Sekar Anindyah Lamase | Agustian Pamungkas
Ilustrasi buzzer. (Unsplash/sammywilliams)
Agustian Pamungkas

Jagat media sosial Indonesia belakangan ini tengah diramaikan oleh kemunculan gerakan tagar #CuekinBuzzer. Kampanye digital ini mendadak viral setelah dipelopori dan disuarakan secara masif oleh kreator konten ternama, Windah Basudara, bersama sejumlah figur publik lainnya.

Inti dari gerakan ini sebenarnya sangat sederhana namun menohok. Warganet diajak untuk berhenti meladeni, mengomentari, atau menyebarkan ulang unggahan dari akun-akun pendengung yang sengaja memancing emosi.

Selama ini, ruang diskusi digital kita memang sudah terlalu kotor oleh ulah para buzzer bayaran. Mereka bekerja secara sistematis untuk memanipulasi opini publik, menyebar hoaks, hingga mengalihkan isu penting yang sedang merugikan rakyat.

Ketika rakyat sedang menyoroti kebijakan pemerintah yang bermasalah atau kasus korupsi elite, akun-akun ini langsung membanjiri linimasa dengan narasi tandingan. Tujuannya jelas, yaitu memecah belah fokus masyarakat agar isu utamanya tenggelam begitu saja.

Sayangnya, selama bertahun-tahun kita sering kali terjebak masuk ke dalam perangkap mereka tanpa sadar. Niat hati ingin meluruskan fakta dengan cara mendebat atau menghujat kolom komentar buzzer, eh justru malah membuat unggahan mereka makin naik daun.

Di sinilah letak kecerdasan dari gerakan #CuekinBuzzer yang mengadopsi taktik komunikasi digital bernama Janonisme asal Brasil. Gerakan ini menyadarkan kita bahwa melawan mesin propaganda tidak bisa lagi memakai emosi, melainkan harus memakai logika algoritma.

Memahami Cara Kerja Algoritma yang Sering Kita Lupakan

Mengapa taktik mencuekin atau mengabaikan ini dinilai jauh lebih mematikan dibandingkan menyerang balik? Jawabannya terletak pada cara kerja sistem algoritma di berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, maupun X.

Algoritma media sosial pada dasarnya tidak pernah peduli apakah sebuah komentar berisi dukungan atau caci maki. Bagi sistem mesin, setiap klik, balasan komentar, hingga tangkapan layar yang dibagikan ulang ke grup WhatsApp tetap dihitung sebagai interaksi tinggi.

Semakin ramai netizen menghujat postingan buzzer, semakin kuat pula sinyal yang diterima algoritma bahwa konten tersebut menarik dan layak disebarkan ke lebih banyak orang. Artinya, kemarahan kita justru menjadi bahan bakar gratis yang membesarkan jangkauan propaganda mereka.

Sebaliknya, ketika kita menerapkan prinsip zero engagement dengan langsung menggeser layar tanpa memberi reaksi apa pun, sistem akan membaca unggahan tersebut sebagai konten sampah yang tidak relevan. Perlahan tapi pasti, akun-akun provokatif itu akan kehilangan panggung dan mati secara algoritma.

Menurut opini saya pribadi, kemunculan gerakan #CuekinBuzzer ini adalah tamparan keras sekaligus bentuk perlawanan rakyat yang paling elegan di era digital. Ketika jalur kritik formal sering kali dibungkam dan ruang siber dipenuhi pendengung bayaran, kesadaran kolektif netizen menjadi benteng pertahanan terakhir kita.

Saya sangat setuju bahwa energi dan kuota internet kita terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk berdebat kusir dengan akun anonim yang dibayar. Mengabaikan mereka bukan berarti kita kalah atau bersikap apatis terhadap kondisi negara, melainkan bentuk kecerdasan dalam memilih medan pertempuran.

Mengalihkan Panggung ke Isu yang Lebih Penting

Gerakan #CuekinBuzzer ini tentu tidak berhenti hanya pada aksi pasif berupa menggeser layar ponsel semata. Langkah lanjutan yang jauh lebih krusial adalah mengalihkan seluruh perhatian dan interaksi kita kepada konten-konten yang menyuarakan kepentingan publik.

Daripada meramaikan kolom komentar akun provokator, jauh lebih bermanfaat jika kita membanjiri unggahan seputar isu lingkungan, transparansi anggaran negara, atau kritik kebijakan yang berbasis data. Dukungan berupa tanda suka dan komentar pada konten edukatif akan memaksa algoritma untuk lebih sering memunculkan isu-isu substansial tersebut di linimasa orang lain.

Selain itu, kita juga perlu meningkatkan literasi digital agar tidak gampang terprovokasi oleh judul-judul yang memancing kemarahan sesaat. Biasakan untuk selalu mengecek kredibilitas akun sebelum memutuskan untuk ikut berkomentar atau membagikan sebuah informasi.

Pada akhirnya, ruang digital kita adalah cerminan dari bagaimana cara kita merespons setiap informasi yang lewat di depan mata. Jika jutaan pengguna media sosial di Indonesia kompak menerapkan gerakan #CuekinBuzzer ini secara konsisten, bisnis jasa pendengung opini perlahan akan kehilangan taringnya.

Mari kita rebut kembali kewarasan ruang publik kita dengan cara berhenti memberi makan para pembuat gaduh. Sebab, hukuman paling menyakitkan bagi seorang buzzer bukanlah cacian, melainkan keheningan total tanpa ada satu pun orang yang peduli.