ganda Jadi Pelarian dari Realita
-
Jebakan Politik Belas Kasihan: Mengapa Orang Mudah Menangisi Pejabat?
-
BPS Catat Ekonomi Tumbuh 5,47%: Mengapa Dapur Rakyat Justru Makin Tercekik?
Artikel Terkait
-
Komnas Perempuan Sebut Banjir hingga Karhutla di Indonesia sebagai Ekosida, Apa Artinya?
-
Perempuan Kelola 64,5 Persen UMKM Indonesia, tetapi Masih Hadapi Tantangan Kembangkan Bisnis
-
BPS Ungkap Tingkat Pengangguran RI Didominasi Kalangan Perempuan
-
Saat Perempuan dan Difabel Dapat Ruang untuk Berkarya dan Mengembangkan Usaha
-
Krisis Sampah Perkotaan, Mengapa Perempuan Jadi yang Paling Terdampak?
Kolom
-
UMKM Menjamur, Pekerjaan Layak Menghilang: Ironi Sistem Kerja di Indonesia
-
Niat Hati Healing, Malah Jatuh Miskin: Kenali Jebakan Doom Shopping di Kala Stres!
-
Rela Ngutang demi Hajatan Mewah, tapi Anak Minta Kuliah Jawabnya "Gak Ada Biaya", Kok Bisa?
-
Darurat Spyware di Indonesia: Saat Penyadapan Ilegal Makin Mudah Mengintai
-
Ironi Wajib Organisasi: Hak Sukarela yang Dipaksa oleh Birokrasi Kampus
Terkini
-
Godzilla Minus Zero Pecahkan Rekor Opening Day Film Live-Action di Jepang
-
Mengupas Luka Batin Masa Kecil Lewat Buku 'Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero'
-
Bebas Bibir Pecah: 4 Lip Care Sunflower Seed Oil Penjaga Kelembapan
-
Ketika Menjadi Berbeda Justru Membuatmu Istimewa
-
Dibintangi Bradley Cooper, Film G.I. Joe Terbaru Siap Tayang Oktober 2028