Surili Jawa dan rumah utamanya hutan sebagai tempat mencari makanan, berlindung, berkembang biak, dan menjalani seluruh siklus hidupnya. Surili Jawa atau Presbytis comata merupakan primata endemik Pulau Jawa yang hidup bergantung pada ekosistem hutan.
Primata seperti surili Jawa sebagai spesies penting dalam ekosistem hutan hujan tropis Jawa dan menghadapi ancaman serius akibat deforestasi, perburuan, serta fragmentasi habitat.
Kalau habitat surili terus menyusut, apa yang sebenarnya terjadi pada hutan? Surili Jawa punya peran penting di hutan, primata ini sebagai arboreal atau banyak melakukan aktivitas di lapisan tengah hingga atas pepohonan. Habitatnya mencakup kawasan hutan dengan vegetasi yang menyediakan sumber makanan dan tempat berlindung.
Mereka bergantung pada pepohonan, keberadaan surili sangat berkaitan dengan kondisi hutan. Ketika pohon ditebang, kawasan terpecah, atau aktivitas manusia semakin masuk ke habitatnya, ruang hidup surili ikut menyempit.
Sebuah studi yang menggunakan pendekatan machine learning menemukan bahwa habitat potensial surili di Jawa telah berkurang lebih dari 96 persen, dari sekitar 43.273 kilometer persegi menjadi hanya sekitar 1.608 kilometer persegi berdasarkan data yang digunakan penelitian tersebut.
Angka itu tidak berarti seluruh habitat surili saat ini benar-benar hilang. Namun, angka tersebut memperlihatkan tekanan besar yang terjadi terhadap ruang hidup spesies ini.
Bayangkan sebuah hutan yang dahulu membentang luas. Surili dapat berpindah dari satu pohon ke pohon lain untuk mencari makanan dan menghindari ancaman. Kemudian, sebagian kawasan dibuka untuk jalan, pertanian, perkebunan, permukiman, atau aktivitas lainnya.
Hutan yang sebelumnya menyatu berubah menjadi potongan-potongan kecil. Inilah yang disebut fragmentasi habitat. Bagi primata arboreal seperti surili, fragmentasi dapat menjadi persoalan serius karena pergerakannya sangat bergantung pada tutupan vegetasi. Jarak antarkawasan hutan yang terlalu jauh dapat menyulitkan satwa berpindah.
Penelitian terbaru 2026 mengenai ekologi dan konservasi surili Jawa juga menegaskan bahwa deforestasi dan fragmentasi habitat menjadi ancaman utama bagi spesies tersebut. Peneliti bahkan memperingatkan perlunya tindakan konservasi segera untuk mencegah kepunahan lokal.
Apa peran surili bagi Lingkungan? Surili bukan satu-satunya satwa yang menentukan keseimbangan hutan. Namun, sebagai primata pemakan tumbuhan dan buah, aktivitas makannya berhubungan dengan dinamika vegetasi dan penyebaran biji.
Ketika primata memakan buah, sebagian biji dapat berpindah melalui pergerakannya dan kemudian dikeluarkan di lokasi lain. Proses tersebut merupakan salah satu mekanisme penyebaran biji yang membantu regenerasi tumbuhan.
Artinya, keberadaan surili menjadi bagian dari jaringan ekologis yang lebih besar. Jika populasinya menurun drastis, hubungan ekologis tersebut juga berpotensi mengalami perubahan.
Kita tidak bisa mengatakan bahwa hilangnya surili secara otomatis akan membuat hutan mati. Namun, semakin banyak spesies yang hilang dari sebuah ekosistem, semakin banyak pula hubungan ekologis yang berpotensi terganggu.
Ancaman terhadap surili tidak hanya berasal dari hilangnya pepohonan. Buku terbitan BRIN mengenai surili mencatat sejumlah tekanan, seperti degradasi hutan, pembalakan, pengambilan kayu bakar, perburuan, jerat, serta konflik ketika satwa dianggap mengganggu tanaman perkebunan masyarakat.
Surili Jawa juga telah dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 dan tercantum dalam CITES Appendix II. Perlindungan hukum penting, tetapi aturan saja tidak cukup.
Jika habitat terus berkurang, satwa tetap akan menghadapi persoalan meskipun statusnya dilindungi. Karena itu, konservasi surili harus dimulai dari perlindungan rumahnya yaitu hutan.
Ada alasan mengapa satwa seperti surili penting dipertahankan. Ketika sebuah kawasan masih mampu menyediakan ruang hidup bagi primata endemik, hal itu menunjukkan bahwa sebagian fungsi ekologis kawasan tersebut masih bertahan.
Surili membutuhkan pepohonan, tumbuhan pakan, dan lingkungan yang relatif aman dari gangguan manusia. Untuk menjaga habitat surili berarti mempertahankan vegetasi dan ruang hidup yang juga digunakan oleh berbagai organisme lain.
Kawasan hutan yang menjadi habitat satwa endemik juga memiliki nilai keanekaragaman hayati yang tinggi. Data konservasi pemerintah memasukkan surili sebagai salah satu primata endemik penting di kawasan Jawa yang perlu mendapat perhatian konservasi.
Melindungi surili bukan berarti manusia tidak boleh menyentuh kawasan hutan sama sekali. Manusia tetap membutuhkan ruang untuk hidup, bekerja, dan membangun. Masalahnya muncul ketika pembangunan dilakukan tanpa mempertimbangkan batas ekologis.
Jalan, perkebunan, permukiman, dan berbagai aktivitas ekonomi dapat memecah habitat apabila tidak direncanakan dengan baik. Sebuah pendekatan konservasi perlu mempertemukan kebutuhan manusia dengan kebutuhan satwa.
Kawasan habitat penting harus dipertahankan. Hutan yang terfragmentasi perlu dipulihkan jika memungkinkan. Koridor vegetasi dapat dikembangkan agar populasi yang terpisah memiliki peluang untuk terhubung kembali.
Pemantauan populasi juga penting karena kita tidak bisa melindungi sesuatu yang tidak diketahui kondisinya. Surili Jawa mungkin tidak sepopuler orangutan, harimau, atau badak. Wajahnya juga mungkin jarang muncul di layar televisi atau media sosial.
Namun, kelangkaan dari perhatian manusia bukan berarti kecilnya peran satwa tersebut dalam ekosistem. Surili adalah bagian dari kekayaan hayati Jawa yang telah berevolusi bersama hutan dalam waktu yang sangat panjang.
Ketika habitatnya hilang, kita bukan hanya kehilangan tempat tinggal seekor primata. Kita juga kehilangan salah satu bagian dari jaringan kehidupan yang membentuk hutan.
Pada akhirnya, menyelamatkan surili Jawa bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies dari kepunahan. Ini tentang mempertahankan hutan agar tetap memiliki kehidupan yang lengkap.
Sebab, ketika satu demi satu satwa pergi karena habitatnya menghilang, mungkin yang tersisa bagi manusia hanyalah hutan yang terlihat hijau dari kejauhan, tetapi semakin miskin kehidupan di dalamnya.
Baca Juga
-
Serangga Hutan Terancam Karhutla padahal Punya Dampak bagi Ekosistem
-
Mengenal Koridor Gajah: Jalur Vital Ekosistem Hutan yang Terancam Fragmentasi
-
Kupu-Kupu Jarang Terlihat, Apa yang Terjadi pada Lingkungan?
-
Dampak Bahaya Tone Deaf, saat Ucapan Merusak Empati dan Pertemanan
-
Nasib Hutan Papua jika Burung Cenderawasih Kehilangan Habitat dan Pohon Pakan
Artikel Terkait
-
Serangga Hutan Terancam Karhutla padahal Punya Dampak bagi Ekosistem
-
Ria Ricis Sebut Karhutla Wahana Kidzania: Etika Menguap Demi Konten?
-
Mengapa Penurunan Populasi Siamang Bisa Ancam Regenerasi Hutan Sumatra?
-
Gugur Saat Padamkan Karhutla di Seruyan, Kapten Nurhafiz Dimakamkan Secara Militer
-
Penelitian Ungkap Peran Kelelawar dan Burung dalam Pemulihan Ekosistem Krakatau
Kolom
-
Krama Alus Bukan Bahasa Museum: Mengapa Orang Jawa Harus Membiasakannya?
-
Taktik Politik Kebisingan: Saat Skandal Sengaja Ditumpuk agar Publik Lupa
-
Sisi Gelap Tren Renting Generation: Hemat di Awal, Boncos di Akhir?
-
Fenomena Chat saat Butuh: Teman atau Sekadar Tempat Mencari Bantuan?
-
Komedi Negara Hukum: Mengapa Urusan Ijazah Selalu Berakhir Jadi Lelucon?
Terkini
-
Comeback Pertama Sejak Debut, UNCHILD Unjuk Sisi Unik di Lagu TiNG TiNG
-
Bebas Kemerahan! 5 Soothing Sheet Mask Korea Penyelamat Kulit
-
Ulasan Film The Imaginary: Ketika Imajinasi Menjadi Tempat untuk Bertahan
-
4 Face Mist Hypochlorous Acid Andalan Buat Cegah Kulit Gampang Jerawat
-
Petualangan Mahasiswa Menyelamatkan Nusantara dalam Novel Melangkah