M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi membangun personal branding (Pexels/MART PRODUCTION)
e. kusuma .n

Personal branding membantu Gen Z membangun citra di dunia digital sekaligus bisa menjadi tekanan. Terlebih di era media sosial yang serba cepat dan instan, terkadang kita tidak benar-benar bisa bebas menjadi diri sendiri.

Dulu, menjadi diri sendiri mungkin sesederhana mengetahui apa yang kita sukai dan menjalaninya. Sekarang, definisinya terasa jauh lebih rumit saat hidup di era ketika hampir semua hal bisa menjadi bagian dari personal branding.

Cara berpakaian, pekerjaan, hobi, tempat nongkrong, bahkan cara menulis caption bisa membentuk persepsi orang lain terhadap diri kita. Media sosial membuat proses ini semakin kuat saat satu unggahan membentuk kesan tertentu tentang siapa diri kita.

Personal branding sebenarnya bukan sesuatu yang buruk karena bisa membantu memperkenalkan karya, mencari peluang, hingga mengembangkan karier. Namun, saat terlalu sibuk membangun citra diri, apakah kita masih punya ruang untuk menjadi diri sendiri?

Ketika Semua Hal Harus Terlihat “Punya Nilai”

Salah satu tekanan personal branding adalah munculnya anggapan kalau setiap aktivitas harus memiliki nilai untuk ditampilkan. Bahkan untuk aktivitas yang sebenarnya biasa saja, seolah ada kebutuhan “tampil”.

Hobi harus terlihat produktif. Liburan harus menjadi konten. Membaca buku perlu dibagikan. Mengikuti kegiatan tertentu seolah harus menghasilkan sesuatu yang bisa dimasukkan ke dalam portofolio.

Kehidupan sehari-hari jadi terasa seperti proyek yang harus terus dipoles. Di sinilah personal branding mulai melelahkan sebab tidak semua hal dalam hidup harus memiliki manfaat profesional.

Ada aktivitas yang dilakukan hanya karena menyenangkan. Ada pengalaman yang cukup menjadi kenangan pribadi. Ada pula hari di mana kita tidak produktif sama sekali. Dan itu tidak membuat kita menjadi manusia yang kurang bernilai.

Kita Mulai Takut Merusak “Citra”

Personal branding juga bisa menciptakan identitas yang terasa seperti sebuah karakter. Misalnya, saat kita dikenal sebagai pribadi yang selalu produktif tapi merasa lelah dan ingin beristirahat, muncul kekhawatiran jika orang lain akan melihatnya berbeda.

Atau jika sedang membangun citra sebagai pribadi yang selalu percaya diri dan mengalami kegagalan, kita mungkin merasa tidak nyaman membagikan kondisi ini karena takut akan merusak image.

Akhirnya, kita tidak hanya bertanya “Apa yang ingin saya lakukan?” tapi malah “Apakah ini sesuai dengan personal branding saya?.” Kalau pertanyaan kedua terus mendominasi, bukankah kita justru sedang membatasi diri sendiri?

Media Sosial Membuat Identitas Terlihat Permanen

Salah satu karakter media sosial adalah jejak digital. Unggahan yang dibuat hari ini bisa ditemukan kembali bertahun-tahun kemudian. Karena itu, banyak orang menjadi semakin berhati-hati dalam menampilkan diri.

Kehati-hatian tentu penting. Namun, ada perbedaan antara menjaga privasi dengan terus-menerus menyensor diri. Bukankah manusia sebenarnya terus berubah? Entah karena perkembangan zaman atau proses menemukan jati diri, perubahan tidak bisa dihindari.

Apa yang kita sukai saat ini belum tentu kita sukai beberapa tahun kemudian. Pandangan bisa berkembang. Gaya bisa berubah. Pilihan karier pun bisa saja berganti.

Sayangnya, personal branding terkadang membuat kita merasa harus konsisten dengan versi diri yang pernah ditampilkan. Padahal, berubah bukan berarti tidak autentik. Setiap sisi diri kita, kemarin atau hari ini, tetaplah orisinil dan valid.

Kita Berhak Memiliki Sisi yang Tidak Dipublikasikan

Menurut saya, salah satu cara menjaga diri di tengah era personal branding adalah memahami bahwa tidak semua bagian hidup harus menjadi konsumsi publik. Kita berhak memiliki sisi yang tidak dipublikasikan.

Kita boleh memiliki akun media sosial yang profesional, membangun portofolio, bahkan memperkenalkan kemampuan dan pencapaian. Namun, kita juga boleh tidak pamer pertemanan, perjalanan, atau merayakan pencapaian hanya bersama orang terdekat.

Ingat, tidak semua kebahagiaan membutuhkan penonton. Personal branding bukan identitas yang membuat kita harus bertahan dengan satu citra tertentu yang tidak boleh diubah.

Personal Branding Seharusnya Alat, Bukan Identitas

Personal branding seharusnya hanya sebagai alat yang membantu kita menyampaikan siapa diri kita, bukan menentukan kita harus menjadi siapa. Kalau terus menyesuaikan kehidupan dengan citra yang ingin dibangun, personal branding justru berubah menjadi tekanan.

Menurut saya, Gen Z perlu belajar menggunakan media sosial tanpa menyerahkan seluruh identitas. Kita boleh profesional tanpa harus selalu terlihat sempurna. Boleh produktif dan tetap beristirahat. Boleh membangun citra, tapi tidak harus hidup sesuai citra tersebut setiap waktu.

Pada akhirnya, menjadi diri sendiri berarti memberikan ruang untuk berubah, mencoba, gagal, dan berkembang tanpa terus khawatir apakah semuanya cocok dengan “brand” yang sudah kita bangun.

Mungkin, bentuk kemerdekaan digital yang sesungguhnya bukan memiliki personal branding paling kuat. Melainkan ketika tetap tahu siapa diri kita bahkan saat tidak ada kamera, unggahan, likes, atau audiens yang melihat.