Hayuning Ratri Hapsari | Rifda Auliana
Gapura masuk kawasan Desa Adat Osing Kemiren di Banyuwangi. (Dok. @tourbanyuwangi)
Rifda Auliana

Di Desa Kemiren, Banyuwangi, teras-teras rumah warga selalu menyimpan kehangatan. Dengarkan kayu tikel balung yang berderit pelan disapa angin sawah, lalu hirup aroma beras sangrai dan bumbu pecel pitik yang mengepul dari dapur kayu. Sekilas, tempat ini tampak seperti desa adat pada umumnya. Tenang, bersahaja, dan memelihara tradisinya dengan begitu tekun.

Namun, di atas tanah inilah Moh. Edy Saputro memutuskan untuk berhenti berlari. Pemuda 29 tahun yang akrab disapa Kang Edai itu menemukan kembali jalannya. Nama panggilannya lahir dari lidah warga Osing yang khas. Vokal 'i' di akhir kata kerap meliuk menjadi 'ai', mengubah nama 'Edy' menjadi 'Edai', sebagaimana mereka menyebut tanah kelahirannya sebagai Banyuwangai.

Ketika anak-anak muda seumurnya berbondong-bondong mengadu nasib ke kota besar demi seragam kantor dan gaji bulanan, Kang Edai memilih berbalik arah. Pemuda lulusan Manajemen Bisnis Pariwisata ini sadar bahwa desanya sedang perlahan kehilangan jiwa. Dialek Osing yang dulu nyaring di lidah orang-orang tua mulai dianggap kampungan oleh generasi muda. Rumah-rumah adat berciri khas kayu kelapa mulai diruntuhkan dan diganti tembok semen dingin, sementara tradisi cuma diingat saat ada festival tahunan.

Tradisi tidak boleh cuma berakhir sebagai pajangan kaku di dalam kaca museum yang sepi, melainkan harus tetap hidup dan dirasakan langsung oleh warga. Pikiran itulah yang terus mengganggu tidur malamnya.

Bagi Kang Edai, satu-satunya cara menyelamatkan Kemiren adalah membuat kebudayaan bisa memberi makan warga desa. Tradisi tidak boleh cuma jadi aksesori nostalgia, tetapi harus menjadi daya tahan hidup masyarakatnya. Dari kegelisahan itulah lahir sebuah gagasan yang sederhana tetapi berakar kuat pada tradisi. Pariwisata adalah etalasenya, sedangkan kesehatan, pendidikan, dan lingkungan adalah isi tokonya.

Mengulur Tangan di Tanah Adat

Langkah untuk menjadikan budaya sebagai pendorong ekonomi itu dimulai dari hal paling karib dalam keseharian warga. Bagi masyarakat Osing, menyeduh kopi bukan sekadar urusan memadamkan dahaga. Ada pepatah tua di Kemiren yang selalu dipegang teguh warga, "Secangkir kopi, kita menjadi saudara." Ketika secangkir kopi sangrai disajikan di atas meja kayu, itu adalah tanda bahwa pintu rumah dan pintu hati warga telah terbuka lebar bagi siapa saja yang datang dengan niat baik.

Filosofi cangkruk kopi inilah yang kemudian menjembatani pertemuan Kemiren dengan dunia luar. Perjalanan Kemiren menata potensi wisatanya semakin mendapat ruang ketika berhasil masuk dalam jajaran desa wisata unggulan nasional lewat Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).

Momentum tersebut kian kuat pada tahun 2024, saat PT Astra International Tbk merapat dan merangkul Kemiren ke dalam ekosistem Desa Sejahtera Astra (DSA).

Astra tidak hadir membawa bantuan lepas yang datang lalu menghilang, melainkan hadir sebagai mitra yang mau duduk bersama memahami denyut kehidupan desa. Ada kesepakatan tertulis, ada pendampingan rutin saban minggu, dan ada niat tulus untuk menguatkan potensi lokal yang sudah diperjuangkan warga sejak awal.

"Ibaratnya, kami ini seperti tiba-tiba punya orang tua. Ada yang menopang kami kalau kami butuh pegangan," cerita Kang Edai diselingi senyum hangat saat diwawancarai pada Sabtu (1/8/2026).

Dukungan tersebut merambah hingga panggung internasional. Saat Kemiren dipercaya menyabet ASEAN Tourism Award di Malaysia, hingga terpilih masuk dalam jejaring Best Tourism Villages oleh UN Tourism di Tiongkok, pendampingan Astra turut membekali rasa percaya diri anak-anak muda Kemiren agar tidak minder berdiri di panggung dunia.

Dampak positif dari konsistensi ini beresonansi hingga ke kebijakan daerah. Warga Kemiren yang dulu sempat ragu menggunakan bahasa ibu mereka, kini berdiri tegak. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bahkan mengadopsi identitas Osing secara resmi lewat Peraturan Bupati, mewajibkan standar arsitektur daerah mengacu pada rumah adat Kemiren dan menjadikannya busana dinas resmi daerah.

Empat Pilar yang Menghidupi Dapur Warga

Pariwisata di Kemiren bukanlah sekadar pertunjukan seni untuk memburu swafoto. Kawasan tersebut hanyalah pintu depan. Di balik pintu etalase itu, empat pilar pemberdayaan Astra berhembus secara harmonis dalam denyut nadi kehidupan warga sehari-hari.

Roda ekonomi desa kini diputar langsung oleh pemilik rumah. Warga membuka pintu rumah adat mereka untuk wisatawan melalui 50 homestay dengan 92 kamar yang disewakan. Ibu-ibu dan para pemuda juga menggerakkan 40 usaha UMKM lokal, mulai dari racikan kopi khas Osing hingga kuliner tradisional. Hasilnya terbukti nyata. Pendapatan rata-rata 40 anggota Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) melonjak hingga 33 persen, dari yang tadinya Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan, disokong oleh arus lebih dari 3.000 wisatawan yang datang saban tahun.

Kemandirian ekonomi itu dibarengi dengan kesadaran menjaga tanah kelahiran. Di bawah bimbingan tokoh lokal seperti Pak Ribut dan Mas Yayan, sampah organik diolah menjadi pupuk kompos untuk kebun warga, sampah plastik dipilah secara disiplin dari rumah ke rumah, sementara limbah kotoran ternak disulap menjadi instalasi biogas yang menyalakan kompor-kompor dapur warga.

Urusan kualitas hidup pun tak luput dari perhatian. Di Kemiren, kesehatan tidak melulu diukur dari resep obat, melainkan dari kesadaran gizi berbasis kearifan lokal. Para kader Posyandu seperti Bu Emil dan Bu Eka aktif mengedukasi warga mengolah bahan makanan organik alami yang dipetik langsung dari pekarangan rumah. Dedikasi ini terbayar manis ketika Posyandu Desa Kemiren berhasil menyabet Juara 1 Posyandu Berprestasi Tingkat Provinsi Jawa Timur.

Di ruang kelas, masa depan kebudayaan dipertaruhkan. Melalui penguatan PAUD bersama Bu Evi dan Bu Yesi, anak-anak sejak usia belia diajarkan mencintai tarian, musik, dan bahasa Osing. Di sisi lain, para wisatawan yang berkunjung kerap diajak menjadi relawan (volunteerism) untuk mengajar bahasa asing dan ilmu pengetahuan kepada anak-anak desa, menciptakan ruang belajar yang inklusif tanpa kehilangan akar identitas.

Menjaga Akar, Menatap Masa Depan

Merawat tradisi tua di tengah gempuran zaman modern dilakukan secara bijak dan adaptif. Kang Edai tidak pernah memaksakan warganya untuk hidup terisolasi seperti manusia dari abad lalu.

"Budaya itu sifatnya dinamis. Tidak semua hal harus dikembalikan persis ke masa lalu, tetapi kita harus memilih prioritas apa yang paling mendesak untuk diselamatkan hari ini," tegas Kang Edai.

Prinsip tersebut diwujudkan dengan menjaga kawasan rumah adat, memfokuskan layanan pada pariwisata berbasis pengalaman budaya, dan mendorong regenerasi kepemimpinan muda. Hari ini, 70 persen pengurus desa wisata di Kemiren diisi oleh anak-anak muda di bawah usia 30 tahun. Mereka tidak lagi merasa asing di rumah sendiri.

Lebih dari 300 warga yang kini tersenyum dalam ekosistem pemberdayaan ini mengajarkan kita satu hal. Desa tidak perlu berubah menjadi kota untuk dianggap berhasil.

Lewat keberanian seorang Local Hero seperti Kang Edai, ketahanan adat warga Osing, serta pendampingan terpadu dari Desa Sejahtera Astra, Kemiren membuktikan bahwa tradisi tua dan kemajuan zaman bisa melangkah sejajar, menjaga warisan leluhur sambil menatap masa depan dengan penuh rasa bangga.

Baca Juga