M. Reza Sulaiman | Chairun Nisa
Ilustrasi Barang-Barang Tidak Estetik (Chat GPT)
Chairun Nisa

Istilah estetika pertama kali diperkenalkan oleh filsuf Jerman Alexander Gottlieb Baumgarten pada abad ke-18 untuk menjelaskan pengalaman manusia dalam merasakan keindahan. Dalam perkembangannya, estetika menjadi cabang filsafat yang membahas seni, keindahan, dan pengalaman indrawi.

Namun, jika hari ini kita membuka Instagram, TikTok, atau Pinterest, makna estetik tampaknya telah mengalami perubahan. Ia tidak lagi sekadar berbicara tentang keindahan, tetapi juga menjadi standar yang menentukan mana yang dianggap layak dipakai dan mana yang dianggap ketinggalan zaman.

Fenomena ini berkembang pesat sejak era Tumblr pada awal 2010-an, ketika pengguna mulai mengelompokkan gambar berdasarkan suasana visual, warna, dan gaya tertentu. Beberapa tahun kemudian, tren tersebut berpindah ke Instagram dan TikTok. Kata "estetik" pun menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Ada kamar estetik, meja kerja estetik, dapur estetik, bahkan gelas dan tempat penyimpanan estetik.

Tidak ada yang salah dengan keindahan. Rumah yang tertata rapi memang terasa lebih nyaman. Warna yang serasi juga dapat menciptakan suasana yang menyenangkan. Persoalannya muncul ketika estetika perlahan berubah dari pilihan menjadi standar. Tanpa disadari, kita mulai menilai banyak benda bukan dari kegunaannya, melainkan dari kesesuaiannya dengan tren visual yang sedang berlaku.

Di dapur rumah saya masih ada beberapa stoples bekas kue Lebaran. Bentuknya berbeda-beda, warnanya tidak seragam, dan tentu tidak akan terlihat menarik jika disandingkan dengan deretan set bumbu yang sering muncul di media sosial. Namun semuanya masih berfungsi dengan baik. Mereka masih bisa menyimpan gula, kopi, atau kerupuk sebagaimana mestinya.

Yang menarik, tren estetik tidak hanya mengajarkan kita apa yang dianggap indah, tetapi juga menciptakan kategori baru bagi benda-benda yang sebelumnya biasa saja. Stoples bekas kue Lebaran, gelas, rak plastik, atau lemari kayu jati, rak piring zaman Majapahit tidak berubah bentuk maupun fungsi. Namun ketika standar visual tertentu menjadi populer, benda-benda tersebut perlahan diberi label baru: tidak estetik. Seolah-olah ada yang salah dengan keberadaan mereka, padahal sebelumnya mereka hanya benda biasa yang menjalankan fungsinya dengan baik.

Dulu orang menggunakan barang sampai benar-benar habis masa pakainya. Piring dipakai sampai pecah, lemari digunakan hingga lapuk, dan pakaian dikenakan sampai tidak layak digunakan. Kini banyak barang berhenti digunakan jauh sebelum rusak. Mereka tidak pensiun karena kehilangan fungsi, melainkan karena kalah tren.

Media sosial tentu bukan satu-satunya penyebab. Namun sulit dimungkiri bahwa arus konten visual yang terus-menerus kita konsumsi ikut membentuk standar baru tentang bagaimana rumah, meja kerja, atau bahkan kehidupan yang ideal seharusnya terlihat. Akibatnya, barang yang masih berguna sering kali terasa tidak cukup baik hanya karena tidak cukup menarik untuk ditampilkan.

Padahal estetika tidak harus selalu dibeli. Keindahan juga dapat lahir dari kemampuan memanfaatkan apa yang sudah ada. Stoples bekas kue Lebaran yang digunakan kembali, gelas yang berbeda-beda tetapi masih layak pakai, atau rak lama yang tetap kokoh sesungguhnya tidak mengurangi fungsi sebuah rumah. Bahkan, dalam banyak kasus, benda-benda itu justru mengajarkan sesuatu yang semakin langka: kemampuan untuk menghargai kegunaan sebelum tergoda oleh penampilan.

Mungkin karena itu, sesekali kita perlu bertanya kepada diri sendiri ketika ingin mengganti suatu barang. Apakah benda tersebut memang sudah tidak berfungsi, atau hanya tidak lagi terlihat estetik?

Pertanyaan sederhana itu penting. Sebab ketika barang-barang yang masih layak pakai terus disingkirkan demi mengikuti tren visual yang terus berganti, yang bertambah bukan hanya daftar belanja kita, tetapi juga tumpukan sampah yang kita hasilkan. Stoples, gelas, rak, wadah penyimpanan, hingga berbagai perlengkapan rumah tangga yang seharusnya masih bisa digunakan berakhir menjadi limbah lebih cepat dari seharusnya.

Tren akan terus berganti, tetapi sampah tidak ikut hilang bersama pergantian tren itu. Ketika sebuah barang dibuang bukan karena rusak, melainkan karena kalah estetik, sesungguhnya yang sedang kita pertahankan bukan kebutuhan, melainkan standar visual yang terus berubah. Dan sementara kita sibuk mengejar tampilan yang sempurna, tumpukan sampah dari barang-barang yang masih layak pakai terus bertambah tanpa pernah masuk ke dalam bingkai foto yang kita unggah.