Sepak bola Indonesia sering terlihat dari stadion besar, pemain profesional, akademi, transfer, dan sorotan media. Bapakmu Kiper agaknya jauh lebih minimalis dengan menampilkan ‘tarkam’. Dari tempat kecil inilah film buatan Ody C. Harahap mencoba melihat bagaimana mimpi sepak bola tumbuh di tengah masyarakat biasa.
Bapakmu Kiper merupakan produksi PT Entelekey Sinema Indonesia dengan durasi sekitar 90 menit. Skrip film ini ditulis Titien Wattimena bersama Aaron Hart. Fedi Nuril, Ali Fikry, Tanta Ginting, Augie Fantinus, Vidi Bulle, Djaitov Tigor, Didi Mursidi, serta sejumlah pemain lain menjadi bagian dari pemerannya. Film ini tayang di bioskop sejak 3 September 2026.
Cerita fokus pada Warto (Fedi Nuril), mantan kiper tarkam yang kini bekerja sebagai penjual ikan. Anak laki-lakinya, Ronaldhino Sujatmiko alias Dino (Ali Fikry), merupakan striker berbakat yang punya impian menembus sepak bola profesional. Hubungan keduanya sudah lama renggang. Selama tujuh tahun, Dino menyimpan kemarahan kepada ayahnya karena meyakini Warto bertanggung jawab atas kematian ibunya.
Kesempatan Dino muncul melalui Tarkam Super Cup. Kompetisi tersebut bisa menjadi jalan untuk menarik perhatian pencari bakat. Masalah datang ketika Serigala Sakti, tim kebanggaan Dino, dibajak menjelang pertandingan final. Warto melihat kondisi itu sebagai kesempatan untuk membantu anaknya. Dia kemudian membentuk kembali Serigala Tua bersama teman-teman lamanya yang kini sudah menjalani kehidupan sebagai bapak-bapak pekerja, mulai dari montir, hansip, kuli, hingga sosok-sosok dengan reputasi yang lebih berantakan. Warto sendiri kembali berdiri sebagai penjaga gawang.
Konflik Keluarga Sebagai Tulang Punggung
Film ini memang punya konflik keluarga sebagai tulang punggung, tapi dunia tarkam membuka pembacaan yang lebih luas. Para pemain Serigala Tua bukan atlet yang hidup dari sepak bola. Mereka adalah orang biasa yang kebetulan punya kemampuan, pengalaman, dan kecintaan pada sepak bola.
Dari sini ‘tarkam’ ibarat versi kecil dari sepak bola Indonesia.
Mereka bermain dengan fasilitas seadanya, sementara kehidupan tetap berjalan di luar lapangan. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, dan tubuh yang sudah jauh dari kondisi pemain muda. Ketika memasuki lapangan, semua latar belakang tersebut seolah-olah ditinggalkan sebentar. Bola membuat mereka kembali menjadi pemain.
Menurutku, gambaran seperti ini punya kedekatan yang kuat dengan realita sepak bola akar rumput Indonesia. Banyak orang mengenal sepak bola sejak lingkungan paling dekat: lapangan kampung, pertandingan antar kelurahan, turnamen lokal, atau sekadar bermain setelah pulang sekolah dan bekerja. Sebagian punya mimpi menjadi profesional, sementara sebagian lain hanya ingin bermain karena memang mencintai sepak bola.
Dino berada di antara dua dunia tersebut. Dia masih memiliki kemampuan dan kesempatan untuk mengejar level profesional. Tarkam Super Cup menjadi pintu yang memungkinkan mimpinya terlihat oleh pencari bakat. Sayangnya, pintu menuju dunia profesional itu berada di kompetisi yang jauh dari kemewahan sepak bola profesional.
Film ini juga menarik karena memperlihatkan bahwa bakat saja belum tentu cukup. Lingkungan, kesempatan, koneksi, kondisi ekonomi, dan keberadaan orang yang mau memberikan dukungan ikut menentukan seberapa jauh seseorang bisa membawa mimpinya.
Warto mungkin punya masa lalu sebagai pemain tarkam, sementara Dino mempunyai peluang untuk melangkah lebih jauh. Jarak antara keduanya memperlihatkan sebuah generasi yang bermain bola karena kecintaan dan generasi yang mulai melihat sepak bola sebagai jalan hidup.
Sayangnya, potensi sosial tersebut belum sepenuhnya digali sedalam yang aku harapkan. Bapakmu Kiper lebih tertarik menjadikan dunia tarkam sebagai sumber komedi, kekacauan, dan petualangan para pemainnya. Pilihan itu memang membuat film terasa ringan, tapi membuat beberapa persoalan menarik hanya lewat sebentar.
Kehidupan ekonomi para pemain, alasan mereka tetap bermain ketika usia sudah bertambah, posisi tarkam dalam ekosistem sepak bola Indonesia, sampai jarak antara pemain akar rumput dan sepak bola profesional sebenarnya bisa menjadi lapisan cerita yang kuat.
Meski begitu, aku tetap menikmati keputusan film menempatkan orang-orang biasa sebagai pusat dunia sepak bolanya. Bapakmu Kiper akhirnya jadi semacam perayaan kecil terhadap orang-orang yang membuat sepak bola tetap hidup jauh sebelum kamera televisi datang.
Di titik ini, hubungan Warto dan Dino menjadi semakin relevan. Warto bukan cuma membantu anaknya memenangkan pertandingan. Dia sedang berusaha membuka sebuah pintu yang dulu mungkin nggak pernah terbuka untuk dirinya sendiri.
Karena itu, aku melihat Bapakmu Kiper sebagai film tentang mimpi yang tumbuh dari tempat sederhana. Buat Sobat Yoursay pecinta sepak bola, film ini wajib ditonton. Selamat menonton.
Baca Juga
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
Review Last Seen: Thriller yang Menekan Emosi, Bukan Cuma Twist Saja
-
Review Why Did I Get Married Again?: Biasa dan Mudah Ditebak
-
Review Cold Storage: Ketika Ruang Penyimpanan Berubah Jadi Perangkap
-
Simbolisme Angel dan Lucifer, Detective Conan: Fallen Angel of the Highway
Artikel Terkait
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
Ulasan Toy Story 5: Ketika Gadget Perlahan Mengambil Alih Masa Kecil Anak
-
Review Dark Matter Season 1: Menjelajah Multiverse Demi Menyelamatkan Cinta Sejati
-
Membedah Teka-teki dan Teror Psikologis dalam Film The Whisper Man
-
Live-Action Look Back Sukses Bawa Pulang UNIMED Award dalam Gelaran Venice
Ulasan
-
Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur
-
4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
The House with Nobody in It: Rumah Kosong yang Ternyata Tidak Sepi
-
Ulasan The Detective Is Already Dead Vol 1-4: Dialog Menggigit, Eksekusi Plot Bikin Menjerit
Terkini
-
Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?
-
Sinopsis Haiwaan, Film Kriminal Dibintangi Saif Ali Khan dan Akshay Kumar
-
Capek Pantau Medsos tapi Susah Berhenti? Kenali yang Namanya Doomscrolling!
-
Menolak Lupa September Hitam: Membedah Rentetan Pelanggaran HAM Indonesia
-
Minyak Sawit Lebih Efisien, Tapi Hutan Bukan Harga yang Boleh Dikorbankan