Pernah baca novel Anne of Green Gables? Jika pernah, apa yang menarik perhatianmu sewaktu membaca novel itu? Keseruan Anne di rumah barunya? Atau Anne yang menyebalkan karena terlalu banyak bicara?
Saya justru fokus pada diskriminasi gender yang dialami oleh Anne Shirley, sang tokoh utama. Tentu saja ini tak lepas dari karakter periang, keras kepala, dan bicaranya yang ceplas-ceplos. Dari sifat-sifat tersebut, saya melihat jika Anne malah dianggap terlalu berani atau berbeda dari gambaran perempuan ideal pada masanya.
Di sini saya akan membahas sisi lain dari novel Anne of Green Gables selain petualangan Anne di Avonlea.
Anne Dianggap Tak Berguna Hanya karena Dia Perempuan
Sejak pertama kali datang ke Green Gables, Anne sudah berhadapan dengan anggapan bahwa dirinya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Matthew dan Marilla Cuthbert sebenarnya ingin mengadopsi anak laki-laki untuk membantu pekerjaan di pertanian. Saat tahu kalau yang datang ternyata anak perempuan mereka merasa kecewa bahkan berniat meninggalkan Anne di stasiun dan mengembalikannya ke panti asuhan.
Menurut budaya patriarki yang banyak dianut pada abad 19, perempuan tidak boleh melakukan pekerjaan yang menuntut kekuatan fisik. Mereka diharapkan hanya bekerja di dalam rumah untuk mengerjakan tugas domestik dan mempersiapkan diri untuk menikah. Dengan anggapan ini, Anne tidak akan berguna di Green Gables karena sudah ada Marilla.
Terlalu Berani untuk Seorang Anak Perempuan
Anne Shirley bukanlah sosok yang mudah diam ketika memiliki sesuatu untuk dikatakan. Ia banyak bicara, berani menyampaikan pendapat, dan sering membela dirinya ketika merasa diperlakukan tidak adil. Berbanding terbalik dengan ekspektasi sikap anak perempuan masa itu yang tenang, penurut, dan selalu menerima keadaan apapun.
Salah satunya saat ia dipanggil "Carrots" oleh Gilbert. Ia tahu panggilan itu merupakan ejekan karena fisiknya. Tak terima, Anne pun membalas dengan memukul kepala Gilbert. Seakan membela tersangka, Mr. Phillip justru memarahi dan menghukum Anne. Ia lebih percaya dengan pengakuan Gilbert dan menganggap Anne terlalu tempramen.
Anne Mencoba Melawan Sistem dengan Mengejar Ambisinya di Bidang Akademik
Persaingan Anne Shirley dan Gilbert Blythe menjadi salah satu bagian yang menarik dalam Anne of Green Gables. Sejak pertemuan pertama mereka di sekolah, keduanya terlibat dalam persaingan akademik yang membuat Anne berusaha keras untuk menunjukkan bahwa dirinya mampu menandingi Gilbert.
Anne memperlihatkan perlawanan stereotip pada perempuan zaman itu yang tidak peduli dengan pendidikan dan hanya mementingkan pernikahan. Baginya, pendidikan bisa membantunya untuk mengubah masa depan. Ketika pilihan hidup perempuan masih banyak dipengaruhi oleh keluarga, pernikahan, dan peran domestik, keinginan Anne untuk terus belajar menunjukkan bahwa ia membayangkan masa depan yang lebih luas untuk dirinya.
Saya menikmati bagaimana Anne membawa saya berpetualang ke dunianya. Di sisi lain, saya juga menyadari apa yang Anne hadapi di sana tidaklah mudah. Anne dengan pemikiran majunya justru dianggap kelewat batas hanya karena ia perempuan. Seolah-olah, menjadi perempuan yang baik berarti harus mampu menahan diri, bahkan ketika ia memiliki alasan untuk protes. Tapi, hal ini yang membuat Anne of Green Gables menarik, ketika cerita seru tetap merefleksikan realita yang terjadi pada zamannya. Bagian mana dari novel ini yang menarik perhatianmu?
Baca Juga
-
Insidious: Out of the Further, Petualangan Baru Melintasi Dua Dimensi
-
Pembalut Kena PPN, Perempuan Harus Bayar Lebih untuk Kebutuhan Biologisnya?
-
7 Slang Gen Z yang Masuk KBBI, Bukti Bahasa Indonesia Terus Berkembang!
-
5 Pelajaran Hidup dari Novela Metamorfosis: Hargai Diri Sendiri, Yuk!
-
Kenapa Tulisan dengan Tanda Baca Em Dash Sering Dianggap AI? Ini Faktanya!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Mengambil Pelajaran tentang Bahaya Perang Opini di Novel Bungkam Suara
-
Novel Tanah Para Bandit: Ketika Penegak Hukum Justru Terlibat Kejahatan
-
Langkah Awal Memahami Pasar Modal: Belajar Investasi Bersama New BIONS
-
Webtoon Ayah, Aku Tidak Mau Menikah: Ketika Salah Paham Jadi Komedi Terbaik
-
Estetika Kehancuran dan Perenungan di Serial Love, Death & Robots Volume 4
Terkini
-
Wangi Bersih, Sopan, dan Elegan! 5 Pilihan Parfum yang Cocok untuk Ibu Guru
-
Birokrasi di Zona Nyaman: Mengapa Program Tak Efisien Terus Dipertahankan?
-
Mitos Kerja Keras: Saat Meritokrasi Menyalahkan Rakyat Kecil
-
Mundur ke Era 1950-an, Netflix Garap Prekuel Stranger Things: Other Worlds
-
Miskonsepsi Frugal Living: Romantisasi Kemiskinan di Balik Nasihat Hemat