Personal branding membantu Gen Z membangun citra di dunia digital sekaligus bisa menjadi tekanan. Terlebih di era media sosial yang serba cepat dan instan, terkadang kita tidak benar-benar bisa bebas menjadi diri sendiri.
Dulu, menjadi diri sendiri mungkin sesederhana mengetahui apa yang kita sukai dan menjalaninya. Sekarang, definisinya terasa jauh lebih rumit saat hidup di era ketika hampir semua hal bisa menjadi bagian dari personal branding.
Cara berpakaian, pekerjaan, hobi, tempat nongkrong, bahkan cara menulis caption bisa membentuk persepsi orang lain terhadap diri kita. Media sosial membuat proses ini semakin kuat saat satu unggahan membentuk kesan tertentu tentang siapa diri kita.
Personal branding sebenarnya bukan sesuatu yang buruk karena bisa membantu memperkenalkan karya, mencari peluang, hingga mengembangkan karier. Namun, saat terlalu sibuk membangun citra diri, apakah kita masih punya ruang untuk menjadi diri sendiri?
Ketika Semua Hal Harus Terlihat “Punya Nilai”
Salah satu tekanan personal branding adalah munculnya anggapan kalau setiap aktivitas harus memiliki nilai untuk ditampilkan. Bahkan untuk aktivitas yang sebenarnya biasa saja, seolah ada kebutuhan “tampil”.
Hobi harus terlihat produktif. Liburan harus menjadi konten. Membaca buku perlu dibagikan. Mengikuti kegiatan tertentu seolah harus menghasilkan sesuatu yang bisa dimasukkan ke dalam portofolio.
Kehidupan sehari-hari jadi terasa seperti proyek yang harus terus dipoles. Di sinilah personal branding mulai melelahkan sebab tidak semua hal dalam hidup harus memiliki manfaat profesional.
Ada aktivitas yang dilakukan hanya karena menyenangkan. Ada pengalaman yang cukup menjadi kenangan pribadi. Ada pula hari di mana kita tidak produktif sama sekali. Dan itu tidak membuat kita menjadi manusia yang kurang bernilai.
Kita Mulai Takut Merusak “Citra”
Personal branding juga bisa menciptakan identitas yang terasa seperti sebuah karakter. Misalnya, saat kita dikenal sebagai pribadi yang selalu produktif tapi merasa lelah dan ingin beristirahat, muncul kekhawatiran jika orang lain akan melihatnya berbeda.
Atau jika sedang membangun citra sebagai pribadi yang selalu percaya diri dan mengalami kegagalan, kita mungkin merasa tidak nyaman membagikan kondisi ini karena takut akan merusak image.
Akhirnya, kita tidak hanya bertanya “Apa yang ingin saya lakukan?” tapi malah “Apakah ini sesuai dengan personal branding saya?.” Kalau pertanyaan kedua terus mendominasi, bukankah kita justru sedang membatasi diri sendiri?
Media Sosial Membuat Identitas Terlihat Permanen
Salah satu karakter media sosial adalah jejak digital. Unggahan yang dibuat hari ini bisa ditemukan kembali bertahun-tahun kemudian. Karena itu, banyak orang menjadi semakin berhati-hati dalam menampilkan diri.
Kehati-hatian tentu penting. Namun, ada perbedaan antara menjaga privasi dengan terus-menerus menyensor diri. Bukankah manusia sebenarnya terus berubah? Entah karena perkembangan zaman atau proses menemukan jati diri, perubahan tidak bisa dihindari.
Apa yang kita sukai saat ini belum tentu kita sukai beberapa tahun kemudian. Pandangan bisa berkembang. Gaya bisa berubah. Pilihan karier pun bisa saja berganti.
Sayangnya, personal branding terkadang membuat kita merasa harus konsisten dengan versi diri yang pernah ditampilkan. Padahal, berubah bukan berarti tidak autentik. Setiap sisi diri kita, kemarin atau hari ini, tetaplah orisinil dan valid.
Kita Berhak Memiliki Sisi yang Tidak Dipublikasikan
Menurut saya, salah satu cara menjaga diri di tengah era personal branding adalah memahami bahwa tidak semua bagian hidup harus menjadi konsumsi publik. Kita berhak memiliki sisi yang tidak dipublikasikan.
Kita boleh memiliki akun media sosial yang profesional, membangun portofolio, bahkan memperkenalkan kemampuan dan pencapaian. Namun, kita juga boleh tidak pamer pertemanan, perjalanan, atau merayakan pencapaian hanya bersama orang terdekat.
Ingat, tidak semua kebahagiaan membutuhkan penonton. Personal branding bukan identitas yang membuat kita harus bertahan dengan satu citra tertentu yang tidak boleh diubah.
Personal Branding Seharusnya Alat, Bukan Identitas
Personal branding seharusnya hanya sebagai alat yang membantu kita menyampaikan siapa diri kita, bukan menentukan kita harus menjadi siapa. Kalau terus menyesuaikan kehidupan dengan citra yang ingin dibangun, personal branding justru berubah menjadi tekanan.
Menurut saya, Gen Z perlu belajar menggunakan media sosial tanpa menyerahkan seluruh identitas. Kita boleh profesional tanpa harus selalu terlihat sempurna. Boleh produktif dan tetap beristirahat. Boleh membangun citra, tapi tidak harus hidup sesuai citra tersebut setiap waktu.
Pada akhirnya, menjadi diri sendiri berarti memberikan ruang untuk berubah, mencoba, gagal, dan berkembang tanpa terus khawatir apakah semuanya cocok dengan “brand” yang sudah kita bangun.
Mungkin, bentuk kemerdekaan digital yang sesungguhnya bukan memiliki personal branding paling kuat. Melainkan ketika tetap tahu siapa diri kita bahkan saat tidak ada kamera, unggahan, likes, atau audiens yang melihat.
Baca Juga
-
Tidak Selalu Harus Hadir: Mengapa Memberi Ruang dalam Relasi Itu Penting?
-
Rekonstruksi Mindset: Jeda Itu Ruang Istirahat, Bukan Tempat Cari Jawaban
-
Secangkir Kopi Pagi Hari Tanpa Scroll: Jeda Kecil yang Sering Kita Lewatkan
-
Productivity Guilt: Rasa Bersalah Memilih Jeda saat Semua Orang Produktif
-
Sibuk Jalani Hari, tapi Kapan Terakhir Kali Bertanya Aku Baik-Baik Saja?
Artikel Terkait
-
Pilihan Skincare Lokal Makin Beragam di Tengah Tren Beauty
-
Literasi Asuransi Gen Z Turun, Ada Bahaya Risiko Finansial
-
Soft Socializing dan Crafting Menjadi Cara Baru Gen Z Menikmati Waktu Hangout
-
5 Bahan Makanan Tradisional yang Kini Mendunia, Ada Matcha hingga Ube!
-
Gen Z dan Milenial Makin Rajin Jaga Kesehatan, Tidur hingga Kesehatan Mental Jadi Prioritas
Kolom
-
Ancaman RUU Penyiaran: Larang Investigasi hingga Pangkas Kode Etik Jurnalis
-
Tanpa Kita Sadari, Politik Mempengaruhi Kehidupan Lingkungan dan Satwa
-
Tidak Selalu Harus Hadir: Mengapa Memberi Ruang dalam Relasi Itu Penting?
-
Bukan Cuma Dua Musim, Laboratorium Sedusun Bongkar Mitos lewat Kearifan Gunungkidul
-
Ketika AI Jadi Jalan Pintas, Buku Makin Ditinggalkan
Terkini
-
Ulasan Film Pendek "Berdoa, Mulai": Mengurai Mayoritas di Sekolah Negeri
-
Sinopsis Life Trade, Drama Jepang Dibintangi Baba Fumika dan Maki Yoko
-
Stop Kebanyakan Scroll! Saatnya Kamu Memberi Jeda untuk Diri Sendiri
-
Exynos 2700 Sudah Diproduksi, Apakah Galaxy S27 Ultra akan Pakai Chip Ini?
-
Lebih Dewasa! NCT Wish Ungkap Pertumbuhan Musikalitas di Album Baru, I SPY