Ada satu hal yang belakangan ini cukup sering membuat saya khawatir ketika membayangkan masa depan generasi muda 40 atau 50 tahun mendatang, seperti apakah mereka masih bisa melihat hutan sungguhan?
Pertanyaan itu mungkin terdengar berlebihan. Namun, ketika melihat perubahan bentang alam yang terjadi dari waktu ke waktu, kekhawatiran tersebut terasa semakin masuk akal. Hutan yang dahulu begitu luas perlahan berubah menjadi perkebunan, permukiman, kawasan industri, dan berbagai bentuk penggunaan lahan lainnya. Salah satu yang paling mudah terlihat adalah semakin luasnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, luas areal perkebunan kelapa sawit Indonesia telah mencapai sekitar 16,83 juta hektare. Angka tersebut meningkat dibandingkan sekitar 11,26 juta hektare pada 2015. Data Kementerian Pertanian juga menunjukkan bahwa luas sawit nasional hingga 2025 masih berada di kisaran 16,83 juta hektare.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kelapa sawit tidak memiliki manfaat. Komoditas ini memiliki peran besar dalam perekonomian Indonesia dan menjadi sumber penghidupan bagi jutaan orang. Pemerintah sendiri juga tengah mendorong peningkatan produktivitas melalui intensifikasi dan peremajaan agar kebutuhan produksi dapat dipenuhi tanpa terus membuka lahan baru.
Namun justru di sinilah pertanyaan pentingnya, sampai kapan kita bisa terus memperluas perkebunan tanpa mengorbankan ruang hidup alam? Bagi saya, hutan bukan sekadar kumpulan pohon yang memiliki nilai ekonomi. Hutan adalah rumah bagi berbagai satwa, sumber air, penyerap karbon, sekaligus bagian dari keseimbangan ekosistem yang mungkin baru terasa nilainya ketika sudah hilang. Ketika sebuah hutan ditebang, kita bukan hanya kehilangan pohon. Kita kehilangan sebuah ekosistem yang membutuhkan waktu sangat panjang untuk terbentuk kembali.
Saya terkadang membayangkan generasi muda 40 atau 50 tahun dari sekarang. Mereka mungkin masih belajar tentang hutan hujan tropis Indonesia di sekolah. Mereka mungkin masih melihat gambar hutan lebat dengan pohon-pohon tinggi, sungai jernih, dan berbagai satwa liar di buku pelajaran. Tetapi bagaimana jika sebagian dari mereka tidak pernah benar-benar melihatnya secara langsung?
Bagaimana jika hutan lebat kelak hanya menjadi sesuatu yang diceritakan oleh orang-orang tua kepada anak cucunya? Bagaimana jika pengalaman berjalan di antara pepohonan besar, mendengar suara burung dari kejauhan, mencium aroma tanah setelah hujan, dan melihat cahaya matahari menembus sela-sela dedaunan menjadi pengalaman langka?
Saya tidak ingin hutan bernasib seperti dinosaurus, sama-sama dikenal oleh generasi mendatang melalui buku, gambar, video, dan museum, tetapi tidak pernah mereka temui dalam bentuk aslinya. Karena itu, persoalannya bukan sekadar memilih antara hutan atau sawit. Indonesia membutuhkan perekonomian yang berjalan, tetapi juga membutuhkan alam yang tetap hidup. Perlu ada batas yang jelas tentang hutan mana yang harus dipertahankan, bagaimana perkebunan dikelola, dan bagaimana peningkatan produksi dilakukan tanpa terus mengorbankan kawasan yang seharusnya menjadi ruang hidup alam.
Pada akhirnya, generasi yang hidup puluhan tahun dari sekarang tidak dapat memilih kondisi alam yang mereka warisi. Mereka hanya bisa menerima keputusan yang kita buat hari ini. Pertanyaannya, apakah kita ingin meninggalkan mereka negeri yang penuh perkebunan tetapi kehilangan hutannya atau Indonesia yang masih memungkinkan mereka berjalan di tengah hutan sungguhan?
Bagi saya, menjaga hutan bukan hanya tentang menyelamatkan masa kini. Ini adalah cara kita memastikan bahwa generasi mendatang masih memiliki kesempatan untuk melihat sendiri seperti apa wajah hutan Indonesia, bukan sekadar mengenalnya dari gambar di buku atau internet.
Baca Juga
-
Ulasan Five Survive: Ketika Rahasia Menjadi Ancaman Mematikan
-
Belajar dari Lee Jae Myung: Ketika Presiden Mendengarkan Kekecewaan Rakyat
-
Sarang de Chocolate: Toko Cokelat Misterius, Tempat Cinta dan Luka Menemukan Ruang untuk Pulih
-
Kim Ji-Yeong, Lahir Tahun 1982: Potret Sunyi Perempuan dalam Belenggu Patriarki
-
The Taming of the Shrew: Ketika Cinta, Kekuasaan, dan Gender Saling Berhadapan
Artikel Terkait
Kolom
-
Pakar Bisa Jadi Goblok? Menelaah Kebenaran Kalimat Prabowo dari Sudut Pandang Masyarakat Jawa
-
Jangan Remehkan Kata-kata: Bahasa Dipersempit, Pikiran Ikut Dikendalikan
-
Stigma Tubuh Perempuan dan Warisan Tabu dalam Bahasa Sehari-hari
-
Ketika Estetika Membuat Barang Kehilangan Umur Pakainya
-
Bisingnya Knalpot RX King: Mempertanyakan Ulang 'Hak Atas Kota' Warga Jogja
Terkini
-
Health Capital Theory: Saat Gen Z Berhenti Menilai Status Sosial dari Nongkrong di Kafe
-
Esensi The End of Oak Street: Teror Dinosaurus yang Memburu Satu Keluarga
-
Belajar Memahami Diri dan Menemukan Ketenangan dalam Buku Seni Menyikapi Hidup
-
Efek Domino Kenaikan Avtur: Ancaman Nyata Mahalnya Tiket Pesawat bagi Pariwisata
-
Cegah Kusam dan Flek Hitam! 4 Serum Vitamin C Rahasia Wajah Cerah Maksimal