Beauty or brains? Pertanyaan itu terdengar seperti pilihan sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan stereotip yang sudah terlalu lama beredar. Perempuan dianggap harus memilih antara menjadi cantik atau menjadi pintar. Seolah-olah memakai lip gloss, maskara, rok cantik, atau berdandan sedikit lebih lama akan membuat kemampuan berpikirnya berkurang. Padahal, mari kita luruskan satu hal: memakai maskara tidak menghapus kemampuan membaca. Lip gloss tidak menurunkan IQ. Dan berdandan tidak membuat seseorang mendadak kehilangan isi kepala.
Masalahnya bukan pada kosmetik. Masalahnya ada pada cara masyarakat menilai perempuan berdasarkan penampilannya. Perempuan yang tampil sederhana sering dianggap lebih serius. Sebaliknya, perempuan yang gemar berdandan terkadang langsung dicap terlalu mementingkan penampilan, materialistis, atau bahkan kurang intelektual. Sementara ketika seorang perempuan tampil cantik sekaligus berprestasi, masih ada saja orang yang menganggap kecerdasannya sebagai sesuatu yang mengejutkan.
Mengapa harus mengejutkan? Seolah-olah otak dan lipstik berada di dua sisi yang berlawanan. Padahal manusia memiliki banyak sisi sekaligus. Seseorang bisa menyukai buku, berdiskusi tentang politik, mengerjakan penelitian, mengejar karier, sekaligus menikmati makeup dan fashion. Tidak ada aturan biologis yang mengatakan bahwa seseorang harus mengorbankan kecerdasan untuk terlihat menarik.
Bahkan persoalan sebenarnya lebih dalam daripada sekadar makeup. Ada standar sosial yang sering membuat perempuan merasa harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari penampilan fisik. Ketika seorang perempuan cantik berhasil, pertanyaan yang muncul kadang bukan “bagaimana ia mencapai itu?”, tetapi “dia cantik, kok bisa pintar juga?”
Sebaliknya, ketika perempuan yang dianggap kurang menarik mencapai keberhasilan, masyarakat cenderung menganggap prestasinya lebih “masuk akal”. Ini menunjukkan bahwa kita masih sering menilai kapasitas seseorang melalui kemasan. Padahal kecerdasan tidak memiliki gaya rambut tertentu.
Tidak ada IQ yang hanya boleh dimiliki perempuan berkacamata. Tidak ada gelar akademik yang mensyaratkan wajah tanpa makeup. Tidak ada pekerjaan profesional yang melarang seseorang memakai lipstik. Dan tidak ada hubungan logis antara seberapa tebal eyeliner dengan seberapa tajam kemampuan seseorang menganalisis persoalan.
Lebih menyebalkan lagi ketika perempuan saling dipaksa masuk ke dalam pertentangan yang sebenarnya tidak perlu: beauty versus brains. Mengapa harus versus? Mengapa tidak beauty and brains?
Seorang perempuan berhak menjadi cantik tanpa harus meminta maaf karena terlihat menarik. Pada saat yang sama, ia berhak menjadi cerdas tanpa harus membuktikan bahwa dirinya “tidak seperti perempuan lain”. Ia tidak perlu meninggalkan femininitasnya agar dianggap serius.
Kecantikan pun bukan sesuatu yang harus selalu dikejar. Ada perempuan yang suka makeup, ada yang tidak. Ada yang menghabiskan waktu memilih warna lipstik, ada yang lebih senang membaca buku. Ada yang menikmati fashion, ada pula yang merasa nyaman dengan pakaian sederhana. Semuanya sah.
Yang tidak masuk akal adalah menganggap pilihan estetika sebagai indikator kecerdasan. Perempuan juga tidak seharusnya dipaksa membuktikan kecerdasannya dengan menjauh dari hal-hal yang dianggap “feminin”. Kalau seorang perempuan ingin tampil cantik, biarkan ia cantik. Kalau ia ingin tampil sederhana, biarkan ia sederhana. Kalau ia ingin menjadi ilmuwan sekaligus beauty enthusiast, biarkan keduanya hidup berdampingan.
Sebab identitas manusia jauh lebih kompleks daripada satu warna lipstik. Kita perlu berhenti mengukur isi kepala seseorang dari apa yang menempel di wajahnya. Makeup adalah kosmetik, bukan tes kecerdasan. Gaun adalah pakaian, bukan ukuran kapasitas berpikir. Penampilan adalah salah satu cara seseorang mengekspresikan diri, bukan ringkasan seluruh kepribadiannya.
Perempuan boleh memakai maskara sambil membaca buku. Boleh memakai lip gloss sambil memimpin rapat. Boleh tampil feminin sambil menjadi orang paling kritis di ruangan. Karena pada akhirnya, kecerdasan tidak pernah ditentukan oleh seberapa banyak makeup yang seseorang pakai. Dan memakai makeup tidak pernah membuat seseorang menjadi kurang pintar. Yang benar-benar perlu kita hapus bukan maskaranya, tapi stereotipnya.
Baca Juga
-
Anak Krakatau Sudah Siaga Sejak Juli, Lalu Mitigasi Pemerintah ke Mana?
-
Hukum Karma Alam: Saat Gunungan Sampah Berubah Menjadi Mesin Pembunuh
-
Fakta Ironisnya: Ketika MBG Hanya Menanggung 1/9 Biaya Makan Keluarga
-
Empati Tidak Harus Menunggu Korbannya Menjadi Keluarga Kita
-
Negara Ring of Fire, Mengapa Anggaran Bencana Masih Seperti Lelucon?
Artikel Terkait
Kolom
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?
-
Stop Sikap Overproud: Pejabat Bukan Raja, Kenapa Masih Disambut Berlebihan?
-
Tone Deaf Berkedok Self-Care: Tak Semua Orang Bisa Menjauh dari Bad News
-
Ironis! Guru Dipaksa Jadi "Pencicip Racun" Akibat Amputasi Logika Program MBG
-
Disebut "Jamet" hingga Difatwa Haram, Mengapa Sound Horeg Tetap Digemari?
Terkini
-
Bye-Bye Muka Tomat! Ini 4 Soothing Gel Mugwort Khusus Kulit Berminyak, Cuma 30 Ribuan
-
Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026
-
Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap
-
Manga You Are a Four Leaf Clover Diadaptasi ke Anime
-
Bertabur Bintang! Kim Yeon Koung, Lee Junho, dan Kazuha Resmi Jadi Staf Baru di Kian's Bizarre B&B 2