Ketika pemberitahuan erupsi gunung api muncul di layar seluler, narasi yang menyertainya hampir selalu seragam: bahaya, kepanikan, ancaman kelumpuhan ekonomi, dan peringatan bencana. Melansir dari BeritaSatu, deretan gunung api di Nusantara kembali meletup, mulai dari Anak Krakatau di Selat Sunda hingga gunung-gunung aktif lainnya yang kini berstatus Siaga hingga Awas.
Seketika itu pula, perekonomian di sekitar lereng gunung seolah-olah di-shutdown. Wisatawan batal berkunjung, pasar lokal sepi, dan petani dilanda kecemasan. Pertanyaannya: haruskah kenaikan aktivitas vulkanik selalu diidentikkan dengan kelumpuhan total perekonomian warga lokal?
Narasi Ketakutan vs Realitas Geologis
Sebagai negara yang bertengger manis di atas Ring of Fire, Indonesia sebenarnya tidak sedang menghadapi ancaman yang tiba-tiba. Erupsi adalah siklus bernapas alami bumi kita. Namun, cara media dan pemangku kebijakan mengemas status "Siaga" kerap memicu paranoia massal.
Saat status gunung naik ke Level III (Siaga), respons spontan publik adalah menjauh sejauh-jauhnya. Padahal, secara teknis vulkanologi, status Siaga memiliki zona bahaya yang terukur jelas—misalnya radius 3 hingga 5 kilometer dari kawah. Apa yang terjadi di luar radius aman tersebut? Kehidupan sebenarnya masih bisa berjalan, dan di sinilah letak celah sudut pandang baru yang selama ini terabaikan.
Mengubah Status Siaga Menjadi Geo-Tourism
Coba bayangkan jika status Siaga tidak lagi diposisikan sebagai lampu merah yang mematikan aktivitas warga, melainkan sebagai lampu kuning yang mengaktifkan geo-tourism berbasis edukasi.
Fenomena erupsi dan pemandangan geologi aktif merupakan atraksi ilmiah yang sangat bernilai tinggi. Negara-negara seperti Islandia dan Jepang telah lama membuktikan bahwa aktivitas vulkanik yang terpantau aman dari jarak terukur justru menjadi magnet wisatawan sains dan fotografi.
Di Indonesia, zona aman di luar radius bahaya—misalnya pada jarak 8 hingga 10 kilometer—dapat dikapitalisasi menjadi titik pengamatan (observation deck) edukatif. Warga lokal tak perlu kehilangan mata pencaharian; mereka bisa beralih peran menjadi pemandu wisata edukasi vulkanik, penyedia teropong pengamatan, hingga pengelola pos edukasi bencana.
Membangun Protokol Volcano Tourism yang Terukur
Tentu saja, wacana ini bukan berarti nekat menantang bahaya demi rupiah. Keselamatan jiwa tetap menjadi panglima tertinggi. Kunci keberhasilan paradigma baru ini terletak pada keberanian Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Pemerintah Daerah untuk merumuskan protokol volcano tourism yang presisi.
Pertama, integrasi data real-time dari Badan Geologi dan PVMBG harus dipublikasikan secara ramah awam, bukan sekadar angka-angka teknis yang menakutkan. Kedua, pemetaan "Zona Pengamatan Aman" yang dilengkapi dengan sistem peringatan dini (early warning system) yang adaptif serta rute evakuasi yang jelas.
Dengan begitu, ketika aktivitas gunung meningkat, respons yang terbangun adalah kesiapsiagaan yang terorganisasi, bukan kepanikan yang melumpuhkan.
Saatnya Mengubah Cara Pandang
Gunung api adalah pasokan takdir geografis Indonesia yang tidak bisa kita ubah. Memilih untuk selalu panik dan menghentikan seluruh roda kehidupan setiap kali magma bergejolak adalah cara lama yang terbukti menggerus ketahanan ekonomi warga lereng gunung.
Sudah saatnya kita mendefinisikan ulang status Siaga. Mampukah kita mengubah narasi bencana menjadi edukasi berbasis peluang yang aman, atau kita akan terus menjadi korban dari ketakutan kita sendiri setiap kali bumi ini bernapas?
Baca Juga
-
Bukan Sekadar Buruh Murah: Standar Upskilling Jalur Magang
-
Menghidupkan AI Indonesia: Solusi Kemajuan atau Penyedot Fosil?
-
Pajak SPP-TDLN Berlaku: Jangan Buat Konsumen Jadi Kambing Hitam
-
Jangan Cuma Perampasan Aset: Siapa Tanggung Aset Sitaan yang Rusak?
-
Cantik di Luar, Krisis di Dalam: Sisi Gelap Beauty with a Purpose yang Sering Kita Abaikan
Artikel Terkait
-
Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Badan Geologi Catat Peralihan Erupsi ke Tipe Strombolian
-
Jurnalis Hilang Kontak saat Meliput Anak Krakatau, Kerabat Kisahkan Kegigihan Arie Basuki
-
Lilin Dinyalakan, Harapan Belum Padam untuk 5 Jurnalis yang Hilang di Anak Krakatau
-
PFI Jakarta Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda
-
Warga Carita Gelar Doa untuk 5 Jurnalis dan 3 Awak Kapal
Kolom
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?
-
Stop Sikap Overproud: Pejabat Bukan Raja, Kenapa Masih Disambut Berlebihan?
-
Tone Deaf Berkedok Self-Care: Tak Semua Orang Bisa Menjauh dari Bad News
-
Ironis! Guru Dipaksa Jadi "Pencicip Racun" Akibat Amputasi Logika Program MBG
-
Disebut "Jamet" hingga Difatwa Haram, Mengapa Sound Horeg Tetap Digemari?
Terkini
-
Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026
-
Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap
-
Manga You Are a Four Leaf Clover Diadaptasi ke Anime
-
Bertabur Bintang! Kim Yeon Koung, Lee Junho, dan Kazuha Resmi Jadi Staf Baru di Kian's Bizarre B&B 2
-
Bukan Hanya Romance: Bagaimana Trilogi 'Before' Memotret Realisme Hubungan