Sekar Anindyah Lamase | Fairus Farizki
Perlombaan Panjat Pinang (Pexels/Antonyus Bunjamin)
Fairus Farizki

Setiap Agustus, ada satu pemandangan yang hampir selalu kembali muncul di kampung-kampung Indonesia. Sebatang pohon pinang atau bambu berdiri tegak, dilumuri oli atau gemuk hingga licin, sementara berbagai hadiah digantungkan di puncaknya.

Di bawahnya, orang-orang membentuk satu regu. Satu orang naik, lalu yang lain menjadi pijakan. Jatuh, mencoba lagi, saling dorong, saling menopang, sampai akhirnya seseorang berhasil mencapai puncak.

Kita mengenalnya sebagai panjat pinang, salah satu lomba yang nyaris tidak pernah absen dalam perayaan 17 Agustus. Tetapi ada satu hal yang mungkin membuat kita melihat permainan ini dengan cara berbeda: panjat pinang ternyata mempunyai jejak yang kuat dalam sejarah kolonial.

Panjat Pinang dan Jejak Kolonial di Balik Permainan 17 Agustus

Lomba Panjat Pinang (Dok. KITLV Leiden)

Dalam buku Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal: Kumpulan Esai Seni, Budaya, dan Sejarah Indonesia, Fandy Hutari menempatkan pembahasan panjat pinang dalam bab "Panjat Pinang dan Kolonialisme", halaman 178-181.

Hutari menjelaskan bahwa permainan ini mulai dikenal di Indonesia pada masa kolonial dan sekitar 1930-an kerap digelar dalam hajatan orang-orang Belanda, seperti pesta pernikahan, kenaikan jabatan, atau ulang tahun.

Hadiahnya berupa makanan dan pakaian, termasuk keju, gula, kaus, dan kemeja, yang ketika itu tergolong mewah bagi sebagian masyarakat pribumi.

Pesertanya pun umumnya bukan orang Belanda. Orang-orang pribumi yang berlomba memanjat tiang licin tersebut menjadi peserta, sementara orang Belanda menonton. Dalam catatan Hutari, permainan itu bahkan dapat diselenggarakan oleh keluarga pribumi kaya yang dekat dengan struktur kolonial.

Jejak visualnya juga bukan sekadar cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut. Koleksi KITLV Leiden menyimpan foto panjat pinang di Hindia Belanda, termasuk dokumentasi di Malang pada 1910 dan Makassar pada 1921. Foto-foto tersebut menunjukkan bahwa praktik memanjat tiang untuk memperebutkan hadiah memang telah hadir dalam masyarakat kolonial.

Namun, sejarahnya ternyata tidak sesederhana "Belanda adalah pencipta panjat pinang”. Lebih dari itu, Hutari mengutip pengamat sejarah dan budaya Tionghoa, Rianto Jiang, yang menyebut adanya permainan serupa dalam kebudayaan Tionghoa di wilayah Tiongkok Selatan, seperti Fujian, Guangdong, dan Taiwan.

Permainan tersebut dikenal sebagai qiang gu dan dikaitkan dengan Festival Hantu. Hutari bahkan membuka kemungkinan bahwa panjat pinang yang berkembang di Indonesia merupakan hasil asimilasi kebudayaan.

Dengan kata lain, sejarah panjat pinang mungkin lebih tepat dipahami sebagai perjalanan lintas budaya. Ada bentuk permainan yang lebih tua di Asia, kemudian berkembang dalam konteks Hindia Belanda, sebelum akhirnya memperoleh kehidupan baru di Indonesia merdeka.

Ketika Permainan Kolonial Menjadi Simbol Gotong Royong

Lomba Panjat Pinang di Malang, 1910 (Dok. KITLV Leiden)

Di sinilah bagian paling menariknya. Setelah Indonesia merdeka, panjat pinang tidak lagi kita tempatkan sebagai tontonan kolonial. Ia justru menjadi salah satu ritual yang meramaikan perayaan kemerdekaan. Maknanya pun berubah. Yang dahulu berlangsung dalam relasi kolonial, kini dimainkan oleh warga untuk merayakan kemerdekaan mereka sendiri.

Bahkan cara permainannya seperti menyimpan metafora yang menarik. Tidak ada satu orang pun yang bisa mencapai puncak sendirian. Orang yang paling ringan mungkin harus naik paling atas, tetapi ia tidak akan sampai ke sana tanpa pundak orang-orang di bawahnya. Yang berada di bawah mungkin tidak mendapatkan posisi paling tinggi, tetapi justru merekalah yang membuat orang lain bisa mencapai tujuan.

Hutari sendiri membaca panjat pinang secara filosofis sebagai permainan yang mengajarkan kerja sama, kecerdikan, kekompakan, dan pengorbanan ego pribadi. Jika hadiah di puncak diibaratkan sebagai kemerdekaan, maka perjalanan menuju puncak menjadi gambaran perjuangan kolektif untuk mencapainya.

Memang, kita tidak perlu memaksakan bahwa setiap peserta panjat pinang sedang melakukan refleksi sejarah ketika berebut hadiah. Kebanyakan mungkin hanya ingin mendapatkan televisi, sembako, uang, atau hadiah lain sambil tertawa bersama teman-temannya.

Namun, tradisi memang sering bekerja seperti itu. Makna kebudayaan tidak selalu hadir dalam bentuk pidato. Kadang ia hidup dalam tindakan sederhana yang dilakukan berulang-ulang. Karena itu, mungkin ada cara lain melihat panjat pinang setiap kali kita menyaksikannya pada bulan Agustus.

Batang yang licin itu seringkali kita melihatnya hanya sebatas permainan. Hadiah di puncaknya juga bukan hanya sekedar hadiah. Dan orang yang berhasil meraih bendera atau hadiah bukanlah satu-satunya orang yang memenangkan perlombaan. Sebab untuk sampai ke atas, ia membutuhkan kerja sama kolektif untuk mencapai hadiah sebagai pemenang.

Mungkin itulah cara kita semua sebagai warga Indonesia memberi makna baru kepada sebuah permainan dari masa lalu, mengambil bentuknya, meninggalkan konteks kolonialnya, lalu menjadikannya bagian dari euforia kemerdekaan. Setiap kali seseorang mencapai puncak, kita kembali diingatkan bahwa kemerdekaan yang kita nikmati saat ini adalah buah dari perjuangan kolektif tanpa menyerah para pahlawan yang telah gugur.