Lintang Siltya Utami | e. kusuma .n
ilustrasi merasa bebas (Gemini AI)
e. kusuma .n

HUT ke-81 RI bukan sekadar perayaan atau seremonial, tapi juga bisa menjadi momentum bagi Gen Z untuk merdeka dari ekspektasi orang lain dan berani menemukan versi diri sendiri tanpa terus mengejar standar sosial.

Kita mungkin sering ditodong pertanyaan sosial, seperti “Setelah lulus mau kerja di mana?”, “Kenapa belum punya pasangan?”, “Kapan punya rumah?”, atau “Teman-temanmu sudah sampai mana, kok kamu masih di sini?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi Gen Z yang sedang berusaha memahami arah hidup, ekspektasi orang lain terkadang bisa terasa seperti beban yang tidak terlihat.

Jika biasanya kita sering berbicara tentang kemerdekaan sebagai kebebasan bangsa, tidak ada salahnya melihat bentuk kemerdekaan lain: kemerdekaan untuk menjadi diri sendiri tanpa terus hidup berdasar standar orang lain.

Ketika Hidup Terasa Seperti Punya “Jalur yang Benar”

Sejak kecil, kita sering mengenal gambaran tentang kehidupan yang dianggap ideal. Sekolah, kuliah, bekerja, menikah, memiliki rumah, lalu membangun keluarga. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan pilihan tersebut.

Masalahnya muncul ketika satu jalur dianggap sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Apalagi Gen Z tumbuh di tengah perubahan dunia yang membuat pilihan hidup semakin beragam.

Ada yang memilih bekerja kantoran, membangun bisnis, menjadi freelancer, mengejar pendidikan, atau mencoba berbagai bidang. Sayangnya, pilihan yang berbeda sering kali dianggap sebagai bentuk ketidakpastian atau kegagalan.

Media Sosial Membuat Ekspektasi Semakin Besar

Jika dulu perbandingan sosial mungkin hanya terjadi dengan orang-orang di sekitar, kini Gen Z bisa membandingkan kehidupan dengan ribuan orang hanya dari layar.

Kita melihat orang lain mendapatkan pekerjaan impian, membuka bisnis, bepergian, menikah, atau mencapai berbagai target. Tanpa sadar, kehidupan orang lain berubah menjadi daftar pencapaian yang harus kita kejar.

Padahal, media sosial hanya memperlihatkan potongan kehidupan seseorang. Kita tidak tahu seluruh proses, tantangan, atau kondisi di balik sebuah unggahan. Karena itu, perbandingan seperti ini jelas tidak selalu adil.

Menjadi Diri Sendiri Bukan Berarti Tidak Peduli

Merdeka dari ekspektasi orang lain bukan berarti Gen Z harus mengabaikan semua nasihat. Masukan dari keluarga, teman, guru, atau orang yang lebih berpengalaman tetap bisa menjadi bahan pertimbangan.

Namun, keputusan akhirnya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan tujuan hidup masing-masing. Ada perbedaan antara mendengarkan nasihat dan menyerahkan kendali hidup pada pendapat orang lain.

Kita boleh mempertimbangkan apa yang dikatakan orang lain tanpa harus menjadikannya sebagai satu-satunya penentu keputusan. Sebab menjadi diri sendiri bukan berarti tidak peduli pada saran orang lain.

Tidak Semua Pilihan Harus Dipahami Orang Lain

Menurut saya, salah satu bagian tersulit dari menjadi dewasa adalah menerima kalau tidak semua orang akan memahami pilihan kita. Saat memilih jalur yang berbeda, akan muncul komentar, pertanyaan, atau perbandingan.

Namun, hidup bukan proyek bersama yang harus mendapatkan persetujuan semua orang. Jika sebuah pilihan sudah dipikirkan dengan matang dan sesuai dengan nilai serta kemampuan diri, kita tidak harus terus mencari validasi.

Sebab, semakin dewasa, kita semakin menyadari kalau menjalani kehidupan berdasarkan keinginan semua orang adalah sesuatu yang hampir mustahil.

Kemerdekaan Dimulai dari Berani Memilih

Bagi Gen Z, merdeka bisa diartikan berani memilih jalan sendiri. Berani mengubah rencana saat sesuatu tidak lagi sesuai. Berani mengatakan bahwa kesuksesan tidak harus memiliki bentuk yang sama bagi semua orang.

Merdeka juga berarti menerima kalau perjalanan hidup kita mungkin berbeda dari teman sebaya. Tidak harus selalu lebih cepat. Tidak harus selalu lebih tinggi. Tidak harus selalu terlihat berhasil.

Di usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia ini, mungkin sudah waktunya Gen Z merayakan kemerdekaan dengan cara yang lebih sederhana: berhenti hidup hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain.

Kemerdekaan bukan tentang menjadi versi diri yang paling disukai semua orang. Kemerdekaan adalah keberanian untuk menjadi versi diri yang paling jujur dan bertanggung jawab terhadap pilihan sendiri.