Kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami ratusan santri di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, kembali membuat publik geram dengan standar keamanan program tersebut.
Menurut Badan Gizi Nasional (BGN), makanan dalam kasus tersebut sebenarnya sudah matang sekitar pukul 05.00 WIB sehingga seharusnya dikonsumsi sebelum pukul 09.00 WIB. Namun, label pada makanan justru mencantumkan waktu konsumsi hingga pukul 10.00 WIB.
Lebih lanjut, makanan tersebut baru dikirim ke sekolah sekitar pukul 11.30 dan dikonsumsi setelah pukul 12.00. BGN menyebut pelanggaran prosedur dan keterlambatan distribusi itu sebagai salah satu faktor dalam kasus keracunan tersebut.
Kasus Sidoarjo menunjukkan bahwa urusan waktu dalam program MBG bukan masalah sepele. Begitu salah satu tahapan tidak sinkron, risikonya bisa merembet ke keamanan makanan. Namun, urusan waktu pendistribusian MBG ternyata juga menimbulkan masalah lain di sekolah.
Belakangan, banyak warganet protes soal makanan yang datang terlalu pagi, tepatnya jauh sebelum waktu istirahat. Jam tersebut masih menjadi bagian dari pembelajaran, bahkan sebagian anak sudah sarapan dari rumah. Akibatnya, sekolah dan guru harus menyelipkan agenda makan di tengah kegiatan belajar.
Lantas, mengapa program yang dirancang untuk mendukung pendidikan justru membuat sekolah menyesuaikan ritmenya dengan jadwal MBG?
MBG Itu Makan Siang, Bukan Sarapan
Namanya memang Makan Bergizi Gratis, tetapi konteksnya adalah pemenuhan makanan bagi anak sekolah. Kalau makanan sudah dibagikan pukul 09.00 atau 09.30, padahal anak baru saja sarapan dari rumah, wajar jika banyak yang mengeluh.
Apalagi, kasus Sidoarjo memperlihatkan betapa krusialnya persoalan waktu dalam program ini. Makanan yang matang pukul 05.00 seharusnya dikonsumsi sebelum pukul 09.00, tetapi justru diberi label dengan waktu yang berbeda dan baru dikirim menjelang siang. BGN sendiri menyebut makanan yang melewati batas empat jam sebagai salah satu faktor dalam kasus keracunan.
Saya jadi berpikir, jangan-jangan jadwal MBG yang terlalu pagi bukan semata-mata karena anak memang perlu makan di jam tersebut, tetapi karena sistem distribusinya belum mampu menyediakan makanan mendekati jam makan siang?
Jam Belajar Jangan Jadi Korban Jadwal MBG
Kalau memang masalahnya ada pada keterbatasan sistem, jangan sampai dampaknya dibebankan kepada anak dan sekolah. Anak yang sudah sarapan di rumah akhirnya harus makan lagi, sementara kegiatan belajar ikut dikorbankan demi menyesuaikan waktu kedatangan makanan.
Di banyak sekolah, kedatangan MBG juga berarti harus ada waktu khusus yang disisipkan di tengah pelajaran. Guru perlu menghentikan materi yang sedang disampaikan, siswa beralih dari aktivitas belajar ke agenda makan, lalu kelas kembali menata fokus setelah semuanya selesai.
Padahal, MBG sejak awal hadir dengan gagasan untuk menunjang pendidikan. Asupan bergizi diharapkan membantu anak lebih siap mengikuti pelajaran dan menjalani aktivitas di sekolah. Olehkarena itu, terasa kontradiktif jika pelaksanaannya justru mengganggu ruang yang hendak didukung.
Anak Bukan Mesin yang Bisa Disetel
Masalah lainnya adalah anggapan bahwa semua anak bisa mengikuti jadwal makan yang sama. Padahal, pengalaman anak di rumah tidak sama. Ada yang sudah sarapan sebelum berangkat sekolah, ada yang terbiasa makan lebih siang, ada pula yang mungkin memang sudah lapar pada pagi hari.
Oleh karena itu, agak aneh jika jadwal makan ditentukan terutama dari sisi distribusi, sementara kondisi penerimanya justru menjadi pertimbangan belakangan.
Saya kira di sini pemerintah perlu berhenti melihat anak hanya sebagai penerima manfaat yang tinggal menerima apa yang diberikan. Mereka punya ritme sendiri. Mereka punya jadwal belajar sendiri. Bahkan tubuh mereka pun punya kebutuhan yang tidak selalu bisa dipukul rata berdasarkan jam kedatangan makanan.
Sayangnya, yang terlihat justru sebaliknya. Makanan harus sampai tepat waktu, sekolah harus menyesuaikan, pelajaran bisa dipotong. Semua demi memastikan MBG berjalan sesuai jadwal. Kalau begitu, mungkin narasinya memang perlu dibalik. MBG adalah prioritas, pendidikan hanya pendukung.
Baca Juga
-
Ulasan Dali and Cocky Prince: Relasi Setara di Balik Perbedaan Status
-
Tren Nama Anak Sulit Dieja: Sudahkah Orang Tua Memikirkan Repotnya Kelak?
-
Ulasan Again My Life: Time Travel yang Membawa Revenge Plot ke Arah Berbeda
-
Salah Kaprah Tren Real Food: Makan Sehat Tak Harus ala Orang Barat
-
Geliat Konten Affiliate: Potret Gagalnya Pemerintah Ciptakan Lapangan Kerja
Artikel Terkait
Kolom
-
Mengapa Karhutla Gambut Berulang? Mengubah Logika Ekonomi Pembakar Lahan
-
Ketika PHK Mengintai, Jangan Sampai Kebijakan Membuat Orang Takut Berusaha
-
Hukum Mati Koruptor vs Rampas Hartanya: Mana yang Benar-Benar Bikin Jera?
-
Ketika Makan Bergizi Gratis Berubah Menjadi Ancaman: Negara Harus Bertindak
-
Sawit Bisa Dipanen dalam Hitungan Tahun, Hutan Butuh Generasi untuk Kembali
Terkini
-
Laptop Galaxy Book6 Ultra Begitu Menggoda: Layar AMOLED 120Hz, RTX 5070, dan Intel Core Ultra
-
Review Film Bapakmu Kiper: Tarkam sebagai Wajah Kecil Sepak Bola Indonesia
-
Makna Lagu 'Untuk Hati yang Terluka' Isyana, saat Hidup Tak Sesuai Harapan
-
Ulasan Dali and Cocky Prince: Relasi Setara di Balik Perbedaan Status
-
Menang Banyak Bukan Jaminan, Ini Kunci Rebut Gelar Juara Dunia MotoGP 2026!