Sudah berapa kali kamu menyusun CV dengan rapi, menulis cover letter penuh harap, lalu melamar dan menghilang begitu saja di ruang hampa tanpa balasan? Wajar kalau kamu mulai mempertanyakan dirimu sendiri.
Tapi sebelum menyalahkan diri lebih jauh, ada kemungkinan yang jarang disadari: lowongan itu memang sejak awal tidak pernah benar-benar nyata.
Fenomena ini disebut ghost jobs—lowongan kerja yang dipasang perusahaan tanpa niat sungguh-sungguh untuk mengisinya. Skalanya jauh lebih besar dari yang dibayangkan kebanyakan orang.
Analisis ResumeUp.AI terhadap data LinkedIn menemukan bahwa 27,4 persen lowongan aktif di Amerika Serikat diperkirakan adalah ghost job. Sementara itu, survei Clarify Capital terhadap seribu perusahaan menemukan hampir satu dari tiga pemberi kerja secara terbuka mengakui memasang lowongan tanpa rencana nyata untuk merekrut dalam waktu dekat.
Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) pada Februari 2026 pun mencatat kesenjangan mencolok: 6,9 juta lowongan terbuka, tapi hanya 4,8 juta perekrutan nyata terjadi bulan itu, selisih 2,1 juta posisi yang sebagian besar diyakini tak pernah benar-benar diisi.
Yang membuat fenomena ini terasa seperti gaslighting struktural adalah alasan di baliknya. Survei ResumeBuilder terhadap 649 manajer perekrutan mengungkap bahwa 43 persen perusahaan sengaja memasang lowongan hanya untuk memproyeksikan citra pertumbuhan, supaya investor, kompetitor, bahkan karyawan sendiri percaya perusahaan sedang berkembang pesat, meski anggaran perekrutan sebenarnya sedang dibekukan.
Lebih menyakitkan lagi, 62 persen mengakui memasang lowongan agar karyawan yang sudah ada merasa "mudah digantikan", strategi psikologis supaya pekerja lebih giat dan lebih jarang mengeluh, karena merasa selalu ada kandidat lain yang mengantre di luar sana.
Di titik inilah letak persoalan sesungguhnya bukan cuma soal waktu yang terbuang. Ini soal ilusi yang sengaja diciptakan untuk memanipulasi dua kelompok sekaligus: pencari kerja yang dibuat merasa "kurang usaha" atau "kurang layak" padahal peluangnya memang tak pernah ada, dan karyawan yang sudah bekerja tapi dibuat merasa posisinya rapuh demi menjaga produktivitas mereka tetap tinggi.
Keduanya adalah bentuk manipulasi psikologis yang dibungkus rapi sebagai "strategi bisnis wajar".
Lebih jauh lagi, riset Enhancv menemukan bahwa di sektor-sektor kompetitif seperti pemasaran dan periklanan, 87,5 persen profesional pernah menemui lowongan hantu, angka tertinggi di antara semua industri yang disurvei.
Menariknya, di sektor tersebut, kesenjangan resmi antara lowongan terbuka dan perekrutan nyata sebenarnya relatif kecil.
Artinya, bukan karena benar-benar tidak ada yang direkrut, tapi karena budaya "rekrutmen pertunjukan", posisi sebenarnya sudah terisi, tapi lowongan tetap dibiarkan aktif demi mengumpulkan data pasar, membangun daftar kandidat cadangan, atau sekadar terlihat sedang berkembang.
Sialnya, dampak dari ini bukan cuma soal waktu dan energi yang terbuang percuma. Fortune melaporkan bahwa 53 persen pencari kerja mengalami ghosting dari perusahaan sepanjang tahun terakhir, rekor tertinggi dalam tiga tahun terakhir, naik dari 48 persen tahun sebelumnya.
Efek psikologisnya nyata: keraguan diri yang terus menumpuk, rasa lelah mencoba, sampai akhirnya sebagian orang berhenti melamar sama sekali, bukan karena malas, tapi karena sistemnya sendiri yang terasa dirancang untuk menguras harapan pelan-pelan.
Yang lebih ironis, sebagian pencari kerja pada akhirnya membalas dengan cara serupa, melebih-lebihkan CV, melamar massal tanpa benar-benar berminat, atau menghilang begitu saja setelah diterima kerja. Bukan karena mereka tidak beretika, tapi karena kepercayaan di kedua sisi pasar kerja sudah sama-sama retak.
Ghost job bukan cuma soal lowongan palsu, ia adalah gejala dari relasi kerja yang sudah kehilangan kejujuran dasarnya.
Jadi, kalau kamu pernah merasa dunia kerja hari ini terasa seperti berteriak ke ruang kosong, mungkin kamu memang benar. Bukan kamu yang kurang berusaha, tapi sistemnya yang diam-diam dirancang untuk membuatmu merasa begitu.
Baca Juga
-
Loud Budgeting: Dompet Selamat, tapi Pertemanan Lenyap?
-
Bukan Ansos! Mahasiswa dengan Perekonomian Tipis Cuma Kalah Koneksi
-
Dilema Gen Z! Pindah Kerja Disebut Kutu Loncat, Bertahan Malah Apes
-
Mitos PTN vs PTS: Label Kampus Tak Pernah Menjamin Otakmu Berkelas
-
Underemployment: Saat Keringat Sarjana Cuma Jadi Angka Formal
Artikel Terkait
-
AI Mulai Ubah Cara Perusahaan Rekrut Karyawan
-
Fenomena 'Ghosting' Rekrutmen: Ketika Perusahaan Menuntut Profesionalisme tapi Lupa Etika Dasar
-
Presiden Prabowo Apresiasi Rekrutmen IPDN, Cerminan Kesetaraan Kesempatan Bagi Putra-Putri Bangsa
-
Privasi Jobseeker Dipertaruhkan: Apa Urgensi Perusahaan Minta Data Pribadi?
-
Sistem Walk-in Interview: Memudahkan Recruiter atau Membebani Jobseeker?
Kolom
-
Ketertinggalan Pendidikan: Saatnya Terapkan Tata Kelola Asimetris
-
Ironi di Negeri Tropis: Buah Melimpah, Harga Tak Ramah
-
Ibu Rumah Tangga: Karyawan Tanpa Gaji, Tanpa Cuti, Tanpa Bonus
-
Jangan Terlalu Cepat Menyalahkan Guru: Stop Saling Lempar Tanggung Jawab
-
Loud Budgeting: Dompet Selamat, tapi Pertemanan Lenyap?
Terkini
-
Merah Putih Berkibar di 4 Negara, WNI Ikut Doakan Korban Gempa NTT
-
iQOO Neo11 Ultra Siap Jadi Monster Gaming Baru: Usung Chip Gahar dan Baterai Jumbo 9.100 mAh
-
Ulasan Drama Mother and Mom: Kritik terhadap Obsesi Menjadi Ibu Ideal
-
Review Serial Silo Season 1: Adaptasi Novel Wool yang Penuh Teka-Teki Seru!
-
Dari Maryamah Karpov ke Maryam Mah Kapok Garapan Asma Nadia dkk