Msteri akan jauh lebih menyeramkan ketika akarnya berasal dari sesuatu yang pernah dipercaya sebagai kenyataan. Itulah wilayah yang dimasuki Chronovisor. Film besutan Jack Auen dan Kevin Walker ini terinspirasi dari kisah Pellegrino Ernetti, rohaniwan Benediktin Italia yang pernah mengklaim menemukan perangkat untuk melihat peristiwa di masa lalu. Dari sejarah itu, film kemudian bergerak menuju misteri tentang pengetahuan yang dirahasiakan, arsip yang menyimpan jejak masa lalu, dan obsesi manusia untuk membongkar kebenaran.
Chronovisor merupakan debut film panjang Auen dan Walker bersama Cosmic Salon Films dengan durasi ±99 menit dan dibintangi Anne Laure Sellier sebagai Béatrice Courte, si akademisi yang terseret semakin jauh ke dalam kisah tentang perangkat lunak itu. Nicholas Tebben, Nicole Dimbrowski Risser, Alex Kolodkin, dan José Pacheco de Almeida turut mengisi jajaran pemain.
Film ini menjalani world premiere di International Film Festival Rotterdam 2026 sebelum memperoleh perilisan bioskop.
Dikisahkan Béatrice, awalnya hanya berhadapan dengan cerita lama yang terdengar mustahil. Dalam penelitiannya mengenai teori sejarah dan ingatan, dia menemukan kisah tentang Chronovisor, perangkat lunak yang konon mampu mereproduksi gambar dari berbagai titik dalam sejarah melalui layar televisi.
Penemuan itu kemudian membawanya menyusuri perpustakaan, buku, jurnal, rekaman video, dan berbagai arsip yang berkaitan dengan Ernetti. Semakin banyak bahan dikumpulkan, semakin besar pula dugaan dan teori konspirasi yang tumbuh.
Film yang Menggambarkan Batas Tipis Realita dan Konspirasi
Begitulah, Sobat Yoursay. Chronovisor nggak sebatas ngajak penonton mencari tahu apakah perangkat lunak yang dapat mengintip masa lalu sungguh dibuat. Film ini membawa kita masuk ke realita yang jauh lebih rumit: ketika sejarah, dokumen, penelitian, legenda, dan teori konspirasi mulai saling bertumpuk hingga sulit menentukan mana yang bisa dipercaya.
Semakin dalam penelitian dilakukan, semakin rapuh pula kepastian yang selama ini dianggap sebagai fakta. Sebuah arsip bisa jadi petunjuk, catatan bisa berubah jadi teka-teki, sementara teori yang terdengar mustahil perlahan jadi kayak masuk di akal.
Di titik itulah Chronovisor menemukan formulanya. Film ini nggak menjadikan ‘perangkat lunak’ objek misteri semata, melainkan ngajak penonton mempertanyakan seberapa jauh manusia berani menggali masa lalu ketika setiap jawaban membuka kemungkinan baru?
Ernetti sendiri merupakan tokoh nyata. Klaim mengenai Chronovisor juga memang pernah muncul dalam kehidupan nyata dan menjadi bagian dari kontroversi yang mengitarinya. Film kemudian mengambil fondasi tersebut lalu membangun plot fiksi di atasnya.
Bagiku, keputusan tersebut membuat posisi penonton menjadi menarik. Kita berada di tempat yang sama dengan Béatrice. Kita membaca dokumen yang sama, mengikuti petunjuk yang sama, dan menerima informasi yang sama tanpa mendapatkan kepastian mengenai validitasnya. Satu sumber membawa kita menuju sumber berikutnya. Satu nama membuka nama lain. Sebuah bukti bisa terlihat meyakinkan sampai informasi berikutnya membuatnya kembali meragukan.
Chronovisor kemudian memperlihatkan bahwa teori konspirasi seringkali tumbuh dari celah yang ditinggalkan oleh ketidakpastian. Ketika bukti belum cukup kuat, manusia punya kecenderungan mengisi kekosongan tersebut dengan kemungkinan. Semakin banyak potongan informasi ditemukan, semakin mudah pula teori bak jadi kebenaran, terutama ketika potongan-potongan itu tersusun menjadi cerita yang tampak masuk akal.
Hal menariknya, film ini nggak buru-buru membongkar semuanya. Justru ketidakjelasan tersebut dipelihara melalui buku, arsip, rekaman, dan penelitian Béatrice.
Karena itu, ketegangan Chronovisor berkembang melalui informasi di sepanjang film. Filmnya, membuat aktivitas membaca jadi kayak investigasi. Béatrice semakin dalam memasuki penelitian, sementara penonton ikut kehilangan pijakan mengenai bagian mana yang bisa dipercaya.
Film ini nunjukin kebenaran dan teori konspirasi kadang memiliki bentuk yang hampir serupa. Keduanya sama-sama bisa dibangun dari dokumen, kesaksian, nama, sejarah, dan potongan bukti.
Chronovisor akhirnya bukan cuma film mengenai mesin yang konon mampu melihat masa lalu. Film ini merupakan cerita tentang manusia yang begitu ingin mengetahui kebenaran sampai proses pencariannya sendiri mulai mengubah caranya memandang realita. Sobat Yoursay tertarik nonton?
Baca Juga
-
Review Why Did I Get Married Again?: Biasa dan Mudah Ditebak
-
Review Cold Storage: Ketika Ruang Penyimpanan Berubah Jadi Perangkap
-
Simbolisme Angel dan Lucifer, Detective Conan: Fallen Angel of the Highway
-
Review Hope: Ketika Ketidaktahuan Manusia Jadi Kekacauan yang Mematikan
-
Review Autopsy: Dead Body Can Talk, Saat yang Mati Jadi Saksi Paling Jujur
Artikel Terkait
Ulasan
-
Bukan Hanya Romance: Bagaimana Trilogi 'Before' Memotret Realisme Hubungan
-
Spirit Fingers: Menemukan Warna Diri di Tengah Ramainya Perbandingan
-
Habis Rp100 Ribuan, Puas Gak Ya Makan Kimchi Karubi Nikudon di Kimukatsu? Ini Pengalaman Aslinya!
-
Through the Darkness: Mengurai Criminal Profiling dan Psikologi Kejahatan
-
5 Pesan Moral Bisa Dipelajari dari Karakter Je Moon-jae di Drakor Mousetrap
Terkini
-
Bye-Bye Muka Tomat! Ini 4 Soothing Gel Mugwort Khusus Kulit Berminyak, Cuma 30 Ribuan
-
Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026
-
Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap
-
Manga You Are a Four Leaf Clover Diadaptasi ke Anime
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?