Kolom

Gunung Meletus, Ekonomi Mampus? Saatnya Ubah Stigma "Siaga" Jadi Cuan

Gunung Meletus, Ekonomi Mampus? Saatnya Ubah Stigma "Siaga" Jadi Cuan
Ilustrasi gunung berapi saat mengalami aktivitas erupsi. (Foto: Pexels/Carlos)

Ketika pemberitahuan erupsi gunung api muncul di layar seluler, narasi yang menyertainya hampir selalu seragam: bahaya, kepanikan, ancaman kelumpuhan ekonomi, dan peringatan bencana. Melansir dari BeritaSatu, deretan gunung api di Nusantara kembali meletup, mulai dari Anak Krakatau di Selat Sunda hingga gunung-gunung aktif lainnya yang kini berstatus Siaga hingga Awas.

Seketika itu pula, perekonomian di sekitar lereng gunung seolah-olah di-shutdown. Wisatawan batal berkunjung, pasar lokal sepi, dan petani dilanda kecemasan. Pertanyaannya: haruskah kenaikan aktivitas vulkanik selalu diidentikkan dengan kelumpuhan total perekonomian warga lokal?

Narasi Ketakutan vs Realitas Geologis

Sebagai negara yang bertengger manis di atas Ring of Fire, Indonesia sebenarnya tidak sedang menghadapi ancaman yang tiba-tiba. Erupsi adalah siklus bernapas alami bumi kita. Namun, cara media dan pemangku kebijakan mengemas status "Siaga" kerap memicu paranoia massal.

Saat status gunung naik ke Level III (Siaga), respons spontan publik adalah menjauh sejauh-jauhnya. Padahal, secara teknis vulkanologi, status Siaga memiliki zona bahaya yang terukur jelas—misalnya radius 3 hingga 5 kilometer dari kawah. Apa yang terjadi di luar radius aman tersebut? Kehidupan sebenarnya masih bisa berjalan, dan di sinilah letak celah sudut pandang baru yang selama ini terabaikan.

Mengubah Status Siaga Menjadi Geo-Tourism

Coba bayangkan jika status Siaga tidak lagi diposisikan sebagai lampu merah yang mematikan aktivitas warga, melainkan sebagai lampu kuning yang mengaktifkan geo-tourism berbasis edukasi.

Fenomena erupsi dan pemandangan geologi aktif merupakan atraksi ilmiah yang sangat bernilai tinggi. Negara-negara seperti Islandia dan Jepang telah lama membuktikan bahwa aktivitas vulkanik yang terpantau aman dari jarak terukur justru menjadi magnet wisatawan sains dan fotografi.

Di Indonesia, zona aman di luar radius bahaya—misalnya pada jarak 8 hingga 10 kilometer—dapat dikapitalisasi menjadi titik pengamatan (observation deck) edukatif. Warga lokal tak perlu kehilangan mata pencaharian; mereka bisa beralih peran menjadi pemandu wisata edukasi vulkanik, penyedia teropong pengamatan, hingga pengelola pos edukasi bencana.

Membangun Protokol Volcano Tourism yang Terukur

Tentu saja, wacana ini bukan berarti nekat menantang bahaya demi rupiah. Keselamatan jiwa tetap menjadi panglima tertinggi. Kunci keberhasilan paradigma baru ini terletak pada keberanian Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Pemerintah Daerah untuk merumuskan protokol volcano tourism yang presisi.

Pertama, integrasi data real-time dari Badan Geologi dan PVMBG harus dipublikasikan secara ramah awam, bukan sekadar angka-angka teknis yang menakutkan. Kedua, pemetaan "Zona Pengamatan Aman" yang dilengkapi dengan sistem peringatan dini (early warning system) yang adaptif serta rute evakuasi yang jelas.

Dengan begitu, ketika aktivitas gunung meningkat, respons yang terbangun adalah kesiapsiagaan yang terorganisasi, bukan kepanikan yang melumpuhkan.

Saatnya Mengubah Cara Pandang

Gunung api adalah pasokan takdir geografis Indonesia yang tidak bisa kita ubah. Memilih untuk selalu panik dan menghentikan seluruh roda kehidupan setiap kali magma bergejolak adalah cara lama yang terbukti menggerus ketahanan ekonomi warga lereng gunung.

Sudah saatnya kita mendefinisikan ulang status Siaga. Mampukah kita mengubah narasi bencana menjadi edukasi berbasis peluang yang aman, atau kita akan terus menjadi korban dari ketakutan kita sendiri setiap kali bumi ini bernapas?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda