Enam belas tahun setelah film Why Did I Get Married Too?, Tyler Perry kembali membawa rombongan pasangan lamanya ke layar melalui film Why Did I Get Married Again?. Kali ini latarnya jauh lebih mewah: Lake Como, Italia, lengkap dengan pesta, rumah cantik, pakaian formal, dan pernikahan. Film ini dirilis secara global di Netflix pada 9 September 2026.
Film ini diproduksi Tyler Perry Studios, dengan Perry sebagai penulis, sutradara, sekaligus produser bersama Angi Bones dan Tony Strickland. Pemerannya kembali diisi Tyler Perry sebagai Terry, Jill Scott sebagai Sheila, Richard T. Jones sebagai Mike, Tasha Smith sebagai Angela, Michael Jai White sebagai Marcus, Lamman Rucker sebagai Troy, dan Sharon Leal sebagai Diane.
Taraji P. Henson muncul pula sebagai Roselyn, sementara generasi mudanya diperankan Armani Greer sebagai Jasmine, Everett Osborne sebagai Wesley, Da’Vinchi sebagai Marcus Jr., Laya Deleon Hayes sebagai Kenya, Jaden Michael sebagai T.J., Charles L. Smith II sebagai Denver, Derrick A. King sebagai Nick, dan Sydney Winbush sebagai Regina.
Ceritanya kini tertuju pada Jasmine, putri Marcus dan Angela, yang bersiap menikah dengan Wesley, putra Roselyn. Pernikahan mereka membawa keluarga dan teman-teman lama berkumpul di Lake Como. Terry dan Diane datang, Sheila dan Troy ikut hadir, sementara Mike kembali masuk ke lingkaran yang sudah memiliki sejarah panjang dengannya. Anak-anak dari pasangan lama pun ikut berada dalam perayaan itu. Dari awal, suasana pernikahan sudah seperti tempat berkumpulnya koper dan rahasia sekaligus.
Semakin lama mereka bersama, semakin banyak persoalan lama dan baru yang muncul. Jasmine dan Wesley ternyata menyimpan persoalan dalam hubungan mereka sendiri. Wesley pernah berselingkuh sebelum melamar Jasmine, lalu Jasmine membalas perselingkuhan tersebut dan berakhir membawa masalah kesehatan seksual.
Film yang Membicarakan Trauma Generasi
Pada dasarnya pola plot semacam ini cukup disayangkan karena pengalaman mereka ternyata menggemakan kesalahan yang pernah dilakukan generasi sebelumnya. Para orang tua akhirnya harus melihat bagaimana perilaku mereka sendiri dalam kehidupan anak-anak mereka.
Kendati begitu, film ini punya bahan cerita yang menarik. Film ini ingin membicarakan trauma antargenerasi, contoh buruk dalam hubungan, kesalahan orang tua, dan bagaimana anak-anak menyerap semua itu tanpa perlu diberi pelajaran secara formal.
Sayangnya, sutradara Tyler Perry tampak kurang percaya pada kemampuan penonton untuk menangkap gagasan tersebut.
Setiap kali sebuah konflik muncul, film buru-buru menerangkannya. Karakter menjelaskan perasaan mereka. Mereka mengurai masa lalu, menyebut kesalahan yang pernah dilakukan. Mereka membicarakan pengkhianatan, pernikahan, keluarga, dan trauma dengan cara yang sangat langsung. Ketika ada adegan yang sebenarnya sudah memberikan cukup petunjuk, dialog kembali muncul untuk menggarisbawahi maksudnya.
Maka dari itu, dalam film. konsep show, don't tell sebenarnya sangat penting.
Drama keluarga sebenarnya punya daya tarik besar ketika emosi muncul dari tindakan kecil. Tatapan yang berubah setelah mendengar pengakuan. Suami yang mendadak diam ketika melihat anaknya mengulangi kesalahan yang sama. Seorang ibu yang ingin menasihati anaknya, lalu teringat dirinya pernah melakukan hal serupa. Bahkan set meja makan yang mendadak sunyi bisa membawa beban emosional lebih besar ketimbang dialog panjang tentang penyesalan. Dan film Why Did I Get Married Again? sering melewatkan kesempatan semacam itu.
Pada dasarnya film ini sudah punya sejarah karakter yang panjang. Penonton bahkan sudah mengenal sebagian besar orang yang sedang mereka lihat. Karena itu, seharusnya Tyler Perry bisa lebih percaya pada ekspresi, gestur, konflik kecil, dan konsekuensi dari keputusan para karakter. Alih-alih terus menjelaskan makna sebuah adegan, film bisa membiarkan penonton menyusun sendiri potongan-potongannya.
Iya. Karakter generasi muda dalam film ini sudah tumbuh dengan melihat hubungan orang tua mereka. Mereka sudah menyaksikan pertengkaran, pengkhianatan, pengampunan, dan cara orang dewasa menghadapi konsekuensi. Ketika mereka kemudian membuat kesalahan serupa, penonton sebenarnya sudah bisa memahami hubungan sebab-akibatnya.
Film ini hanya perlu menunjukkan cerminan itu. Ya, mau gimana lagi. Itulah kelemahan terbesar Why Did I Get Married Again?. Filmnya punya tema yang cukup dewasa, pemain yang punya sejarah panjang dengan karakter masing-masing, serta premis yang membuka drama keluarga yang lebih dalam. Eksekusinya malah kayak lagi menyuguhkan presentasi tentang pesan moralnya sendiri.
Sobat Yoursay tertarik nonton? Langsung cek Netflix, ya. Selamat menonton.
Baca Juga
-
Review Cold Storage: Ketika Ruang Penyimpanan Berubah Jadi Perangkap
-
Simbolisme Angel dan Lucifer, Detective Conan: Fallen Angel of the Highway
-
Review Hope: Ketika Ketidaktahuan Manusia Jadi Kekacauan yang Mematikan
-
Review Chronovisor: Saat Kebenaran dan Teori Konspirasi Sulit Dibedakan
-
Review Autopsy: Dead Body Can Talk, Saat yang Mati Jadi Saksi Paling Jujur
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Cold Storage: Ketika Ruang Penyimpanan Berubah Jadi Perangkap
-
Menjelajahi Retorika dan Diplomasi Politik Perempuan dalam Film The Odyssey
-
Jatuh Cinta Seperti di Film-Film: Ketika Cinta Nyata Tak Selalu Seindah Skenario
-
Simbolisme Angel dan Lucifer, Detective Conan: Fallen Angel of the Highway
-
Buku Islam & Kebangsaan: Menemukan Wajah Islam dalam Rumah Kebangsaan
Terkini
-
Tayang 20 September, RuPaul Pimpin Komedi Drag Kacau di Stop! That! Train!
-
4 Sampo Amino Acid Terbaik untuk Rambut Sehat, Lembap, dan Kuat
-
Bukan Sekadar Buruh Murah: Standar Upskilling Jalur Magang
-
Jangan Lupa Bahagia: Tamparan Realita Hidup Generasi Sandwich
-
Sinopsis Fragments of Truth, Drama China Terbaru Huang Jun Jie di Youku