Tiga bulan setelah melahirkan, saya menghadiri acara keluarga untuk pertama kalinya sejak masa nifas usai. Belum sempat saya duduk dengan nyaman, seorang kerabat sudah berkomentar sambil tersenyum, "Kok belum langsing lagi? Nanti nggak sehat lho, badan nyimpen lemak terus."
Saya hanya membalas dengan senyum kikuk, meski dalam hati bertanya-tanya: sejak kapan kepedulian terhadap kesehatan diukur dari seberapa cepat perut saya kembali rata?
Saya rasa banyak ibu pernah mengalami situasi serupa.
Komentar tentang berat badan pasca melahirkan selalu datang dengan bungkus yang sama: "demi kesehatan", "supaya nggak kena diabetes", atau "biar nggak gampang capek ngurus anak".
Terdengar baik di permukaan, tapi kalau kita telisik lebih dalam, ada sesuatu yang janggal dari pola komentar ini.
Mari kita jujur soal fakta biologisnya dulu. Tubuh perempuan pasca melahirkan sedang dalam proses pemulihan besar-besaran, rahim mengecil kembali secara bertahap, hormon masih naik-turun drastis, belum lagi jika sedang menyusui, tubuh menyimpan cadangan lemak secara alami untuk mendukung produksi ASI.
Secara medis, dibutuhkan waktu enam bulan hingga satu tahun bagi tubuh untuk benar-benar pulih pasca persalinan. Ini bukan opini, ini fakta fisiologis yang seharusnya jadi pengetahuan umum.
Tapi anehnya, standar yang berlaku di masyarakat sering kali tidak sejalan dengan fakta ini. Ibu yang belum "kembali langsing" dalam hitungan minggu justru dianggap kurang berusaha, padahal tubuhnya sedang bekerja keras memulihkan diri sekaligus memproduksi makanan untuk bayi.
Di sinilah saya melihat kejanggalan itu: komentar yang katanya soal kesehatan, ternyata lebih sering berakar dari standar kecantikan yang menuntut tubuh perempuan selalu terlihat "rapi" dan "terkontrol", bahkan di momen paling rentan sekalipun.
Yang membuat saya semakin gelisah, komentar semacam ini biasanya datang justru dari sesama perempuan—ibu, mertua, teman, bahkan sesama ibu baru di lingkaran pertemanan.
Fenomena ini oleh sebagian peneliti sosial disebut horizontal hostility, di mana perempuan yang sama-sama pernah mengalami tekanan standar tubuh, justru meneruskan tekanan itu ke perempuan lain.
Bukan karena jahat, tapi karena internalisasi standar kecantikan sudah begitu mendalam hingga terasa seperti "kepedulian yang wajar".
Saya juga ingin adil di sini: mungkin sebagian orang yang berkomentar memang punya niat baik, khawatir soal kesehatan jangka panjang.
Tapi niat baik yang disampaikan tanpa mempertimbangkan konteks psikologis dan fisiologis ibu pasca melahirkan, justru berpotensi menambah beban mental yang sudah berat, apalagi bagi ibu yang rentan mengalami baby blues atau depresi pasca melahirkan.
Lalu, bagaimana idealnya bentuk kepedulian yang sesungguhnya, tanpa jatuh ke standar kecantikan yang menghakimi?
Pertama, ganti fokus dari penampilan ke fungsi tubuh. Alih-alih bertanya "kapan langsing lagi?", pertanyaan seperti "gimana kondisi jahitannya, sudah membaik?" atau "ASI-nya lancar?" jauh lebih relevan dan suportif bagi ibu pasca melahirkan.
Kedua, hormati proses pemulihan sebagai sesuatu yang personal dan tidak linear. Setiap tubuh punya waktu pemulihan berbeda, dipengaruhi banyak faktor: usia, jenis persalinan, kondisi menyusui, hingga dukungan yang diterima di rumah.
Ketiga, sebagai sesama perempuan, saya rasa kita perlu lebih sadar diri sebelum berkomentar soal tubuh orang lain, termasuk tubuh ibu yang baru melahirkan. Pertanyaan sederhana, "apakah komentar ini benar-benar membantu, atau hanya mencerminkan standar yang saya sendiri terinternalisasi?", bisa jadi titik refleksi yang berarti.
Tubuh pasca melahirkan bukan proyek yang harus segera "selesai" demi validasi orang lain. Ia adalah bukti nyata dari proses luar biasa yang baru saja dilalui. Saya rasa, kepedulian yang sesungguhnya bukan soal seberapa cepat tubuh saya kembali seperti dulu, tapi seberapa jauh saya diberi ruang untuk pulih tanpa dihakimi.
Baca Juga
-
Serahkan Gadget ke Anak demi WFH: Dosa Seorang Ibu atau Cela Sistem?
-
Sekolah Negeri Katanya Gratis, Tapi Kenapa Dompet Saya Tetap Meringis?
-
Benarkah Sakit Itu Tabu? Fenomena Seorang Ibu yang Tidak Boleh Sakit
-
Seni Menolak Keinginan Anak Tanpa Harus Bikin Dompet Emak Ikut Menangis
-
Nestapa Minyak Jelantah Hitam Pekat demi Menyelamatkan Dompet yang Sekarat
Artikel Terkait
Kolom
-
Bli Nyoman, Sosok Penggerak Desa Sejahtera Astra di Desa Les, Buleleng Bali
-
Berburu Keripik Belut di Antara Beton Megah Pasar Godean
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Membaca Daya Beli dari Antrean SPBU: Potret Ekonomi di Balik Pilihan BBM
-
Serahkan Gadget ke Anak demi WFH: Dosa Seorang Ibu atau Cela Sistem?
Terkini
-
Kisah Desa Les Buleleng: Merawat Tradisi Nyegara Gunung dan Konservasi Alam Bersama Astra
-
Kisah Bli Nyoman 'Don Rare': Pulang Kampung Mengubah Garam Desa Les Jadi Emas Pariwisata
-
Ulasan Red Swan: Kisah Kehidupan Elite yang Dibangun dari Perebutan Kuasa
-
Intens Tapi Groovy, NCT 127 Ungkap Pesan dan Energi Positif di Album BLINGY
-
Sukses Besar! Tim Produksi Ungkap Keinginan Buat Sekuel The Breakfast Club