Suka muncul perasaan negatif seperti iri, resah, bahkan takut saat bermain media sosial? Atau bahkan suka insecure karena follower media sosiallmu sedikit? Ditambah lagi suka kesal karena tidak ada yang memberi tanggapan pada setiap postinganmu? Maka itu tandanya kamu harus segera melakukan social media detox.
Apa itu social media detox? Social media detox adalah suatu kondisi dimana seseorang memutuskan untuk membatasi dirinya berinteraksi melalui media sosialnya. Contohnya dengan mulai mengurangi atau bahkan berhenti sepenuhnya membuka akun media sosialnya.
Sebenarnya istilah social media detox terlahir dari pendahulunya digital detox. Dimana pengertiannya kurang lebih sama.
Dilansir dari berbagai sumber, menurut penelitian, seseorang yang bermain media sosialnya punya resiko terkena gangguan kecemasan. Bahkan sebagian para peneliti mengungkapkan bahwa bermain media sosial bisa menimbulkan efek seperti halnya penggunaan zat adiktif.
Situasi tersebut dikenal dengan istilah FOMO atau Fear of Missing Out, dimana seseorang cemas atau bahkan takut ketinggalan info terbaru. Sehingganya ia terus menerus mengecek notifikasi dari media sosialnya.
Terdengar konyol namun begitulah fakta dibaliknya. Jika dibiarkan terus menerus tentu ini akan menjadi masalah kejiwaan.
Dilihat dari beberapa kondisi di atas, maka social media detox sangat penting untuk dilakukan. Lalu seperti apa manfaatnya? Simak selengkapnya.
1. Lebih Menghargai Diri Sendiri
Saat orang bermain media sosialnya, bukan hal yang mustahil ia akan melihat postingan temannya tentang kesuksesan mereka. Secara tidak sadar, mungkin ada sebagian yang mulai membandingkan dirinya dengan temannya itu.
Kemudian ia akan melupakan kesuksesan yang telah ia raih. Ia merasa temannya lebih baik darinya. Tentu hal ini bukanlah pikiran yang positif.
Dengan melakukan social media detox, seseorang akan mulai fokus pada dirinya. Ia tidak akan teralih perhatiannya dari yang namanya rasa insecure.
2. Mengurangi Kecemasan
Jika postingan yang ada pada media sosial seseorang mulai terasa sering membuatnya cemas maka ada baiknya ia segera melakukan social media detox. Agar ia bisa menata kembali pikirannya dan bisa mengurangi kecemasan yang berlebihan.
3. Kembali Terhubung Dengan Orang-orang
Tujuan awal mula diciptakan media sosial agar orang-orang tetap bisa terhubung dengan yang lainnya meski sedang berjauhan. Sayangnya, efek tak terduga dengan adanya media sosial malah menjadikan manusia mengabaikan pentingnya komunikasi secara langsung.
Mungkin ada yang pernah menemui seseorang yang sedang berkumpul tapi masing-masing malah sibuk dengan hp-nya bukan?
Dengan mengurangi penggunaan media sosial, kita akan kembali terhubung dengan yang lainnya secara langsung.
4. Dapat Mengontrol FOMO
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, dengan mengontrol penggunaan media sosial akan dapat mengontrol FOMO.
5. Lebih Menghargai Momen
Momen bersama keluarga atau orang-orang terkasih tentu akan sangat indah tanpa harus sibuk atau bahkan ketergantungan dengan media sosial. Kita akan jauh lebih menghargai momen-momen itu.
6. Lebih Bisa Produktif
Pernahkah kamu berencana melakukan sesuatu tapi malah ditunda karena keasikan main media sosial? Nah dengan membatasinya, kamu bisa jauh lebih produktif.
Nah itulah manfaat yang bisa didapatkan dengan melakukan social media detox. Semoga bermanfaat.
Sumber:
- https://msutoday.msu.edu/news/2019/excessive-social-media-use-is-comparable-to-drug-addiction
- https://www.parenta.com/2017/05/05/7-amazing-benefits-of-doing-a-social-media-detox/
- https://scopeblog.stanford.edu/2014/10/03/how-social-media-can-affect-your-mood/
- https://www.pewresearch.org/internet/2015/01/15/psychological-stress-and-social-media-use-2/
Baca Juga
-
Bikin Heboh! Facebook, WhatsApp, dan Instagram Sempat Tumbang di Seluruh Dunia
-
4 Manfaat Utama Mengapa Harus Mulai Mempertimbangkan Penggunaan E-Wallet
-
Terlalu Sering Membentak Anak? Pahami 3 Bahaya di Baliknya!
-
Apa Itu Brain Exercise? Ini Manfaat dan Contoh Gerakannya
-
Tidak Perlu Cemas, Inilah yang Harus Dilakukan Pada Bayi Cegukan
Artikel Terkait
-
Mengenal Mudi, Edukator Konservasi Muda yang Ubah Scroll Jadi Aksi Lingkungan
-
Narrative Backlash! Pakar: Unggahan Lama Prabowo Soal Rupiah Kini Jadi Senjata Makan Tuan
-
Menyoal Budaya Flexing di Media Sosial: Takut Miskin atau Takut Tak Terlihat Sukses?
-
Ancaman Cyberbullying dan Pornografi Meningkat, Puteri Indonesia Dukung PP TUNAS
-
Sisi Gelap Shoppertainment yang Mengubah Netizen Jadi Kaum Gila Belanja
Lifestyle
-
Bye-Bye Mata Panda! 4 Eye Cream Korea Ini Bikin Area Mata Makin Cerah
-
5 HP Samsung dengan Kamera 0.5 Paling Worth It Tahun 2026,Bikin Konten Estetik Makin Profesional
-
Redmi Buds 6: TWS Murah Xiaomi dengan Fitur Premium dan Suara Menggelegar
-
Tinggal Semprot! 5 Rekomendasi Sunscreen Spray Pria untuk Tangkal Sinar UV
-
4 Rekomendasi HP Midrange Kamera Malam Terbaik 2026,Cocok untuk City Light dan Night Photography
Terkini
-
Detoks Digital: Cara Jitu Menghilangkan Kecemasan Akibat Godaan Promo Online
-
Ketika Kampus Negeri Tak Lagi Ramah bagi Kelas Menengah
-
Ironi Subsidi Silang: Saat Stabilitas Negara Dibayar dengan Air Mata Rakyat Kecil
-
Sinopsis Two Faces of Thatri, Drama Thailand Terbaru Pon Nawasch di Netflix
-
Fenomena Pernikahan Artis di TV dan Prioritas yang Patut Dipertanyakan