Kabar rencana latihan gabungan TNI Angkatan Laut dengan Angkatan Laut Tiongkok di perairan dekat Taiwan mendadak memantik respons keras dari Taipei. Dewan Urusan Daratan Taiwan mengecam langkah tersebut dan menilai Beijing sedang berupaya menciptakan "kesan palsu" atas yurisdiksi perairan tersebut.
Bagi Indonesia, latihan pelayaran (passage exercise) antar-angkatan laut sebenarnya adalah hal yang lumrah dalam diplomasi pertahanan. Namun, ketika kegiatan ini digelar di salah satu kawasan titik panas geopolitik paling krusial di dunia, narasi yang berkembang tak lagi sekadar urusan teknis militer.
Mengapa isu ini mendesak untuk kita bedah? Sebab di balik polemik bilateral Indonesia-Tiongkok-Taiwan ini, ada pertaruhan yang jauh lebih besar: reputasi diplomasi bebas-aktif kita dan stabilitas kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan.
Jebakan Narasi dalam Pusaran Great Power Competition
Jika kita hanya melihat isu ini dari kacamata "siapa mendukung siapa", kita akan terjebak pada narasi sempit. Bagi Beijing, latihan ini bisa dikemas sebagai pengakuan yurisdiksi. Bagi Taiwan, ini adalah bentuk provokasi. Lantas, di mana posisi Indonesia?
Di sinilah letak masalah utamanya: ketiadaan koridor narasi dan transparansi kolektif. Sebagai negara dengan politik luar negeri bebas-aktif, Indonesia berhak berlatih dengan siapa saja—mulai dari Amerika Serikat lewat Super Garuda Shield, hingga Tiongkok atau Rusia. Namun, ketika latihan tersebut dilakukan dekat wilayah bersengketa tanpa kejelasan koridor komunikasi, Indonesia berisiko terseret dalam propaganda geopolitik negara lain.
Masalah ini sejatinya bukan sekadar urusan domestik TNI AL atau Kementerian Luar Negeri RI. Ini adalah sinyal alarm bahwa dinamika militer di sekitar kawasan kita sudah semakin padat dan rentan dipolitisasi.
Mengapa Kerangka Bilateral Saja Tak Lagi Cukup?
Selama ini, interaksi militer dengan negara kekuatan besar (great powers) cenderung ditangani secara bilateral oleh masing-masing negara anggota ASEAN. Akibatnya, peta interaksi militer di kawasan tampak seperti kepingan puzzle yang terpisah-pisah.
Tiongkok, Amerika Serikat, Australia, hingga Rusia rutin menggelar latihan bersama di Pasifik dan Asia Tenggara. Jika tidak ada panduan tata kelola bersama, kawasan kita akan terus dijadikan "panggung demonstrasi kekuatan" (show of force) yang memicu salah paham geopolitik.
Apakah kita akan membiarkan halaman rumah ASEAN menjadi arena tarik-menarik kepentingan tanpa aturan main yang jelas?
Solusi: Inisiasi ASEAN Guidelines for Joint Naval Exercises
Sebagai pemimpin informal (de facto leader) ASEAN, Indonesia memegang peran kunci untuk menggeser gesekan ini menjadi momentum perbaikan tata kelola regional. Sudah saatnya Indonesia menginisiasi ASEAN Guidelines for Joint Naval Exercises with External Powers.
Pedoman ini bukan bertujuan melarang negara anggota mengadakan latihan militer luar negeri, melainkan menyusun kerangka etika dan transparansi kolektif, antara lain:
- Kejelasan Zona Geografis: Memastikan latihan bersama kekuatan besar difokuskan pada perairan netral atau ZEE nasional yang tidak berbenturan langsung dengan wilayah flashpoint sensitif.
- Kedaulatan Narasi Bersama: Mengharuskan penerbitan rilis pers independen atau joint statement yang mempertegas bahwa latihan berfokus pada keselamatan maritim (search and rescue, mitigasi bencana), bukan dukungan klaim politik tertentu.
- Menjaga Sentralitas ASEAN: Memastikan interaksi militer tidak mencederai prinsip netralitas kawasan yang tertuang dalam Zone of Peace, Freedom and Neutrality (ZOPFAN).
Menatap Masa Depan Diplomasi Maritim
Latihan laut bersama seharusnya menjadi instrumen untuk membangun kepercayaan (confidence building measures), bukan malah menciptakan rasa curiga di antara tetangga kawasan.
Indonesia telah membuktikan diri mampu menjadi mediator damai dalam berbagai krisis regional. Kini, tantangannya adalah membawa keberanian tersebut ke meja diplomasi maritim ASEAN.
Pertanyaannya sekarang: akankah kita membiarkan narasi keamanan kawasan dikendalikan oleh agenda kekuatan besar, ataukah ASEAN berani mengambil kendali dan menetapkan aturan main di rumahnya sendiri?
Baca Juga
-
Zona Merah Hukum Adat: Mendesak Perlindungan Kesakralan Mama Papua di Tengah Konflik
-
Dari Dapur ke Piring: Mencegah Bom Waktu Keracunan Program MBG
-
Bukan Anti-Makan Gratis, Ini Alasan Mahasiswa Tolak MBG di Jalanan
-
EBT Indonesia Tertinggal dari Vietnam: Masalah Kita Ada di Jaringan PLN
-
Saat Jaket Hijau Hormat Bendera: Keringat Ojol dan Isu Kesejahteraan
Artikel Terkait
-
Siapa Lawan Pertama Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, Malaysia atau Singapura?
-
Demi Piala Oscar 2027, Taiwan Tunjuk A Foggy Tale di Kategori Internasional
-
DPR Enggan Buru-buru Sikapi Penjualan KRI Ki Hajar Dewantara
-
Indonesia Peringkat 118 Dunia Saatnya John Herdman Buktikan Garuda Layak Juara FIFA ASEAN Cup
-
Kabar Baik dari Italia, Jay Idzes Gabung Timnas Indonesia Satu Minggu Sebelum FIFA ASEAN Cup 2026
Kolom
-
Gen Z Mulai Gemar Beli Produk Lokal: Bangga atau Sekadar Ikut Tren?
-
Sinyal Darurat Seleksi Hakim Agung: Benarkah Rekam Jejak Terabaikan?
-
Fenomena Slow Dating: Saat Gen Z Tidak Lagi Terburu-buru Menjalin Hubungan
-
Filosofi SpongeBob Jadi Ubur-Ubur dan Ilusi Kabur dari Burnout
-
Keberanian Gen Z Mendobrak Tradisi: Mewarisi Tak Harus Mengikuti
Terkini
-
Jangan Asal Buang ke Selokan! Begini Cara Benar Menyikapi Bangkai Tikus di Jalan Raya
-
Kimpul Mendadak Viral, Benarkah Umbi Lokal Ini Lebih Sehat dari Nasi?
-
Bad Hair Day Bikin Hidup Ikut Berantakan: Petualangan Andita di Hair-Quake!
-
Review Kadet 1947: Saat Sejarah Perang Dikemas Penuh Humor, Romansa, dan Tanpa Kesan Kaku
-
Segera Tayang! Intip Fakta-Fakta Menarik Drama Korea 'New Recruit 4'