Pernahkah Anda duduk di samping anak remaja Anda yang sedang asyik membuka layar ponselnya, lalu tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak hingga bersikukuh menunjukkan layar itu kepada Anda?
Dengan penuh rasa ingin tahu, saya pun mendekat, bersiap untuk ikut tertawa. Namun, alih-alih menemukan cerita lucu atau video komedi yang rapi, mata saya hanya disambut oleh sebuah gambar potongan pisang menampilkan manusia dengan tulisan acak tanpa tata bahasa yang jelas. Saya setuju. Anak saya masih tertawa terpingkal-pingkal, sementara kepala saya tiba-tiba dipenuhi tanda tanya besar: Di mana letak lucunya?
Sebagai orang tua dari generasi Milenial, jujur saja saya merasa gagap. Generasi kita tumbuh dan besar dengan struktur humor yang punya alur jelas. Kita menyukai situasi komedi yang runtut, cerita pengalaman harian yang membuat kita berkumpul, "Wah, ini aku banget!", hingga plesetan budaya pop yang cerdas. Humor bagi kita adalah jembatan hubungan—sesuatu yang menyatukan kita melalui pengalaman bersama yang dapat dipahami oleh akal sehat.
Namun, ketika melihat lanskap humor anak-anak kita hari ini, Generasi Z—segalanya seolah dijungkirbalikkan. Humor mereka tidak menuntut logika. Isinya didominasi oleh absurditas total, dark humor, nihilisme, hingga istilah-istilah brainrot yang terasa sangat asing di telinga kita. Mengapa gambar toilet tampil atau meme tanpa konteks bisa menjadi komedi tingkat tinggi bagi mereka?
Awalnya, saya berpikir bahwa ini hanyalah penurunan kualitas selera humor. Namun, setelah memikirkan dan mencoba menyelaminya lebih dalam, saya menyadari ada sesuatu yang jauh lebih kompleks di balik gelak tawa acak tersebut. Humor bukan sekadar alat pemutar tawa, melainkan cermin dari realitas sosial tempat suatu generasi dibesarkan.
Jika dijalankan secara obyektif, Generasi Milenial terbentuk di era transisi digital yang relatif masih memiliki struktur sosial yang stabil. Humor kita menjadi tempat rehat dari kepenatan hidup dengan cara mencari kesamaan nasib (relatability). Sebaliknya, Gen Z tumbuh dewasa di tengah gempuran global yang masif—mulai dari krisis iklim, ketimpangan ekonomi, hingga arus informasi algoritma media sosial yang sangat cepat dan membanjiri pikiran setiap detik.
Dalam jurnal penelitian Absurdist Humor and the Millennial Realism, dijelaskan bagaimana estetika humor absurd dan nihilistik berfungsi sebagai mekanisme perlindungan psikologis dalam menghadapi stres akibat kelebihan informasi di era digital. Ketika dunia nyata terasa terlalu absurd, memusingkan, dan sulit dikendalikan, membuat atau menikmati sesuatu yang sepenuhnya tidak masuk akal justru menjadi bentuk kendali tersendiri. Humor absurd menjadi sarana bagi Gen Z untuk melepaskan beban tanpa harus memproses kerumitan logika dunia nyata.
Memahami hal ini mengubah cara memandang saya sebagai seorang orang tua. Tawa acak anak saya bukan berarti ia kehilangan daya kritisnya. Justru, itu adalah caranya bernapas di tengah dunia yang semakin pekat oleh tekanan. Humor brainrot dan meme sarkas bagi mereka adalah oase kecil tempat mereka bisa melepas beban tanpa perlu berpikir keras.
Lalu, apakah kita sebagai orang tua harus memaksakan diri untuk menyukai meme acak yang tak masuk akal itu? Tentu saja tidak. Kita tidak harus menyukai atau berpura-pura paham. Namun, berhenti menghakimi selera humor anak adalah langkah awal yang sangat berharga. Jurang antargenerasi akan selalu ada, tetapi daripada menganggap humor mereka sebagai keanehan yang merusak, saya memilih untuk melihatnya sebagai jendela untuk memahami isi kepala dan perasaan mereka.
Jadi, ketika nanti anak Anda kembali menyodorkan meme absurd yang membuat Anda mengerutkan dahi, tersenyumlah. Tak perlu berpikir terlalu dalam. Terkadang, tidak memahami ceritanya adalah satu-satunya cara untuk menikmati tawa bersamanya. Lagipula, bukankah tugas kita sebagai orang tua bukan untuk selalu memahami segalanya, melainkan untuk tetap hadir dan mendengarkan?
Tag
Baca Juga
-
Surat Terbuka untuk HRD: Berhentilah Bertanya "Ngapain Aja Setahun Ini" kepada Ibu Baru
-
Ibu Rumah Tangga: Karyawan Tanpa Gaji, Tanpa Cuti, Tanpa Bonus
-
Katanya Sudah Merdeka, Tapi Kenapa Ibu Rumah Tangga Sulit Berinvestasi?
-
Gaji Istri Lebih Besar, Apakah Adil Kendali Finansial Tetap di Suami?
-
Body Shaming Pasca Melahirkan yang Menyamar Jadi Nasihat Sehat
Artikel Terkait
-
Doomscrolling: Antara Kepedulian Sosial dan Rasa Putus Asa yang Mengintai
-
Good Talk GNFI di UAD: Pendidikan RI Dianggap Hanya Cetak Tenaga Kerja
-
Seni Mematikan Notifikasi: Saat Ketenangan Menjadi Kemewahan Baru bagi Gen Z
-
Slow Dating: Tak Mau Terburu-buru atau Menghindari Hubungan Intens di Awal?
-
Gen Z dan Conscious Unbossing: Saat Karier Tidak Harus Naik secara Vertikal
Kolom
-
Mengenal Makna Spiritual Angka Jawa, Pengingat Bijak Bahwa Hidup Ada Batasnya
-
Vasektomi Bukan Pengorbanan Pria, tapi Bentuk Berbagi Tanggung Jawab
-
Generasi Self-Diagnosis: Saat VT TikTok Jadi Pengganti Psikolog
-
Batas Tipis Antara Ramah dan Micro-Cheating: Kapan Kamu Harus Mulai Curiga ke Pasangan?
-
Gambut Bukan Sekadar Lahan Basah, Ia Penentu Masa Depan Karbon Dunia
Terkini
-
Didukung Kai EXO, Atlet Ini Tepati Janjinya Raih Emas Asian Games 2026
-
Konten Couple Carousel Bikin Gemas! Penolong untuk yang Takut Jatuh Cinta
-
Lima Sekawan Terjebak di Mercusuar Tua, Ada Apa dengan Karang Setan?
-
Sinopsis The Vvaan, Film Terbaru Tamannaah Bhatia dan Sidharth Malhotra
-
Bosan Makan Nasi? Intip 3 Cara Pengolahan Sorgum sebagai Alternatif Karbo