Lintang Siltya Utami | Sukatman Sukatman
Pengemudi ojek online saat beraktivitas di jalan raya. (Pexels/Jeffry Surianto)
Sukatman Sukatman

Bayangkan momen ini: orang-orang yang saban hari berkejaran dengan algoritma, aspal panas, dan bunyi ping pesanan, mendadak melepas helm mereka. Di tengah lapangan, 47 mitra pengemudi ojek online (ojol)—yang tergabung dalam angkatan Paskibra Gojek pertama—melangkah tegap mengibarkan Sang Merah Putih. Sebuah pemandangan yang seketika meluluhkan hati dan memanen ribuan pujian di media sosial.

Di permukaan, narasi ini sungguh memesona. Publik bertepuk tangan membaca potret patriotisme dari mereka yang kerap dipandang sebelah mata. Namun, pernahkah kita sejenak berhenti mengusap air mata haru dan melayangkan pertanyaan yang sedikit mengganjal: Mengapa kelas pekerja yang belum sepenuhnya sejahtera secara ekonomi ini justru menyimpan rasa kepemilikan nasionalisme yang begitu membumbung tinggi?

Patriotisme Murni dari Aspal Jalanan

Mari kita jujur. Di era ketika elite politik acap kali menjadikan narasi kebangsaan sekadar komoditas kampanye atau bahan pidato seremonial, nasionalisme akar rumput justru tumbuh begitu berdikari. Mitra pengemudi gig economy tak butuh insentif proyek atau jaminan jabatan untuk mencintai negerinya. Jiwa kebangsaan mereka jujur, murni, dan lahir dari rahim perjuangan hidup sehari-hari di jalanan.

Bagi mereka, menghormati bendera bukan soal memenuhi protokol formal, melainkan bentuk kebanggaan atas martabat diri. Mereka adalah urat nadi ekonomi perkotaan yang nyata. Ketika pandemi melanda hingga ekonomi bergejolak, punggung merekalah yang menopang mobilitas logistik bangsa ini. Namun, di balik decak kagum itu, ada paradoks yang terasa agak getir.

Beban Emosional dan Paradoks Gig Economy

Ada "beban emosional" terselubung ketika kita terlalu cepat meromantisasi penderitaan dan pengorbanan rakyat kecil. Kita gemar memuja ketangguhan mereka, menyematkan label "pahlawan jalanan", tetapi sering kali lupa menanyakan hal paling mendasar: Apakah dapurnya sudah mengepul dengan tenang hari ini?

Sebagai pekerja dalam kerangka gig economy, posisi mitra pengemudi berada di area abu-abu. Mereka tidak memiliki gaji pokok, tak ada jaminan THR pasti, dan risiko keselamatan jalanan sepenuhnya ditanggung sendiri. Sistem kemitraan fleksibel memang menawarkan kebebasan jam kerja, tetapi di sisi lain kerap menggerus kepastian perlindungan sosial dasar.

Sungguh sebuah kontras yang tajam: negara dan masyarakat menikmati buah dari kepatriotisan serta kerja keras mereka, namun proteksi yang diterima para frontliner ini masih minim. Memuji nasionalisme mereka tanpa memedulikan kesejahteraan ekonominya adalah bentuk romantisasi yang timpang.

Menuju Perlindungan Sosial Inklusif

Kita tidak boleh berhenti pada selebrasi tepuk tangan atau liputan viral semata. Jika kita benar-benar menghargai nasionalisme yang ditunjukkan para pengemudi ojol ini, maka jawabannya harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan konkret.

Pertama, sudah saatnya pemerintah merumuskan skema perlindungan sosial inklusif (universal social protection) yang dirancang khusus untuk karakter pekerja informal dan gig economy. Perlindungan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, hingga skema tabungan hari tua tak boleh lagi menjadi barang mewah yang hanya dimiliki pekerja kantoran formal.

Kedua, perusahaan penyedia platform perlu mentransformasikan apresiasi simbolis menjadi kebijakan kemitraan yang lebih adil (fair work standard). Mengakui mereka sebagai bagian dari "keluarga besar" harus diimbangi dengan penyesuaian tarif yang manusiawi, perlindungan hukum, dan jaminan keselamatan kerja yang mumpuni.

Nasionalisme yang Menghidupi

Aksi pengibaran bendera oleh para mitra ojol adalah cermin bersih bagi bangsa ini. Mereka telah membuktikan bahwa cinta tanah air tidak pernah surut, meski hidup kerap memberi mereka ketidakpastian.

Kini, bola panas ada di tangan kita, pemerintah, dan korporasi. Cara terbaik untuk membalas penghormatan Merah Putih dari para jaket hijau ini bukanlah sekadar ucapan terima kasih atau piagam penghargaan. Cara terbaik adalah memastikan bahwa di negeri yang sangat mereka cintai ini, keringat dan kerja keras mereka sanggup memberi penghidupan yang layak dan bermartabat.

Sebab, bukankah makna kemerdekaan yang sejati adalah ketika seluruh rakyatnya tak hanya bebas mengibarkan bendera, tetapi juga bebas dari rasa cemas akan masa depannya sendiri?